
"Tidak akan ada yang berani menggunjing pewaris tunggal rumah sakit ini. Kamu tenang saja, lagian apa yang kita lakukan masih dalam batas wajar. Sesama dokter itu biasa membawakan makanan atau minuman untuk teman seprofesi. Jadi, kamu tenang saja. Ok?!" Leonard menjelaskan bagaimana tanggapan karyawan yang ada di rumah sakit milik orang tuanya.
"Tetap saja tidak enak. Mereka pasti berpikir aku kerja di sini karena kamu, bukan karena prestasi." Akhirnya rasa insecure Gita keluar juga.
Gita yang hanya seorang dokter biasa bisa memiliki ruang praktek sendiri, merasa sangat senang. Semua bukan karena campur tangan dari Leonard, tapi karena memang kepandaian dan tangan dinginnya dalam menangani pasien. Akan tetapi, ada saja segelintir orang yang iri hati. Sehingga gunjingan tentang Gita yang dekat dengan Leonard santer terdengar.
"Baiklah, nanti setelah pasien kamu habis temui aku. Aku tunggu di ruanganku," ucap Leonard akhirnya.
Gita menjawab tanpa suara hanya mengacungkan jempolnya tanda mengiyakan permintaan Leonard.
Satu jam kemudian, Gita selesai dengan pasiennya. Dia langsung menuju ruangan Leonard. Dia tidak pernah berpikiran macam-macam pada orang lain, baginya bisa bekerja sambil kuliah sudah bersyukur.
"Capek?" tanya Leonard begitu Gita masuk ke ruangannya.
Gita menggelengkan kepalanya sembari tersenyum menjawab pertanyaan Leonard.
"Ditanya kok jawabnya cuma senyum saja, huh!" keluh Leonard pura-pura kesal.
"Lalu, aku harus menangis begitu? Aku tersenyum karena bahagia bisa bertemu dengan banyak anak kecil yang lucu-lucu dan menggemaskan. Mereka hiburan tersendiri buatku. Bisa melayani mereka, bisa membuat mereka tersenyum adalah sesuatu yang membuatku bisa bahagia." jelas Gita panjang lebar tampak kepuasan di wajahnya. Menjadi pelayan untuk orang banyak sudah menjadi cita-citanya sejak mengenal Ary.
Leonard merasa terharu, ternyata dia tidak salah melabuhkan cintanya pada Gita. Gadis cantik yang bersahaja dan selalu merasa insecure.
__ADS_1
"Kita ngobrol di kafe aja, yuk! Jam kerja sudah habis, bukan?" usul Leonard seraya berdiri dari tempat duduknya. Mejanya sudah rapi ketika Gita masuk ke ruangan itu.
"Hayuklah!" sahut Gita sambil terkekeh.
Leonard bengong mendengar Gita berkata menggunakan bahasa Indonesia.
"Nggak usah bengong, aku hanya mengucap ayo dalam bahasa Indonesia saja!" jelas Gita seraya tertawa melihat raut wajah bingung pria bule di hadapannya itu.
Leonard hanya mengangguk dan langsung berjalan mendahului Gita. Selama ini Gita selalu memilih berjalan di belakang, mengikuti ajaran orang tuanya. Seorang perempuan itu sebaiknya berjalan di belakang laki-laki, karena tidak ada perempuan mengimami laki-laki. Jadi, Leonard mengerti ketika Gita menjelaskan alasannya dia memilih berjalan di belakang Leonard.
Kekaguman dan cinta Leonard pada Gita semakin dalam begitu ia lebih dekat lagi dengan gadis pujaan hatinya itu. Terlebih setelah Gita bekerja di rumah sakit milik orang tuanya. Gita yang telaten mengurus pasien memberikan nilai plus di mata Leonard.
"Seperti biasa saja." sahut Gita.
"Ok! As you wish, Girl," seru Leonard dengan wajah berbinar karena Gita mau diajak makan bersamanya.
Mereka pun meninggalkan rumah sakit menuju kafe langganan. Kafe yang penuh kenangan bersama, Gita, Dandy dan Leonard. Walaupun Dandy dan Leonard sering berantem di kala berjumpa, akan tetapi Gita menyukai saat-saat seperti itu.
*
*
__ADS_1
*
Kia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap kelas VVIP oleh ayahnya. Mereka memberikan penjagaan ketat agar Brandon tidak bisa bertemu dengan Kia. Selain itu, pak Gunadi masih gencar meneror Brandon agar segera menceraikan Kia, anak perempuan satu-satunya. Jawaban Brandon selalu sama, tidak akan menceraikan istrinya dalam keadaan tidak sehat. Entah itu sehat fisik dan psikis.
"Apa yang kamu minta agar segera menceraikan Kia?" tanya pak Gunadi.
Saat ini dia berada di ruangan Brandon. Entah sudah ke berapa kali dia wara-wiri ke Rend's Comp, hanya untuk meminta selembar kertas cerai.
"Aku akan menceraikan Kia, jika dia mau mengaku tujuan awal memaksa untuk menikah denganku. Jika dia menyebutkan semua rencana yang telah membuatku terikat dengannya. Gampang 'kan?"
*
*
*
Maaf baru bisa up, bocilku lagi kurang enak badan. Jadi tidak sempat pegang hp 🙏🙏🙏
Terima kasih atas kesediaannya untuk selalu menantikan GiBrand up 🥰🥰🥰🥰🥰
Lop lop sekebun pisang untuk para readers setia menunggu GiBrand up 😘😘😘😘
__ADS_1