
Gita kembali ke kafe Dandy setelah beberapa hari tak ke sana. Gita datang dengan ditemani Brandon untuk makan malam bersama.
"Mbak Noni, si Dandy belum balik ke sini juga?" tanya Gita saat sang waiters yang bernama Noni itu datang hendak mencatat pesanannya.
"Belum, Mbak! Mas Dandy itu sangat menyayangi istrinya. Dia rela seminggu sekali pulang ke Jakarta sewaktu masih merintis kafe ini. Bahkan pas Mas Dandy buka cabang di Bandung setiap hari pulang, padahal butuh waktu beberapa jam perjalanan."
"Apa yang diminta Mbak Rara pasti dikasih sama Mas Dandy. Apalagi kalau itu bersangkutan dengan anaknya, gercep pokoknya!" cerita Noni dengan semangat empat lima, tanpa dia tahu jika sang majikan merahasiakan statusnya pada Gita.
"Tapi jangan salah, walaupun sayang anak istri dia juga sayang cewek berwajah bening ke Mbak Gita ini. Jadi nggak heran kalau Mas Dandy dekat sama Mbak Gita," sambung Noni kemudian mulai mencatat pesanan Gita dan Brandon.
"Mbak dan Mas mau pesan apa?"
"Aku steak aja deh seperti biasanya, kalau Abang mau makan apa?" ucap Gita sembari menatap wajah Brandon.
"Ada menu Indonesia nggak? Kalau ada itu aja," sahut Brandon dengan wajah datarnya. Laki-laki berdarah Jawa-Belanda itu lebih menyukai masakan Indonesia dari pada masakan western. Brandon juga tidak mau makan makanan sejenis mie, kecuali miehun atau soun.
__ADS_1
Noni mengangguk kemudian meninggalkan tempat itu.
"Kamu kenapa masih mencari laki orang? Nanti orang lain salah mengartikan pertanyaan kamu itu. Dipikir kalian memiliki hubungan khusus!" ucap Brandon kesal.
"Kami 'kan memang memiliki hubungan khusus, Bang!" jawab Gita dengan memasang mode cuek.
"Apa hubungan khusus? Kamu menduakan aku? Ck, tega sekali kamu!" teriak Brandon sehingga mengundang perhatian pengunjung di kafe itu.
"Ssstttt! Jangan teriak! Malu tahu nggak?" bisik Gita jengkel karena mereka menjadi pusat perhatian atas teriakan Brandon.
"Maksud kamu apa, Gita? Jawab!" tanya Brandon, mukanya merah padam menahan amarah.
"Nggak lucu! Usah tertawa, nggak ada yang perlu ditertawakan." Brandon sangat kesal mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir Gita.
"Siapa yang bilang lucu? Gita hanya ngetawain wajah Abang yang terlihat aneh, seperti orang mau BAB, tahu!" Gita semakin semangat mengerjai Brandon yang kaku dan mudah tersulut emosi.
__ADS_1
Bagi Gita, wajah kaku Brandon yang kesal terlihat sangat lucu. Bahkan Gita kadang tertawa sendiri jika teringat wajah kesal Brandon. Wajah Brandon yang kaku akan terlihat sangat menggemaskan di mata Gita.
"Gita sama Dandy BFF, Abang! Jadi nggak usah cemburu. Lagian ngapain cemburu toh kita juga tidak memiliki hubungan khusus 'kan?" Raut wajah Brandon semakin tidak enak dipandang setelah mendengar kata-kata Gita. Apalagi saat Gita mengatakan tidak memiliki hubungan khusus.
"Jadi kedekatan kita tidak ada artinya menurutmu?" tanya Brandon dengan suara lirih tapi sangat tajam bak sembilu.
Gita langsung menatap mata Brandon begitu mendengar pertanyaan Brandon. Brandon saat ini sedang salah paham. Jadi Gita merasa harus meluruskannya agar tidak berlarut-larut dan menjadi masalah besar nantinya.
"Abang kok begitu? Gita 'kan pernah bilang, kita jalani saja dulu seperti air mengalir. Jangan terlalu memaksa untuk mengalihkan aliran air itu. Kita belum mendapatkan restu dari keluargaku. Jadi Gita mohon Abang bersabar dulu. Kalau bisa Abang dekati Papa agar mudah mendapat restunya," jelas Gita menahan emosinya.
*
*
*
__ADS_1
Mampir juga dong ke karya recehku yang baru, masih anget dan sepi pengunjung.