
Hasil visum telah keluar, sang pengacara pun memberanikan diri menemui pak Gunadi.
"Selamat siang, Tuan." sapa sang pengacara begitu dipersilakan duduk oleh kliennya itu.
"Siang! Bagaimana sudah keluar hasil visum anakku?" tanya pak Gunadi tanpa basa-basi, langsung pada pokok permasalahan.
"Sudah, Tuan. Hasilnya tidak ada kekerasan fisik sama sekali pada tubuh Nona Kia. Hanya ada bekas lebam di pan tat karena terjatuh sebelum Nona Kia pingsan dan koma. Ini murni kecelakaan. Kita tidak bisa mengajukan gugatan terhadap menantu Tuan."
"Saya juga sudah mengecek rekaman CCTV di rumah mereka. Dalam rekaman itu tidak ada yang menunjukkan kecurigaan. Terakhir kali terlihat sebelum kejadian, Non Kia seperti menghubungi seseorang dan terlihat gelisah. Setelah saya cek ponsel Non Kia, ternyata beliau menghubungi rumah Tuan untuk meminta salah satu asisten rumah tangga datang ke rumahnya."
"Mungkin karena cucian hari itu banyak, jadi dia meminta bantuan asisten rumah tangga di rumah Tuan untuk mencucinya. Berhubung asisten rumah tangga tersebut tak kunjung datang, maka Non Kia melakukan pekerjaan itu sendiri. Berdasarkan semua bukti yang terkumpul, kita tidak bisa menuntut Pak Brandon." Sang pengacara membeberkan dan menjelaskan hasil penyelidikannya.
"Aku tidak mau tahu! Pokoknya buat dia mendekam di penjara untuk membayar perlakuannya pada anakku." Pak Gunadi tetap bersikukuh untuk menuntut menantunya.
"Kalau Tuan tetap memaksa untuk menuntut Pak Brandon, yang ada Tuan akan kalah dan menanggung malu..."
"Tahu apa kamu soal kalah dan malu? Gunadi tidak pernah kalah dan terkalahkan!" potong pak Gunadi dengan sombongnya.
"Jika Tuan tetap memaksa untuk maju, saya akan mundur. Nama baik saya sebagai pengacara dipertaruhkan di sini. Saya sudah lama membangun image baik di hadapan umum. Membela yang benar dan menegakkan kebenaran bukan menutupi kebenaran. Maaf jika perkataan saya menyinggung perasaan Tuan," kata sang pengacara, mengeluarkan apa yang menjadi pikirannya.
__ADS_1
Dia tidak ingin namanya tercemar karena mengikuti satu orang kliennya. Selama ini dia berusaha membangun citra yang baik agar bisa menjadi pengacara seperti sekarang ini.
"Dasar pengecut! Aku akan mencari pengacara lain untuk menghancurkan Brandon," murka pak Gunadi, ia tidak menyangka jika pengacaranya akan membelot.
Sang pengacara pun meletakkan semua berkas hasil penyelidikan, yang dilakukan oleh orang bayarannya.
"Silakan Tuan mencari pengacara lain! Ini berkas hasil pemeriksaan visum dan semua aktivitas Brandon dan Nona Kia. Di sini juga ada slip setoran uang bulanan yang diberikan Brandon pada Nona Kia. Saya pamit undur diri," ucap sang pengacara dengan kecewa, kemudian dia berdiri dan meninggalkan ruangan itu.
"Arghhhh!!!" teriak pak Gunadi kalap seraya menyapu semua barang yang ada di mejanya dengan kedua tangan.
*
*
*
Saat ini, Gita dan Dandy berada di bandara. Gita mengantarkan Dandy yang akan pulang ke Jakarta.
"Hati-hati di jalan! Aku tak akan melupakan kamu. Kamulah satu-satunya keluargaku di sini. Keluarga satu negara, maksudnya! Hehehe." sahut Gita sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iya! Aku pamit, bye," ujar Dandy sembari melangkahkan kaki meninggalkan Gita di depan pintu keberangkatan. Sebelum itu, Dandy memeluk Gita erat seolah enggan meninggalkan sang pujaan hati.
Dandy menoleh kemudian melambaikan tangannya. Sebelum hilang dari pandangan, Dandy melayangkan kiss bye pada Gita.
Gita terkejut dan tersipu hingga pipinya berwarna merah jambu, mendapat kiss bye dari Dandy.
"Selamat jalan, Dan! Semoga engkau mendapatkan gadis yang juga mencintaimu. Maaf aku yang tidak bisa membalas perasaanmu. Aku harap kamu tidak menungguku di sana."
Gita berjalan meninggalkan bandara. Dia akan memulai harinya tanpa sahabat yang bisa diajaknya berbahasa Indonesia.
*
*
*
Maaf jika mulai kemarin tidak bisa up di jam biasanya, karena ada acara di sekolah si kecil sampai besok Senin. Author selalu berusaha up setiap hari tapi jam menyesuaikan dengan jadwal RL ya🤗
Sambil menunggu GiBrand up, mampir juga dong ke karya recehku yang lain.
__ADS_1
Terima kasih 🥰😘
.