Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
77. Aku Ambil Spesialisasi


__ADS_3

Selalu didesak untuk menerima perjodohan oleh mama dan neneknya, membuat Gita akhirnya menerima Leonard jadi pacar. Walaupun dia belum merasakan getaran di hatinya, Gita akan mencoba membuka hati. Berharap bisa mengobati luka yang telah lama menganga.


"Beb, makan siang dulu! Nanti lagi lanjut kerja. Jangan terlalu diforsir tenaga kamu! Kerjaan tidak akan ada habisnya." ucap Leonard saat kembali menyambangi ruangan Gita.


Gita yang saat itu masih membereskan berkas rekam medis pasiennya. Pasien di ruang tunggu masih ada lima orang lagi, sedangkan jam istirahat sudah berlalu satu jam yang lalu.


"Iya, tadi sudah makan roti kok. Kamu tenang saja, aku tahu harus apa," sahut Gita sambil tersenyum manis yang membuat Leonard semakin tergila-gila padanya.


"Jangan tersenyum di depan laki-laki selain aku! Senyummu hanya milikku," ujar Leonard seraya mengelus pipi Gita.


"Ke pasien pun aku tak boleh senyum? Kabur semua pasienku!" protes Gita cemberut.


"Kalau pasiennya laki-laki dewasa tidak boleh senyum. Boleh senyum hanya untuk anak kecil saja. Ok?" jawab Leonard posesif.


"Kalau gitu buat aja pengumuman, hanya khusus menerima pasien perempuan dan anak-anak!" ketus Gita.


"Pokoknya tidak ada bantahan, tidak boleh senyum selain di depanku!" kekeh Leonard.


"Dok, sudah bisa periksa pasien? Kasihan masih ada pasien yang menunggu di luar," sela perawat yang mendampingi Gita.

__ADS_1


"Suruh masuk aja, Gab! Hiraukan kepala rumah sakit yang reseh ini," sahut Gita sembari menyindir Leonard.


"Aku gak ganggu, aku duduk di sini aja!" Leonard beranjak dari duduknya setelah menyela pembicaraan dokter dan suster itu.


Akhirnya Gita melanjutkan memeriksa pasien-pasiennya hingga habis, dengan Leonard mengawasi di sudut ruangan.


"Nggak banget deh jadi orang! Masak kerja saja dimandori, takut banget diambil orang!" gerutu Gita dalam bahasa Indonesia sehingga Leonard tidak tahu maksud gerutu Gita.


"Sudah habis pasiennya, waktunya kita jalan!" ucap Leonard tanpa rasa bersalah sama sekali. Saat Leonard akan berkata lagi, Gita langsung berkata sehingga Leonard mengatupkan mulutnya kembali.


"Aku mau ke kampus. Ada kuliah!" potong Gita tanpa menunggu Leonard selesai berbicara lagi.


"Inilah yang bikin aku malas punya pacar! Selalu ngatur!" gerutu Gita lagi, Gita selalu menggunakan bahasa Indonesia jika menggerutu sehingga Leonard hanya bisa diam menahan kekesalannya.


"Lain kali jangan menggunakan bahasa yang aku tidak tahu maksudnya! Jangan menguji kesabaranku, Sayang," bisik Leonard di telinga Gita hingga napasnya berhembus masuk ke dalam telinga Gita. Gita pun merinding dibuatnya.


"Ekhem!" Gita berdehem karena gugup tidak tahu harus berkata apa setelah hembusan napas Leonard menerpa telinganya.


Tanpa berkata apa-apa, Gita melanjutkan langkah kakinya keluar dari rumah sakit itu. Leonard mengikuti langkah Gita dan mereka pun akhirnya ke kampus dengan mobil Leonard.

__ADS_1


Kemana pun Gita pergi, Leonard selalu dengan setia mengikuti. Padahal sudah berulangkali Gita melarang Leonard mengikuti, akan tetapi Leonard yang posesif tidak mau meninggalkan Gita barang sejenak saja.


"Kamu pulang saja, aku lama! Ada dua mata kuliah yang harus aku ikuti," pinta Gita saat mobil Leonard yang mereka tumpangi sudah berada di area parkir.


"Aku akan ikut masuk!" sahut Leonard sambil mengikuti langkah Gita yang keluar dari mobil terlebih dahulu.


"Terserah!" ucap Gita tetap melangkahkan kakinya menuju kelas.


Tak berapa lama Gita duduk, dosen pengajar masuk ke kelas itu. Kuliah pun segera dimulai.


Leonard tidak jadi masuk ke kelas karena dia mengenal dosen yang mengajar di kelas Gita. Leonard duduk sambil memainkan ponselnya di depan kelas Gita. Keberadaan Leonard mengundang banyak perhatian para mahasiswa yang berlalu lalang di lorong kelas itu. Akan tetapi Leonard tetap cuek saja.


Sembilan puluh menit kemudian Gita baru keluar dari kelas. Kuliah pertamanya hari ini selesai, tinggal satu mata kuliah lagi yang wajib diikutiinya.


"Kamu kuliah apa? Setahuku sudah tidak ada kuliah lagi, kecuali mengulang." tanya Leonard dengan alis saling bertaut membentuk garis lurus.


"Aku ambil spesialisasi." Gita tersenyum setelah menjawab pertanyaan Leonard, kemudian berlalu menuju kantin karena haus.


"Kamu kenapa tidak cerita?"

__ADS_1


"Dari awal kamu sudah tahu 'kan, aku hendak mengambil spesialisasi anak? Kapan lagi aku kuliah jika tidak sekarang?" Gita balik bertanya pada Leonard yang akhirnya membuat Leonard tidak bisa berkata-kata.


__ADS_2