Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
54. Teman


__ADS_3

Sudah tiga hari Gita menemani Leonard menjelajahi tempat pariwisata di daerah Yogya. Hari ini, Leonard mengajak Gita untuk berwisata kuliner. Dia ingin sekali merasakan makanan asli Indonesia, khususnya masakan yang terkenal di Yogya.


Sebenarnya Gita sudah mulai enggan untuk menemani Leonard. Hanya saja dia saat ini butuh hiburan, butuh menyenangkan hati sendiri. Sejak kejadian di kantor tempo hari, Gita tidak bisa tidur dengan tenang. Bayangan wanita dengan wajah mirip Ary yang seperti sedang memeluk Brandon, selalu mengganggunya.


"Le, besok aku tidak bisa temani kamu lagi. Aku ada acara keluarga, maaf ya!" ucap Gita setelah makanan di piringnya telah habis.


"Nggak masalah! Terima kasih sudah mau menemaniku beberapa hari ini." sahut Leonard, dia tidak bisa memaksa Gita untuk terus bersama, menemani kemana dia pergi.


"Habis ini, langsung balik aja ya." pinta Gita. Dia ingin menghindari Leonard, karena Leonard mulai posesif padanya.


Semua itu berawal dari Leonard yang sering dengan tiba-tiba memeluk pinggangnya ketika berjalan bersama. Tidak hanya itu, Leonard selalu berusaha mencuri ciuman darinya. Gita berpikir lebih baik menghindar dari pada menambah dosa.

__ADS_1


Hati Gita masih tertutup rapat untuk laki-laki, bahkan Brandon sendiri pun tidak dibiarkan untuk masuk. Cukup dirinya sendiri dalam sepi.


Gita meninggalkan Leonard di rumah makan yang menyajikan lotek. Dia sengaja ingin sendiri. Sebelum meninggalkan Leonard dia memberikan jawaban atas permintaan Leonard untuk menjadi pacarnya.


"Le, a-aku..." ucap Gita tergagap sembari mere mas kedua jemari tangannya.


Leonard hanya menautkan alisnya hingga menyatu. Tidak tahu harus bagaimana.


"Sebaiknya kita tetap berteman, bersahabat. Karena berteman itu tidak akan pernah menyakiti, berbeda dengan pacar. Suatu saat nanti jika sudah tidak menjadi pacar lagi tidak akan bisa kembali menjadi teman."


"Maaf..." Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari bibir Gita.

__ADS_1


"It's ok! Aku tidak marah atau benci. Mungkin ini yang terbaik untuk kita. Sejak awal kita kenal, aku sudah menduganya. Kamu pasti akan menolakku. Bertahun sudah aku memendam rasa cinta ini. Aku hanya ingin kamu mengetahuinya bahwa aku mencintaimu. Dengan kamu tahu apa isi hatiku, aku sudah merasa lega. Sudah tidak ada beban lagi. Semua sudah aku utarakan sehingga tidak menjadi ganjalan hati. Diterima atau ditolak itu sudah biasa." jawab Leonard panjang lebar, tampak kekecewaan di matanya.


"Terima kasih, walaupun kamu tidak bisa menjadi pacarku tapi kamu sudah mau menemaniku mengeksplorasi tempat wisata di sini." imbuh Leonard kemudian.


"Seperti itulah teman, Le. Selalu ada untuk temannya, tanpa maksud tertentu. Tanpa rasa sakit hati bila sang teman yang menjadi pasangan tanpa sengaja menyakiti." tutur Gita dengan senyum manisnya.


"Baiklah, teman! Be best friend forever..." ucap Leonard seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Gita. Gita pun menyambut uluran tangan tersebut.


"Best friend forever!" seru keduanya serentak sembari bersalaman.


Walaupun kecewa akan hasil akhirnya, akan tetapi Leonard merasa bahagia. Berada di dekat wanita yang dicintainya itu sudah cukup baginya. Tak ada drama air mata atau teriak kekesalan, yang ada senyum persahabatan kedua anak manusia yang memiliki banyak perbedaan itu. Beda gender, beda negara, bahkan beda agama. Semua itu tidak menghalangi persahabatan mereka.

__ADS_1


__ADS_2