
Dua hari kemudian, Brandon mengajak maminya beserta saudara laki-laki Adhinata, tiba di rumah pak Chandra. Kedatangan mereka disambut tidak baik oleh pak Chandra.
Pak Chandra masih marah dengan Brandon karena selalu teringat dengan sikap Brandon pada anaknya beberapa tahun yang lalu.
"Harus berapa kali aku bilang? Jangan pernah menginjakkan kakimu lagi di rumahku ini!" ucap pak Chandra dengan emosi tinggi.
"Sebelumnya perkenalkan saya Gumilar, d disini mewakili anak saya, meminta maaf atas perilakunya yang tidak terpuji pada anak perempuan anda. Perilakunya sungguh memalukan dan mencoreng nama baik dua keluarga. Akan tetapi, sebagai orang tua bukankah lebih baik kita memaafkan dan menikahkan mereka agar dosa mereka terampuni? Kalaupun menikah dengan lelaki lain, apakah dia mau menerima dengan lapang dada keadaan ananda Gita?"
"Tidak ada maksud merendahkan ataupun menghina Gita. Saya selaku orang tua hanya tidak ingin melihat anak-anak menderita karena dipisahkan dengan orang yang dicintainya. Gita dan Brandon saling mencintai, kenapa kita tidak memberinya restu saja agar mereka terhindar dari dosa."
"Bukan ingin menggurui, alangkah lebih baiknya mereka kita nikahkan sebelum mereka kembali melakukan sesuatu yang dilarang Tuhan. Semua agama tidak ada yang membenarkan perbuatan itu. Jadi sebaiknya kita segera menikahkan mereka." Paman Brandon yang mendampingi memberikan pendapatnya pada pak Chandra.
Paman Brandon yang kebetulan diajak adalah seorang ulama, jadi perkataannya didengar oleh pak Chandra. Selain itu tutur kata yang lembut membuatnya disegani oleh pak Chandra dan istrinya.
__ADS_1
Pak Chandra tampak berpikir sejenak, merenungkan kata-kata paman Brandon.
Hening...
Suasana di ruang tamu kediaman pak Chandra hening tanpa ada yang mengeluarkan suara. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mencari solusi terbaik untuk Gita dan Brandon.
"Bagaimana Pak Chandra? Apa ada kata-kata saya yang kurang berkenan di hati Pak Chandra sekeluarga?" Paman Brandon kembali berucap, memecah keheningan.
"Beri saya waktu, Pak! Saya ingin berunding dulu dengan istri dan ibu mertua saya. Selain itu juga, kami ingin mengetahui bagaimana pendapat Gita," jawab pak Chandra dengan penuh wibawa, tidak lagi ada emosi yang menyelimuti.
" Sebelumnya, kami berharap jawaban dari pak Chandra bisa secepatnya. Berhubung masih ada keperluan lainnya, kami mohon undur diri. Mohon maaf bila kedatangan kami merepotkan Pak Chandra dan keluarga," lanjut paman Brandon.
"Saya usahakan besok sudah bisa memberikan jawaban pada Pak Gumilar. Jawaban apapun yang saya sampaikan nanti, semoga tidak membuat Nak Brandon dan keluarganya tidak berkecil hati," jawab pak Chandra penuh wibawa tanpa ada emosi lagi di nada bicaranya.
__ADS_1
Hati dan pikiran pak Chandra sudah mulai terbuka setelah mendengar kata-kata pak Gumilar tadi. Semua permasalahan harus dibicarakan dengan kepala dingin untuk mendapatkan keputusan yang baik.
Brandon beserta keluarganya pun pamit meninggalkan rumah besar itu. Mereka menginap di sebuah hotel yang tidak jauh rumah orang tua Gita.
Sepeninggal Brandon dan keluarganya, pak Chandra pun segera menelepon Gita untuk memastikan jawaban dari orang yang akan menjalani biduk rumah tangga. Bagaimanapun juga yang menjalani pernikahan nantinya adalah Gita. Pak Chandra tidak ingin memaksakan kehendak lagi pada anak perempuan satu-satunya.
Dulu memang pernah ada niat untuk menjodohkan Gita dengan paribannya. Akan tetapi terlalu banyak syarat yang diminta oleh abang iparnya. Sehingga dia memilih mundur sebelum adanya ikatan diantara anak-anak mereka.
"Gita, Brandon kembali melamarmu. Kamu mau memaafkan dan menerimanya atau memaafkan dan menolak. Itu semua
menjadi hak kamu sepenuhnya," todong pak Chandra terus terang.
"Gi-Gita... terserah Papa dan Mama saja. Gita tidak ingin menjadi anak durhaka," jawab Gita terbata.
__ADS_1
"Kamu yang menjalani, bukan Papa atau Mama kamu. Jadi putuskan sendiri, tetapi sebelumnya kamu pikirkan dengan matang!"
"Iya, Pa... Gita..."