Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
Leonard dan Eleanor


__ADS_3

Enam bulan kemudian...


Leonard dan Eleanor telah resmi bercerai. Sidang perceraian yang hanya dihadiri oleh pengacara masing-masing, memuluskan jalan perceraian itu.


Eleanor merasa sangat bahagia karena sudah tidak terikat hubungan lagi dengan keluarga Gladston. Dia juga yang meminta perjanjian pra nikah dibatalkan saja. Keluarga Winston dan Gladston tetap menjalin kerjasama seperti biasanya.


Eleanor menyadari dirinya hamil ketika kehamilannya berusia sembilan Minggu. Eleanor tidak mengalami ngidam atau pun morning sickness sama sekali. Selama kehamilannya dia merasa baik-baik saja, hanya nap su makannya yang bertambah.


Hari ini Eleanor meninggalkan pulau terpencil yang letaknya tidak jauh dari ibu kota negara tersebut. Eleanor memutuskan untuk pulang ke Melbourne.


Tiba-tiba saja dia sangat ingin bertemu dengan mantan suaminya itu. Padahal selama ini dia sudah merasa nyaman, hidup jauh dari orang-orang yang mengenalnya. Hidup di lingkungan yang semuanya merangkul dia, menganggap dia seperti keluarga sendiri.


Entah dorongan dari mana, dia merasa harus segera bertemu dengan ayah dari anak dalam kandungannya itu sekarang juga.


Selama dalam perjalanan, baby dalam kandungannya selalu menendang kuat. Seolah-olah ingin mengatakan sudah tidak sabar lagi untuk bertemu ayahnya.


"Tenanglah, Baby! Sebentar lagi kita sampai," ucap Eleanor seraya mengusap perutnya.


"Boleh duduk di sini?" ucap seorang pria meminta ijin duduk di sebelah Eleanor.


Eleanor hanya menjawab dengan anggukan. Laki-laki itu terus mengawasi Eleanor, seperti merasa pernah melihat.


"Ada yang salah?" tanya Eleanor merasa risih karena diawasi terus.

__ADS_1


"Tidak! Sepertinya kita pernah mengenal dan bertemu sebelumnya," laki-laki itu.


"Itu perasaan Anda saja, kita belum pernah bertemu sebelumnya," jawab Eleanor dengan senyum dipaksakan.


"Oh, baiklah. Berarti saya salah orang," ucap pria di sebelah Eleanor.


*


*


*


Sementara itu di Melbourne, Leonard sibuk dengan pekerjaannya. Saat ini dia tidak hanya sebagai dokter, beberapa bulan terakhir dia merintis usaha kecil-kecilan.


"Siang, Dok! Ada pasien yang ingin diperiksa oleh dokter sekarang juga," ucap seorang perawat.


Leonard melihat jam yang melingkar di tangannya. Jam prakteknya sudah habis, sudah saatnya dia melihat usaha ekspedisi yang didirikannya dua bulan yang lalu.


"Apa dia ada keluhan yang berarti? Kenapa tiba-tiba datang tanpa membuat perjanjian?" tanya Leonard pada sang perawat.


"Saya akan lihat dulu catatan rekam medisnya, Dok," sahut perawat cantik itu.


Saat si perawat akan meninggalkan ruangan itu, Leonard memangilnya.

__ADS_1


Leonard ragu-ragu sejenak antara menerima pasien itu, atau memilih meninggalkan rumah sakit sekarang juga. Diantara rasa bimbangnya itu, rasa kemanusiaan sebagai seorang dokter muncul. Akhirnya dia memutuskan untuk menerima dan memeriksa pasien itu.


"Suruh saja masuk, saya masih ada waktu sepuluh menit lagi!" perintah Leonard dengan suara agak keras.


"Baik, Dok."


Tak menunggu lama, pasien itu pun masuk ke ruang praktek Leonard. Seorang ibu muda dengan perut membuncit.


"Apa kabar, Dokter Leonard?" sapa ibu muda tersebut.


Leonard yang saat itu sedang membaca catatan rekam medis si pasien langsung mengangkat kepalanya, dia sangat terkejut mendengar suara yang sangat dikenalnya itu.


Suara yang mengganggu pikirannya, suara yang menghantui di setiap tidur panjangnya.


"Kabarku, baik. Bagaimana denganmu?" sahut Leonard diantara rasa terkejutnya.


*


*


*


Hayoo siapa yang datang? Tebak ya 🤭

__ADS_1


__ADS_2