
Gita melihat papan pengumuman yang ada di lobi kampusnya. Di sana tertera ada pertukaran mahasiswa dengan universitas terkemuka di Australia. Gita membaca pengumuman itu hingga habis, bahkan dia mencatat syarat-syarat untuk dapat mengikuti pertukaran mahasiswa. Tidak hanya itu saja, dia juga mengabadikan selebaran itu di ponselnya.
Setelah selesai dia langsung menuju ruang administrasi untuk bertanya lebih lanjut. Dia memutuskan untuk mengikuti pertukaran mahasiswa. Hal ini dilakukan sebagai salah satu usahanya untuk melupakan Brandon, cinta pertamanya.
Selesai dengan urusannya, Gita langsung pulang untuk melengkapi semua persyaratan yang diperlukan untuk mengikuti pertukaran mahasiswa.
"Ahh... sudah terkumpul semua. Besok pagi tinggal bawa ke Bu Dewi. Semoga lolos seleksi dan bisa ikut serta dalam pertukaran mahasiswa ini. Aamiin." monolog Gita seraya melihat langit-langit kamarnya.
Gita yang kelelahan mengumpulkan berkas untuk pertukaran mahasiswa, akhirnya tertidur pulas tanpa mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu.
Gita terbangun karena perutnya minta diisi. Sejak tadi siang dia tidak makan sama sekali, bahkan air putih saja tidak ada yang masuk. Gita beranjak dari tempat tidurnya, kemudian menuju dapur untuk mengambil nasinya.
Gita mencuci wajah kemudian tangannya sebelum makan malam. Makan malam kali ini, Gita memilih keluar menggunakan motor maticnya. Dia melakukannya menuju ruko yang digunakan untuk outlet sekaligus tempat tinggal Brandon dan Rommy. Sebelumnya dia singgah membeli nasi tenda yang berjajar di sepanjang jalan. Selain nasi untuk makan malam, dia juga membeli kue dan makanan ringan.
"Bang, Gita di bawah. Bisa buka pintunya?" ucap Gita begitu sambungan telepon terhubung.
Tanpa menjawab ucapan Gita, Brandon langsung berjalan menuruni tangga ke lantai dasar. Dia membuka rolling door yang biasa digunakan untuk keluar masuk jika outlet tutup.
"Ada apalagi, Gita?" tegur Brandon begitu berdiri di depan Gita.
Gita menunjukkan barang bawaannya pada Brandon.
"Gita pengen makan malam bareng Abang dan Bang Rommy." jawab Gita sambil melangkah masuk ke dalam ruko tiga lantai tersebut.
Brandon memasukkan motor Gita ke garasi yang digunakan untuk akses keluar masuk. Brandon kembali mengunci rolling door tersebut kemudian mencari keberadaan Gita yang terlebih dulu masuk.
__ADS_1
Gita sudah meletakkan barang bawaannya di atas meja, ketika Brandon sampai di ruang tamu yang terletak di lantai dua.
"Mana Bang Rommy, Bang?" tanya Gita seraya menyapu ruangan tersebut.
"Rommy pulang tadi sore. Ada apa mencari Rommy?" Brandon curiga.
"Ada orang di depan mata malah cari yang nggak ada!" gerutu Brandon lirih, masih bisa didengar oleh Gita. Akan tetapi Gita tidak mau menanggapinya.
"Yaa... padahal aku beli nasi tiga bungkus. Terus yang makan siapa dong?" keluh Gita dengan bibir cemberut.
"Kita lihat saja nanti, kalau kita masih lapar kita habiskan berdua." hibur Brandon.
Mereka berdua makan dengan tenang. Gita membeli menu yang berbeda sehingga mereka bisa saling mencicip lauk satu sama lainnya. Akhirnya nasi tiga bungkus habis oleh mereka berdua. Hanya pada awalnya saja mereka makan dengan tenang, setelah suapan ke lima mereka makan sambil ngobrol dan bercanda.
Saat selesai makan, ada sisa sambal yang masih menempel di bibir Gita. Brandon yang melihat itu langsung mengambil tisu dan mengelap bibir Gita. Gita diam mematung tanpa berani bersuara ataupun bergerak. Bahkan dia menahan nafasnya. Perhatian yang sering Brandon berikan membuat Gita salah paham.
Jantung Gita masih berdegup kencang, padahal Brandon sudah selesai mengelap mulutnya. Gita membereskan sisa makan malam mereka. Setelah itu mereka berdua duduk di sofa sambil menonton film.
"Bang, menurut Abang. Gita itu kek mana sih di mata Abang?"
"Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"
"Cuma tanya aja! Pengen tahu penilaian Abang tentang Gita. Biar nanti jika ada tingkah atau sikap Gita yang tidak berkenan di hati Abang, Gita bisa memperbaiki," jawab Gita sambil menunduk.
"Tidak ada yang perlu diperbaiki, selama ini kamu adalah seorang adik yang manis. Selalu menurut jika Abang nasehati."
__ADS_1
Hening sejenak...
Gita memainkan tangannya dengan menautkan jari jemarinya, kemudian melepaskan tautan itu dan kembali menautkan jari-jarinya.
"Bang, Gita..."
"Kamu kenapa, hmm?"
"Gita...cinta sama Abang!"
Duaarrr...
Ruangan itu tiba-tiba gelap setelah ada suara petir menggelegar membelah langit. Hujan yang turun sejak mereka makan tadi, kini semakin deras dan diikuti dengan petir dan kilat. Bahkan listrik pun ikut padam.
Gita yang takut gelap langsung melompat ke atas pangkuan Brandon. Dia mengalungkan tangannya di leher Brandon dan memeluknya erat.
"Takut, Bang..." Suara Gita mulai tercekat karena rasa takut yang amat sangat.
"Sstt, nggak usah takut! Ada Abang di sini," hibur Brandon seraya mengusap-usap punggung Gita.
Suasana sangat dingin dan gelap, hanya lampu kilat yang melintas menjadi penerang mereka. Keduanya masih dalam posisi semula. Gita duduk di atas pangkuan Brandon dengan tangan masih melingkar di leher Brandon.
Sebagai laki-laki normal, posisi mereka saat ini membangunkan sang junior. Tanpa ada yang tahu siapa yang memulai, bibir mereka saat ini saling bertaut. Gita yang belum pernah berci uman, awalnya hanya diam bibirnya mulai disesap oleh Brandon.
Brandon mengigit kecil bibir Gita agar terbuka. Gita pun mulai membuka sedikit mulutnya sehingga Brandon dengan sigap mulai mengekplor isi mulut Gita.
__ADS_1
Brandon menggendong Gita ke kamarnya dalam kegelapan. Anehnya mereka tidak salah kamar. Mereka sudah dipengaruhi oleh naf su. Cuaca sangat mendukung apa yang mereka lakukan, hujan deras disertai dengan petir dan kilat serta mati lampu.
Tanpa sadar mereka telah melakukan dosa besar, yang pasti akan mereka sesali nantinya.