
"Jawab Gita!" Suara pak Chandra menggelegar penuh amarah.
"Apakah laki-laki pengecut seperti ini yang kamu cintai? Sampai kapanpun Papa tidak sudi punya menantu banci seperti dia! Kalau memang dia merasa bersalah, tidak harus menunggu bertahun-tahun lamanya untuk meminta maaf. Kecuali pengecut seperti dia!" ucap pak Chandra pada anaknya yang duduk terisak dengan kepala tertunduk.
"Tak usah kau tangisi laki-laki pengecut itu!" lanjut pak Chandra dengan napas memburu.
Gita yang masih terisak didatangi oleh mama Hotma, mama Hotma memeluk dan mengusap punggung anak kesayangannya.
"Sssttt... sudah! Jangan nangis terus! Dari pada kamu buang air mata untuk lelaki seperti itu, lebih baik kamu memikirkan apa yang harus kamu lakukan untuk meraih cita-citamu," hibur mama Hotma seraya terus mengusap punggung Gita.
Brandon dan maminya hanya bisa diam menantikan jawaban dari Gita, dengan perasaan was-was takut Gita menolaknya.
Gita mengambil napas dan membuangnya perlahan. Kemudian mulai mengangkat kepalanya, dia melihat ke arah sang mama kemudian ke papanya. Sang mama pun tersenyum memberikan semangat, berbeda dengan mama Hotma, pak Chandra malah membuang mukanya.
__ADS_1
"Maafkan Gita, Ma, Pa! Terus terang Gita memang mencintai bang Brandon..."
Gita terdiam sejenak untuk menenangkan debar jantungnya.
"Itu dulu! Sebelum kejadian di malam naas itu. Kalau sekarang, Gita sedang tidak ingin memikirkan percintaan. Saat ini Gita hanya ingin fokus kuliah. Tanpa adanya gangguan apapun!" tegas Gita. Tatapan matanya terlihat tajam dan serius. Tidak ada kebohongan di dalamnya.
Jederrrrr...
"Sudah kalian dengar sendiri, bukan? Kalian hanya sia-sia saja datang ke sini. Kalau pun Gita menerima Brandon, aku pun akan menentang hubungan mereka!" ucap pak Chandra setelah beberapa saat mereka hanya terdiam di ruang tamu, tidak ada yang bisa berkata-kata.
"Baiklah kalau begitu, kami pamit pulang. Mohon maaf atas kesalahan dan kekacauan yang kami buat di rumah ini," pamit mami Maria, ibunda Brandon.
Brandon hanya diam tak bergeming dari tempat duduknya. Matanya terus menatap wajah ayu Gita tanpa berkedip sama sekali. Tampak wajah kecewa dan terluka menghiasi pandangan matanya.
__ADS_1
Berulangkali mami Maria menarik Brandon agar berdiri dan meninggalkan rumah besar itu. Akan tetapi Brandon tetap diam dengan pandangan mata tertuju pada Gita.
Melihat hal itu, akhirnya Gita berdiri dan mendekati Brandon. Sayangnya belum dia sampai pada Brandon, Gita sudah ditegur ayahnya.
"Mau kemana kau, Gita? Tak punya malu lagi rupanya kau? Jangan pernah mendatangi laki-laki pengecut itu! Papa tidak akan menikahkan kamu dengannya sampai kapanpun. Ingat itu, Gita!" bentak pak Chandra saat matanya menangkap pergerakan dari Gita.
"Maaf, Pa! Bukan bermaksud melawan Papa. Hanya saja, Gita ingin membujuknya berdiri dan meninggalkan rumah ini, kasihan ibunya sudah terlalu lama menunggu," ucap Gita membela diri.
"Baiklah kalau perlu kau tendang saja dia, agar tidak mengulangi perbuatannya!" sahut pak Chandra.
Betapa terkejutnya mami Maria, ternyata begitu bencinya keluarga Gita atas perlakuan Brandon selama kuliah di Yogya.
"Brandon ayo pulang, Nak! Masih ada hari esok menunggumu. Masa depanmu masih panjang. Jadilah pribadi yang lebih baik lagi, agar kelak ada yang mau menerimamu apa adanya," bujuk mami Maria sembari mengelus lengan anak semata wayangnya.
__ADS_1