
"Kami baik. Tak ada keluhan sama sekali. Hanya saja aku takut terjadi sesuatu padanya setelah perjalanan yang telah kami lakukan kemarin," ucap perempuan itu.
"Silakan, akan aku periksa!" ujar Leonard.
Si ibu hamil itupun naik ke brankar dibantu oleh seorang perawat. Kemudian perawat itu mengoleskan jel pada perut pasien.
Leonard pun mulai menggulirkan transducer ke perut sang pasien, terdengar detak jantung dengan sangat jelas. Leonard memandang layar monitor di hadapannya, membaca apa yang tertera di sana.
"Ini milikku 'kan?" tanya Leonard setelah melihat usia kehamilan si pasien.
Glek...
Perempuan itu menelan salivanya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering. Dia tidak tahu kenapa dorongan untuk memeriksakan kandungannya pada Leonard begitu kuat. Apakah hubungan batin anak dan ayah yang membuatnya datang ke sini?
"Diam berarti iya, dia darah dagingku. Milikku!" ucap Leonard yakin.
Leonard masih betah memandangi layar monitor yang memperlihatkan janin dengan BB sementara 2500 gram itu. Matanya berkaca-kaca, dadanya berdegup kencang. Ingin rasanya dia berteriak agar dunia tahu jika dia akan menjadi seorang ayah.
Ada kebahagiaan terpancar dari wajah Leonard. Walaupun anak itu kehadirannya tidak diinginkan, akan tetapi dia sangat bahagia begitu melihat darah dagingnya yang masih berbentuk janin.
"Terima kasih telah mempertahankan dia. Terima kasih sudah mempertemukan dengannya... Aku minta maaf sudah menelantarkan kalian," ucap Leonard sendu dengan wajah menunduk.
Tes...
Air mata itupun lolos juga dari mata Leonard. Dia merasa bersalah karena telah menjadikan Eleanor sebagai obyek kekesalannya. Betul apa yang diucapkan sepupunya, jika Eleanor tidak bersalah sama sekali.
"Maaf..."
__ADS_1
Leonard bersimpuh di kaki Eleanor, setelah perempuan bertubuh mungil itu turun dari brankar.
Eleanor membantu Leonard berdiri seraya tersenyum manis.
"Bangunlah! Aku sudah memaafkan, kalau aku belum memaafkan tak akan mungkin aku berada di sini, saat ini," ucap Eleanor tersenyum.
"Aku akan bertanggungjawab atas dirimu dan anak kita. Walaupun tanpa ikatan pernikahan," ucap Leonard tiba-tiba.
"Kita akan sama-sama membesarkan anak ini bersama. Walaupun kita sudah tidak ada ikatan apapun. Kita tetap harus memberikan kasih sayang dan perhatian kita untuknya," sahut Eleanor sembari menggenggam tangan mantan suaminya.
Leonard pun memeluk Eleanor begitu saja. Dalam hati kecilnya ingin mencium puncak kepala sang mantan, akan tetapi keinginan itu ditahannya.
*
*
*
Mereka mendekor kamar untuk bayi yang dinyatakan berjenis kelamin laki-laki itu. Mereka juga memilih perabot yang akan digunakan di kamar bayi itu.
Setiap hari Leonard menemani Eleanor mengikuti kelas senam hamil. Setiap kegiatan Eleanor yang berhubungan dengan kehamilannya, Leonard selalu mendampingi untuk menebus rasa bersalahnya.
Pagi hari yang cerah, Eleanor melakukan olahraga raga ringan dengan berjalan-jalan mengitari taman yang tersedia di apartemennya.
Tiba-tiba saja perutnya terasa kram dan pinggangnya panas. Rasa itu datang dan pergi dalam waktu singkat. Mengingat usia kehamilannya yang sudah mendekati hari perkiraan lahir, Eleanor pun menghubungi Leonard.
Biasanya setiap pagi mantan suaminya itu akan menemaninya, akan tetapi pagi ini ada pasiennya yang akan melahirkan. Sehingga dengan sangat terpaksa, Leonard meninggalkan Eleanor sendiri.
__ADS_1
Satu jam kemudian, Eleanor sudah sampai di rumah sakit milik keluarga Gladston dengan ditemani oleh ibunya, nyonya Winston. Sedangkan Leonard menunggu mereka di ruang bersalin.
Sesuai perkiraan Leonard, ternyata Eleanor sudah mengalami pembukaan empat. Masih beberapa jam lagi untuk pembukaan penuh. Eleanor pun disarankan berjalan-jalan terlebih dahulu di sekitar ruangan bersalin.
Tiga jam kemudian...
Terdengar suara tangis bayi melengking memenuhi ruangan. Pertanda lahirnya penerus pemilik rumah sakit ini.
Eleanor telah melahirkan seorang bayi laki-laki dengan berat 3900 gram dengan panjang 60 cm.
Kelahiran bayi itu disambut bahagia oleh kedua keluarga yaitu, Gladston dan Winston. Walaupun hubungan kekeluargaan mereka telah berakhir, akan tetapi darah mereka mengalir pada satu bayi yang baru lahir.
Kelahiran Abraham Gladston telah mengakhiri perseteruan antara dua keluarga. Menyatukan mereka dengan damai walau bukan lagi sebagai keluarga.
*
*
*
Sudah teman-teman....
Cerita mereka selanjutnya akan hadir di buku baru ya, karena kalau dilanjutkan di sini judulnya tidak sesuai lagi. Bagi yang ingin kisah Dandy, dia tetap menjadi single parents dengan julukan hot Daddy ðŸ¤. Tak ada kisah Dandy di buku sendiri ya Zheyengkuuhh semua.
Follow akunku ya biar tahu kapan Leonard dan Eleanor rilis.
Terima kasih banyak atas dukungannya selama ini, author masih sangat membutuhkan dukungan dari kalian semua. Mohon maaf bila belum bisa menyajikan karya yang bagus. Karena kemampuan author hanya bisa menghalu yang mungkin tidak bisa diterima oleh akal sehat para readers semua.
__ADS_1