
Kedekatan Gita dan Leonard membuat Dandy cemburu. Akan tetapi Dandy menekan rasa cemburunya itu. Dandy selalu berpikir jika jodoh itu sudah tertakar dan tak mungkin tertukar. Jika memang jodoh tak perlu dikejar dia akan datang dengan sendirinya.
Bukan tidak mau berusaha, Dandy sudah menunjukkan perasaannya bahkan mengutarakan isi hatinya. Tanggapan Gita selalu sama. Tidak ingin lebih dari sekedar sahabat. Biarlah waktu yang menjawab.
Ikuti arus perjalanan dalam persahabatan mereka. Jika nantinya bermuara pada pernikahan akan menjadi kenangan terindah sepanjang hidup. Ataupun sebaliknya, jika bermuara pada perpisahan untuk membina rumah tangga dengan yang lain tak akan menimbulkan rasa sakit yang dalam.
Melihat kedekatan Gita dengan Leonard, kadang rasa marah itu datang. Merasa tak memiliki hak atas diri Gita, Dandy memutuskan segera menyelesaikan pendidikannya yang hanya tinggal beberapa bulan lagi.
Hari yang ditunggu oleh Dandy pun tiba, dua minggu lagi ia akan diwisuda. Dia juga sudah memesan tiket pesawat untuk kembali ke Indonesia. Tepatnya Jakarta, tempat tinggalnya bersama keluarga.
"Gita! Ada waktu sebentar? Ada yang mau aku bicarakan," ucap Dandy ketika sudah berada di depan ruang kerja Gita.
Kebetulan saat itu Gita ada janji makan siang bersama Leonard.
"Bisa. Kita ngobrol sambil makan siang bersama, yuk!" sahut Gita dengan senyum riangnya. Sedangkan wajah Leonard langsung menunjukkan rasa tak suka.
"Makan siang bersama, berdua?" tanya Dandy dengan mata berbinar.
"Enak saja berdua. Bertiga! Aku ikut kemana Gita pergi," potong Leonard dengan wajah dinginnya tampak sekali otot wajahnya tegang, tidak suka akan kehadiran Dandy.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Dandy seraya menatap mata Gita, dan hanya diangguki kepala oleh Gita yang tersenyum tipis.
Dandy merasa tidak enak karena lagi-lagi datang saat tidak tepat. Ini untuk kesekian kalinya dia mendatangi Gita yang sedang bersama Leonard. Walaupun Gita berulangkali mengatakan bahwa dia dengan Leonard hanya sebatas teman, rasa cemburu itu.
"Kenapa selalu ada Leonard di sampingmu? Sedangkan aku tidak pernah kamu ijinkan berada di sisimu walau hanya sebentar."
Dandy hanya bisa bicara dalam hati, tanpa bisa menyampaikan langsung pada Gita.
"Okelah kalau begitu! Aku ikut kalian saja," ucap Dandy akhirnya, walaupun berat tapi dia harus kuat.
Mereka bertiga makan di kantin rumah sakit, mengikuti permintaan Gita.
*
*
*
"K-Kia masih pendarahan, Mas." tolak Kia secara halus, dia memang belum boleh melakukan kegiatan yang menguras fisiknya.
__ADS_1
"Halah! Alasan saja kamu! Emang dasar pemalas tetaplah pemalas!" sahut Brandon ketus seraya meninggalkan rumah.
"Aku harus bagaimana? Cuciannya banyak banget, mana sanggup aku kerjakan ini semua. Kamu tega mas!" gumam Kia dengan air mata yang mulai menetes.
Akhirnya Kia mengangkat keranjang besar itu menuju belakang, dimana mesin cuci berada. Kia mulai merendam isi keranjang tadi di sebuah ember besar.
Kia akhirnya memutuskan untuk memanggil salah satu asisten rumah tangga yang bekerja pada ayah dan ibunya. Walaupun nanti pasti dia kena marah Brandon, dia tidak mempedulikannya.
Sambil menunggu kedatangan asisten rumah tangga yang akan membantunya, Kia mulai memasukkan sprei dan yang lainnya ke mesin cuci dan mulai menggiling.
Naas memang nasib Kia, saat akan meninggalkan ruangan untuk mencuci. Kia terpeleset air sabun yang tadi menetes saat memasukkan selimut ke dalam mesin cuci.
Pan tat Kia terhempas kuat ke lantai keramik, tak lama kemudian tampak darah mengalir melalui pangkal pa ha. Kia yang melihat darah segar, langsung pingsan karena jantungnya berdebar kencang.
Tak ada orang lain di dalam rumah itu. Hanya Kia sendiri. Sehingga dia sempat beberapa waktu pingsan tanpa ada pertolongan.
*
*
__ADS_1
*
Mon maap ye kalau cerita datar, soalnya mataku lengket terus. Sehingga penulisan sering ada typo dan gak dapat feel-nya.