
Gita terdiam mendengar saran dari Brandon. Dia tidak bisa mengambil keputusan besar ini secara mendadak. Sejak kecil diajari berbagi dan ikhlas menerima berapa pun rejeki yang diterima, tidak membuat Gita menjadi orang yang tamak dan serakah. Dia selalu berpikir, bahwa setiap rejeki yang diterimanya ada hak milik orang lain di dalamnya.
"Baiklah, Bang! Kapan aku bisa menemui kak Ary nanti aku infokan." jawab Gita pasrah.
"Kamu tidak ingin menemaniku jalan-jalan di kota ini?" goda Brandon dengan senyum terkulum.
"Maaf, Bang. Gita tidak bisa kemana-mana, banyak tugas yang harus dikerjakan. Lagian sebentar lagi masa magangku habis, artinya aku harus mempersiapkan diri untuk persiapan wisuda. Jadi, tidak ada waktu untuk berjalan-jalan." tolak Gita secara halus.
Gita sengaja menolak ajakan Brandon. Itu semua dilakukan untuk menjaga hatinya agar tidak kembali terluka. Luka itu sudah mulai mengering walaupun rasa cintanya belum bisa pudar.
"Sebentar saja, Gita. Ayuklah, di dekat sini saja! Ke mall juga gak apa-apa, yang penting kita jalan berdua." bujuk Brandon dengan wajah memelas.
"Maaf ya, Bang! Lain kali saja." jawab Gita seraya menangkupkan kedua tangannya di da da.
Setelah itu Gita pergi meninggalkan Brandon di kafe tersebut.
"Huftt... kenapa susah banget sih? Padahal cuma jalan sambil cerita saja. Ya sudahlah..." gumam Brandon kesal karena keinginannya tidak terpenuhi.
*
*
*
Gita hanya berbaring malas-malasan di atas ranjangnya. Dia tidak menyangka jika Brandon akan mencarinya hingga ke sini.
__ADS_1
"Beneran dia mau minta maaf? Atau karena diminta kak Ary untuk menyampaikan amanat baru datang mencari aku?" gumam Gita seraya menggerakkan tangannya seperti orang berenang.
"Kalau dia memang mau minta maaf, kenapa baru sekarang datang? Bukankah dia bisa mencari aku dengan mudah? Dia 'kan pintar komputer seperti almarhum Abang. Hah... sudahlah! Pokoknya aku gak boleh luluh dengan rayuannya. Aku nggak mau terluka lagi oleh orang yang sama."
Setelah lelah bermonolog, Gita akhirnya terlelap juga. Rasa lelahnya membawanya lebih cepat mengarungi mimpi. Gita sudah memutuskan untuk tetap menjaga jarak dengan Brandon. Dia belum yakin akan permintaan maaf Brandon.
Kedatangan Brandon yang tiba-tiba membuat Gita curiga, bahwa tujuan kedatangan Brandon yang utama adalah kepemilikan saham. Gita tidak mau tertipu dengan kebaikan Brandon lagi, kebaikan yang akhirnya membuat salah paham dan sakit hati.
*
*
*
"Permisi, saya ingin bertemu dengan dokter Anggita Nur Anggraini dari Indonesia. Dia kuliah di universitas 'Aa'."
Brandon meminta bantuan pada petugas administrasi dan informasi untuk memanggilkan Gita.
Tak lama kemudian, Gita mendatangi dirinya.
"Bisa bicara sebentar?" tanya Brandon begitu Gita berdiri di depannya.
"Sepuluh menit!" jawab Gita singkat padat dan jelas, tidak ada tawar menawar lagi.
"Baiklah. Sebaiknya kita ke kantin atau ke taman?"
__ADS_1
"Ke taman saja, lebih dekat." sahut Gita sembari melangkahkan kakinya menuju taman yang berada tepat di samping lobi rumah sakit.
Brandon mengikuti langkah kaki Gita, dia ingin meninggalkan kesan yang baik di mata Gita.
"Waktuku di sini sudah habis. Terima kasih sudah mau memaafkan kesalahanku yang dulu. Aku juga ingin meminta maaf lagi, jika kehadiranku membuatmu terganggu." ucap Brandon setelah mereka duduk di bangku taman.
"Aku juga minta maaf, jika tanggapanku selama Abang di sini kurang baik. Tidak baik malah. Selamat jalan, Bang. Hati-hati! Semoga selamat sampai tujuan." jawab Gita datar. Semenjak kejadian malam itu, Gita lebih sering memasang wajah datar dan dingin. Tidak seperti dulu yang humble.
"Kamu hati-hati juga di sini. Tidak ada keluarga atau sanak famili di sini. Kamu harus pandai-pandai menjaga diri." pesan Brandon sebelum akhirnya meninggalkan Gita. Brandon pergi dengan menelan kekecewaan, karena tidak berhasil meyakinkan Gita jika dia sudah berubah.
*
*
*
Sambil menunggu GiBrand up, kepoin yuk karya temenku Arandiah dengan judul "My Fierce Wife''.
Roy Xavier, Seorang pria dewasa berusia 36 tahun, yang biasa di panggil sekertaris Roy, Seorang sekertaris sang tuan muda Sean Agipratama, pemilik perusahaan SA Group, dengan parasnya yang tampan dan gagah, Roy tak pernah kekurangan pujian dari para kaum wanita, memiliki sifat yang dingin dan kaku yang tak pernah tersentuh oleh siapapun.
Siapa sangka, jika pria dingin itu malah terpikat oleh wanita yang menjadi rivalnya, Yolanda Jackson. Tapi yang lebih menyakitkan saat ia telah mencintai wanita tomboy itu adalah, ketika wanita yang ia cintai sudah memiliki pria yang ia cintai.
Akankan sekertaris Roy bisa meluluhkan hati wanita yang ia cintai dan bisa mendapatkan wanita itu?
__ADS_1