Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
129. Welcome Penerus Adhinata


__ADS_3

Gita pergi ke kampus diantar sang suami. Hari ini ada dua mata kuliah yang harus diikuti. Gita tidak ingin menunda kelulusannya. Sejak awal dia mengambil pendidikan spesialisasi, dia mentargetkan lulus dalam waktu tiga tahun. Seperti mantan kakak iparnya. Oleh karena itu, dia selalu


datang kuliah tanpa memikirkan keadaannya saat ini.


"Hai, Gita! Cerah banget wajah bumil hari ini," sapa salah seorang teman Gita yang berasal dari kota Manado.


Saat mengambil pendidikan spesialisasi, banyak teman-teman Gita yang berasal dari Indonesia. Walaupun mereka tidak satu angkatan, akan tetapi mereka sangat akrab bak keluarga.


"Harus dong! Kita harus menyambut dan melalui hari dengan senyum cerah. Agar rejeki selalu menghampiri," sahut Gita dengan senyum manisnya.


"Aura bumil memang beda ya, selalu ceria!" celetuk teman Gita yang bersangkutan dari Yogyakarta.


"Kalian juga harus ceria, apapun keadaannya!" jawab Gita menyemangati teman-temannya.


"Yuk, masuk! Takut dosennya keduluan masuk, kita nggak jadi ikut kelasnya," ajak teman orang Manado.


Akhirnya mereka bertiga masuk dan mengikuti kelas, karena tak lama mereka duduk sang dosen memasuki ruangan.


*

__ADS_1


*


*


Malam harinya, Gita bolak balik ke kamar mandi sejak pulang kuliah. Dia merasa seperti ingin buang air besar, akan tetapi ketika sudah berada di kamar mandi dia tidak bisa mengeluarkan kotoran.


"Kamu kenapa, Sayang? Sejak tadi kok mondar-mandir keluar masuk kamar mandi," tegur Brandon pada sang istri yang tampak meringis menahan sakit.


"Entahlah, Bang! Sejak tadi perutku rasanya mulas, dibawa ke kamar mandi malah hilang rasanya," adu Gita seraya merebahkan tubuhnya di dekat sang suami, dengan kepala diletakkan di atas paha Brandon.


Gita memiringkan tubuhnya menghadap perut Brandon, lalu mendekap erat tubuh sang suami.


Melihat istrinya kesakitan, Brandon pun mengusap punggung Gita dengan lembut. Berharap mengurangi rasa sakit yang mendera istrinya.


"Sayang, apa jangan-jangan Dedeknya pengen lihat dunia? Sudah berapa jam kamu merasakan mulas?" cerca Brandon tiba-tiba, setelah memikirkan berbagai kemungkinan.


Gita terdiam mendengar pertanyaan Brandon. Dia menghitung usia kehamilannya, sudah 38 Minggu. Besar kemungkinan jika dia akan melahirkan, karena di usia kehamilan 38 Minggu sudah cukup untuk lahir.


"Kita ke klinik sekarang, Bang! Tapi hubungi dulu dokternya, biar kita bisa jumpa di sana," ucap Gita tiba-tiba setelah terdiam beberapa saat.

__ADS_1


Akhirnya Brandon membawa Gita ke klinik tempat Gita biasa memeriksakan kandungan. Sebelumnya dia sudah menghubungi dokter yang menangani istrinya tersebut.


Lima belas menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di klinik. Ternyata dokter sudah menunggu mereka di ruang bersalin. Gita terus meringis kesakitan, sesekali dia menggigit lengan Brandon untuk mengurangi rasa sakitnya.


"Aahhh!" jerit Brandon ketika Gita memasuki pembukaan sepuluh mencakar tangannya.


Wajah Gita sudah dipenuhi keringat dingin karena menahan rasa sakit. Rasanya seperti dua puluh tulangnya patah secara bersamaan.


Dokter menyarankan Gita untuk mengatur pernapasan dan menyuruh mengejan ketika ada dorongan dari rahim saja.


"Abang, rasanya Gita sudah tidak tahan lagi. Gita nggak ku...aaatttt!" ucap Gita pelan tiba-tiba berteriak sambil mengejan.


Lahirlah seorang bayi laki-laki dengan berat badan 4 kg dan panjang 55 cm. Ukuran yang sangat besar, mengingat ini adalah anak pertama.


Brandon mencium seluruh wajah Gita sebagai ungkapan kebahagiaan.


"Terima kasih, Sayang..." Brandon mencium bibir Gita sekilas.


"Selamat Tuan dan Nyonya! Anak anda laki-laki. Sangat tampan seperti ayahnya," ucap sang dokter yang menolong persalinan Gita.

__ADS_1


"Terima kasih, Dok. Sudah membantu istri saya," sahut Brandon.


__ADS_2