
"Apa saran Lo! Awas ya kalau kali ini nggak berhasil! Gue resign, Lo nggak dapet tambahan uang jajan lagi. Mau Lo?" cerca Lala begitu Meela masuk ke kamarnya.
"Santai, Sis! Selow aja." sahut Meela santai seraya menghempaskan tubuhnya ke kasur.
"Santai, santai! Gue sudah nggak punya muka lagi di depan Bos, Lo bilang santai. Enak bener!" ucap Lala kesal.
"Kalau buru-buru tanpa dipikir dengan matang, yang ada mangsa terlepas. Jadi santai saja, kita mundur perlahan. Kalau kita lari terus buat ngejar yang ada capek! Kita nangkap mangsa pakai otak bukan pakai otot. Intinya sabar!" jelas Meela menggurui.
"Iya, sabar. Orang sabar mah pasti kesel!" sahut Lala seraya merebahkan tubuhnya kesal.
"Kok kesel sih?"
"Kesel dong, kelamaan nunggu nggak kunjung datang, nggak kena. 'Kan capek, lama-lama yang ada kesel!'' Lala menjelaskan dengan wajah kesalnya.
"Kita santai aja dulu. Lo menjauh pelan-pelan, kerja seperti biasa saja. Agak menjaga jarak. Kita lihat apakah dia akan merasa kehilangan kecentilan Lo apa kagak. Kalau dia merasa kehilangan berarti dia sudah mulai ada rasa. Nah, saat itu Lo mendekati dia." usul Meela sembari bangun dan membetulkan posisi rambutnya.
"Oh begitu! Tapi nggak gitu juga kali, rambut Lo rontok di kasur Gue, dodol!" sahut Lala sambil memukul lengan Meela.
"Sakit tauk!" jerit Meela terkejut mendapat serangan tiba-tiba dari Lala.
"Hilih! Kek gitu aja sakit." sahut Lala.
Mereka berdua akhirnya lanjut ngobrol dan mengghibah, diselingi dengan canda.
*
__ADS_1
*
*
"Pa, Gita nggak usah ikut pulang ya?" tawar Gita sembari bergelayut manja di lengan pak Chandra.
"Kenapa tidak mau pulang? Sebentar saja kamu tengok kampung halaman, setelah itu kamu bisa kembali ke sini. Melanjutkan pendidikan tanpa harus terganggu dengan rasa rindu kampung halaman." bujuk pak Chandra sambil mengusap kepala Gita yang menempel di lengannya.
"Kalau Gita ikut pulang, takut nggak mau balik lagi ke sini, Pa! Gita ke sini 'kan buat belajar. Gita takut goyah sehingga sia-sia usahaku selama ini."
"Katanya kau ingin menengok anaknya si Ary, kapan lagi kau tengok keponakanmu itu?" sela mama Hotma, ikut duduk di ruang keluarga.
"Nanti kalau Gita lihat mereka, pasti malas balik sini, Ma! Sudah dibilang tadi juga." jawab Gita dengan bibir mengerucut.
"Dicoba dulu! Belum juga dijalani sudah takut duluan." bujuk ompung Norma.
"Iya, iyaa... Gita ikut pulang! Puas?" sahut Gita cemberut.
Sebenarnya Gita tidak ingin kembali ke Indo, karena hal itu mengingatkan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Selain itu juga mengingatkan akan kebodohan dirinya di masa lalu. Terlalu merendahkan diri hanya mendapatkan cinta yang tak pernah bisa digapai.
Dengan berat hati, akhirnya Gita pun membereskan pakaiannya. Memasukkan beberapa potong untuk ganti selama di Indo.
Mereka semua pulang ke Indonesia, dengan rute penerbangan Melbourne - Medan. Penerbangan yang cukup melelahkan, karena membutuhkan waktu lebih dari sepuluh jam untuk menempuh perjalanan.
*
__ADS_1
*
*
Gita harus bersabar menghadapi ini semua. Walaupun tidak mudah, namun dia harus bisa melawan rasa takutnya. Takut tidak bisa menahan diri untuk tidak kembali jatuh cinta pada Brandon. Padahal sebenarnya rasa itu masih tetap ada hingga sekarang, bedanya sekarang tidak semenggebu dulu saat masih remaja.
Dua hari di kampung halaman, membuat Gita ingin ke Yogyakarta untuk menemui Ary dan keluarga barunya. Gita pun meminta ijin pada orang tuanya dan diijinkan. Malah kedua orang tuanya senang jika Gita mau segera menemui Ary. Selain untuk melepas kangen, tentunya ada hal yang harus dibahas tentang perusahaan.
Dengan penerbangan pagi, Gita menuju kota Gudeg tersebut. Sebelumnya dia sudah menghubungi Ary untuk menjemputnya di bandara.
*
*
*
Aku promo lagi ya, jangan pernah bosen ya baca karyaku yang penuh dengan promo🤗🤗🤗
Judul : Apa Salahku Tuan?
Napen : Muda Anna
Ningtiyas Paramitha adalah gadis 18 tahun baru lulus SMK jurusan tata busana. Dia harus menerima takdir dinikahkan siri dengan paksa oleh ayahnya dengan lelaki dewasa berumur 30 tahun dan telah memiliki istri bernama Alfarizi Zulkarnain. Kontrak nikah selama lima bulan, tetapi Neng selalu mengalami kekerasan baik lahir maupun batin. Perlakuan suami sirinya selalu melampiaskan kekesalannya akibat kesalahan istri sahnya.
Setelah empat bulan berlalu Al meninggalkan Neng begitu saja, tanpa disadari Al meninggalakan benih janin di kandungan Neng. Akhirnya Neng meninggalkan desanya yang selama ini menjadi kebanggaannya, pergi ke Jakarta untuk merubah nasib dan menyongsong masa depan yang lebih baik bersama janin yang dalam kandungan.
__ADS_1
Sayangnya takdir mempertemukan mereka kembali setelah delapan tahun berlalu. Dengan situasi yang berbeda, apakah mereka akan bersatu kembali setelah Al mengetahui memiliki keturunan. Apakah Neng menerima cinta Al?