
Gita tidak pernah ngidam macam-macam, mengalami morning sickness pun tidak. Dia hanya merasa lemas jika tidak mendapat suntikan si Boy. Selain itu, moodnya sering berubah-ubah sehingga membuat Brandon bingung menghadapinya.
Kehamilan Gita membawa keuntungan tersendiri bagi Brandon. Hal ini dikarenakan Gita setiap hari meminta suntikan enak. Walaupun mood Gita sering berubah, akan tetapi permintaan debay yang setiap hari minta dijenguk menjadi obat baginya.
"Bang... jangan tidur dulu! Si Dedek belum dijenguk. Nanti nggak bisa tidur," rengek Gita suatu malam.
Brandon saat itu sedang lelah, baru saja pulang dari luar kota karena sedang membuka cabang usaha di tempat lain. Rasa lelahnya menghilang seketika setelah mendengar permintaan sang istri.
Pernah juga suatu waktu, Brandon harus berada di luar kota selama satu Minggu. Gita tidak bisa bangkit dari tempat tidur karena badannya lemas.
Badan Gita akan segar kembali setelah mendapat suntikan dari si Boy. Hal itu terus terulang selama dua semester kehamilannya.
Saat ini usia kandungan Gita sudah menginjak tujuh bulan. Mami Maria meminta anak dan menantunya itu pulang ke Surabaya. Perempuan separuh baya itu menginginkan menantunya melahirkan di rumahnya, Surabaya.
Keinginan mami Maria hanya tinggal kenangan karena Gita memutuskan untuk melahirkan di Melbourne saja. Gita berpikir bahwa kuliah sambil mengurus anak tidak mudah.
Brandon hanya bisa mengikuti dan mendukung apa yang menjadi keputusan sang istri saat ini. Mood Gita yang berubah-ubah membuat Brandon tidak bisa membantah.
*
*
*
__ADS_1
Gita masih tetap kuliah walaupun usia kehamilannya sudah memasuki trimester ketiga. Gita berencana menyelesaikan pendidikan spesialisasinya dalam tahun ini. Oleh karena itu dia tidak mau pulang ke Indonesia dalam waktu dekat ini.
"Bang, nanti Abang pulang jam berapa?" tanya Gita pada sang suami sembari memasangkan dasi.
"Belum tahu, kenapa?" sahut Brandon dengan tangan mengusap perut buncit istrinya. Brandon tersenyum saat mendapat tendangan dari juniornya.
"Kenapa, Nak? Sudah kangen sama Ayah, hmm?" Brandon mengajak bicara anaknya yang masih di dalam perut istrinya, setelah mendapat tendangan dari anaknya.
Gita mencubit mesra perut sixpack suaminya, dia merasa malu mendengar ucapan sang suami.
"Aww, sakit!" jerit Brandon dramatis.
"Heleh, begitu aja sakit!" cibir Gita sembari bergeser, hendak mengambil flatshoes nya yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Uluh... uluh... malu tahu! Anak sudah mau lahir masih manja. Ingat umur, ingat status!"
"Selalu ingat kalau status mah! Mantan duda gitu lho," sahut Brandon jumawa.
"Diihh, mantan duda kok bangga!" cibir Gita.
Mereka berdua bersenda gurau sebelum berpisah, melaksanakan aktivitas masing-masing.
Brandon yang melihat istrinya kesusahan mengenakan sepatunya pun berinisiatif untuk memasangkan sepatu tersebut pada sang istri. Setiap hari Brandon akan membantu Gita memakai sepatu, mengingat perut Gita yang lebih besar dari wanita hamil umumnya.
__ADS_1
"Sudah cantik istri Abang. Ayo sekarang kita sarapan kemudian berangkat ke kampus," ajak Brandon seraya memeluk pinggang istrinya yang tak ramping lagi.
Mereka berdua pun berjalan meninggalkan kamar menuju ruang makan. Di meja sudah tersedia salad buah yang sudah menjadi makanan favorit keduanya setelah Gita dinyatakan hamil. Selain itu juga ada sandwich isian sayur telur mata kerbau setengah masak.
Sesuai pemeriksaan yang terakhir, berat badan janin sudah lebih dari 3500 gram. Artinya bayi mereka sudah cukup besar untuk ukuran anak pertama. Oleh karena itu, dokter obgyn menyarankan untuk diet karbo agar berat badan bayi tidak bertambah lagi.
*
*
*
Sebentar lagi tamat, yuk mampir juga ke karya recehku yang lain 🤗
Sepenggal Kisah Ary (Tamat)
Menikahi Duren Ansa (Tamat)
Menggapai Mimpi (Tamat)
Sebatas Rasa (on going)
__ADS_1