
Pak Chandra menghubungi kembali anak kesayangannya, setelah makan siang. Beliau meminta anaknya itu untuk segera pulang, untuk membicarakan pernikahan Gita dan Brandon.
Gita pun menyetujui permintaan sang ayah, dia akan segera pulang setelah mendapat ijin dari pemilik klinik tempatnya bekerja.
Sementara itu Brandon dan keluarganya masih menunggu keputusan dari keluarga Gita. Brandon merasa takut jika lamarannya kembali ditolak lagi. Dia cukup sadar diri jika kesalahannya terlalu banyak, sehingga sulit untuk dimaafkan. Oleh karena itu, dia tidak percaya diri lamarannya diterima.
"Mi, kalau lamaran kita kembali ditolak bagaimana?" ucap Brandon khawatir, tampak tidak berdaya.
"Kamu jangan pesimis dulu! Kita tunggu saja keputusan mereka. Berdo'a saja, semoga Gita mau menerima kamu!" tutur mami dengan lembut sembari mengelus lengan anaknya.
"Iya, Mi," jawab Brandon lesu.
Sedangkan sang paman yang memperhatikan keponakannya pun merasa trenyuh. Ada saja masalah percintaan yang harus dihadapi oleh Brandon.
"Lebih baik kamu mendekatkan diri pada Tuhan, agar hidupmu lebih tenang!" ucap sang paman sembari menepuk pundak Brandon.
"Baik, Paman," sahut Brandon sembari mengangguk, dia sadar dirinya sudah jauh meninggalkan Tuhan.
__ADS_1
"Sudah malam, sebaiknya tidur. Biar besok bangun tidur segar badan kita," perintah mami Maria.
"Iya, Mi. Brandon masuk ke kamar dulu Mi, Paman," pamit Brandon pada mami dan pamannya, kemudian meninggalkan keduanya ke kamar.
Saat ini mereka menyewa sebuah rumah yang letaknya tidak jauh dari rumah orang tua Gita. Paman Gumilar mengusulkan mereka menyewa rumah saja, agar lebih mudah mengurus acara jika lamaran diterima nanti. Sepertinya feeling pak Gumilar sangat kuat, buktinya beliau memilih menyewa sebuah rumah dari pada menyewa kamar di hotel.
*
*
*
Brandon dan keluarganya pun bersiap untuk kembali mendatangi rumah pak Chandra. Perasaan Brandon campur aduk memikirkan kemungkinan lamarannya kembali ditolak. Dia tidak tahu harus bagaimana jika lamarannya kembali ditolak.
"Tenang, Brand! Paman tahu kamu saat ini sedang nervous, tapi kamu harus tetap terlihat tenang. Tunjukkan jika kamu memiliki wibawa dan tahan banting!" tutur pak Gumilar sembari menepuk punggung Brandon.
"Perasaan Brandon tidak tenang, Paman. Brandon takut ditolak lagi," sahut Brandon sendu, wajahnya tampak sayu karena kurang tidur.
__ADS_1
Tadi malam Brandon memikirkan lamarannya dan Gita sehingga dia tidak bisa tidur, hingga subuh dia baru bisa terlelap sebentar.
"Kamu pasrah dan kembalikan semuanya pada Tuhan. Bukankah tadi malam Paman sudah mengatakannya? Apa kamu lupa?" tanya paman Gumilar mengingatkan.
"Maaf, Paman! Brandon terlalu panik jadi tidak bisa mengingat kata-kata yang Paman ucapkan," jawab Brandon menunduk malu.
"Hhh... kamu sudah besar, sudah dewasa. Umur kamu juga sudah kepala tiga. Seharusnya kamu bisa berpikir jernih, Brand!" Ingin rasanya sang paman memukul kepala keponakannya itu. Akan tetapi dia harus memberikan contoh yang baik, jadi paman pun hanya bisa berkata "sabar" pada dirinya sendiri.
"Dia memang seperti itu, Kangmas! Nggah nggih ora kepanggih, tak ada tindakan. Semua diiyakan tanpa ada pelaksanaan. Bikin naik tensi saja!" Mami Maria pun ikut kesal karena sang anak tidak bisa menurut pada orang tua.
"Maaf, Mi, Paman! Brandon tak akan mengulanginya," ucap Brandon seperti anak kecil.
Paman Gumilar yang mendengar permintaan maaf Brandon hanya bisa geleng kepala.
"Kamu ini kek bocah saja! Bikin malu Mami saja kerjamu," omel mami Maria lagi.
"Sudah, Jeng! Beri Brandon kesempatan sekali lagi. Ingat sekali lagi ya, Jeng!"
__ADS_1