Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
66. Tes DNA


__ADS_3

Setelah dua jam pingsan, asisten rumah tangga yang dikirim dari rumah orang tuanya pun datang. Pintu rumah dalam keadaan tidak terkunci saat wanita paruh baya itu datang. Dia langsung masuk dan mencari keberadaan majikannya.


Betapa terkejutnya ia ketika didapatinya sang majikan dalam keadaan pingsan dan bersimbah darah. Asisten rumah tangga itu pun menghubungi tuan besarnya.


Kia segera dilarikan ke rumah sakit, begitu asisten rumah tangganya selesai menghubungi orang tua Kia. Kia dipindahkan ke ruang operasi setelah diperiksa oleh dokter jaga di UGD. Penda rahan yang banyak membuat bayi Kia tidak tertolong lagi, sehingga harus segera dioperasi.


Brandon yang saat itu sedang ada meeting dengan beberapa manajer di perusahaannya, tidak bisa langsung pergi ke rumah sakit. Sehingga satu jam setelah Kia masuk rumah sakit baru bisa mendatangi rumah sakit.


"Suami macam apa kamu? Membiarkan istrinya yang hamil sendiri di rumah tanpa asisten rumah tangga." cerca pak Gunadi kesal.


"Sudah kamu biarkan anak kami sendiri, begitu mendapat kabar istri di rumah sakit tidak langsung datang! Apa urusan pekerjaan lebih penting dari pada nyawa istrimu sendiri, hah?" bentak pak Gunadi kemudian dengan emosi yang memuncak.


"Maaf, Pi! Saya tidak bisa melimpahkan tanggung jawab pada yang lain. Saat ini, Rommy yang biasa membantu saya sedang cuti karena istrinya melahirkan," jelas Brandon dengan wajah datar, tidak merasa bersalah sama sekali.


Saat ini mereka berada di depan ruang operasi. Lampu di atas pintu masih menyala tanda operasi masih belum selesai.


"Apa begitu tidak berharganya anak kami, sehingga kamu tidak bisa melihatnya?" tanya mami Kia.


"Kalau saja dia tidak menjebakku dengan cara licik, aku akan sedikit menoleh padanya. Sayangnya, cara dia untuk mengikatku sangat licik," sahut Brandon penuh dengan cibiran.

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Janin yang dikandungnya bukan darah dagingku!" jawab Brandon datar.


Betapa terkejutnya pasangan suami-istri itu. Merasa tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh menantunya.


"Jadi untuk apa aku menyayanginya sedang dirinya sendiri tidak menyayangiku? Kalau dia menyayangiku tak akan dia berikan mahkotanya pada laki-laki lain. Seharusnya kalian mengetahui itu. Kalau dia mengikatku hanya untuk harta, kalian salah besar. Perusahaan itu bukan milikku, aku hanya pekerja yang menerima upah. Oleh karena itulah aku tidak bisa meninggalkan perusahaan seenaknya sendiri." Brandon kembali bersuara dengan panjang lebar.


Orang tua Kia kembali terkejut dengan pengakuan Brandon.


"Kamu bohong bukan? Agar bisa lepas dari tanggung jawab. Kami akan menuntut kamu karena telah abai pada anak dan istri." teriak pak Gunadi.


"Silahkan!"


"Keluarga ibu Zaskia?" tanya dokter itu.


"Kami orang tuanya, Dok!" ucap orang tua Kia bersamaan sambil mendekati dokter tersebut.


"Saya suaminya, Dok! Boleh saya tahu bagaimana keadaan istri saya?" sahut Brandon berdiri di depan dokter itu.

__ADS_1


"Ibu Zaskia terlambat dibawa ke rumah sakit. Dia terlalu banyak mengeluarkan darah sehingga saat ini harus segera tambah darah. Apakah ada yang memiliki golongan darah yang sama?" jelas dokter.


"Untuk janin yang dikandungnya tidak bisa kami selamatkan karena saat tiba tadi janinnya sudah tidak bernyawa lagi." imbuhnya.


"Sekarang keadaan anak kami bagaimana, Dok?" tanya mami Kia dengan air mata bercucuran.


"Masih dalam pengawasan. Mungkin sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang ICU jika belum sadar juga."


Setelah mendengar jawaban dari dokter, Brandon mengajak dokter itu untuk berbicara berdua saja.


"Dok, apakah janin yang sudah meninggal bisa dilakukan tes DNA?" tanya Brandon begitu mereka sudah berada di tempat yang sepi dan jauh dari mertuanya.


Dokter tersebut terkejut mendengar pertanyaan itu.


"Bisa jika mendapat ijin dari keluarga."


"Saya ingin tes DNA, apakah benar itu darah daging saya atau bukan. Jadi saya mohon bantuan dokter," pinta Brandon dengan raut wajah memohon.


Melihat dokter itu diam saja, akhirnya Brandon menawarkan bayaran yang fantastis.

__ADS_1


"Baiklah!" ucap dokter itu akhirnya.


"Terima kasih, Dok!" Brandon menyalami tangan dokter tersebut kemudian meninggalkan tempat itu.


__ADS_2