
Tamu sudah mulai berdatangan dan acara pernikahan sebentar lagi akan dilaksanakan. Petugas dari KUA pun juga sudah datang siap menikahkan calon mempelai.
Tepat pukul sepuluh pagi acara akad nikah dimulai. Acara akad nikah berjalan lancar hingga terucap kata sah dari para saksi dan tamu undangan. Usai acara akad nikah akan dilanjutkan dengan acara walimatul'ursy satu jam kemudian.
Sesaat setelah kedua pengantin melakukan sungkem pada kedua orang tua, tiba-tiba wajah Rendy tampak pucat. Rendy kembali mengalami sesak nafas karena penyakitnya tiba-tiba menyerang.
Terjadi keributan di ruangan itu karena suara tangis mempelai wanita. Rendy tiba-tiba pingsan di pangkuan istrinya. Rendy langsung dilarikan ke rumah sakit. Kedua orang tua Ary dan Rendy membawa Rendy ke rumah sakit sedangkan Gita ditinggalkan di rumah bersama keluarga besarnya dan kedua sahabat dekat Rendy.
Gita yang begitu menyayangi abangnya terus menangis di pelukan sang nenek, Ompung Norma.
"Jangan nangis teros, bagus kau do'akan Abangmu agar baik-baik saja! Abang pasti kuat, buktinya dia bisa mengucapkan ijab kabul dengan lancar," hibur ompung Norma pada cucunya.
"Wajah Abang tadi pucat kali, Ompung. Beda kali ma biasanya. Gita takut, Ompung. Takut Abang ninggalin Gita." ucap Gita sambil terisak.
Berulang kali Gita bermimpi abangnya meninggalkan dirinya seorang diri di taman. Tidak hanya itu saja, Gita juga pernah bermimpi dia melihat abangnya berada di taman yang indah dan luas, tapi begitu didekati abangnya tidak bisa disentuh bahkan pergi menghilang.
Gita sangat takut kehilangan saudara satu-satunya yang sangat disayangi. Mereka hanya dua bersaudara tapi kasih sayang keduanya tidak diragukan lagi. Mereka saling dukung dan saling mengisi kekurangan masing-masing.
__ADS_1
Satu jam Gita dan yang lainnya menunggu kabar Rendy. Mereka diam berdo'a untuk kesembuhan Rendy. Akan tetapi Allah berkehendak lain, Dia lebih menyayangi Rendy sehingga memanggilnya di saat usianya masih muda. Renaldy Pratama akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan sang istri, pujaan hati.
"Apa! Tak salah dengar 'kan aku?" teriak ompung Norma saat menerima panggilan telepon dari bebere-nya.
Gita yang mendengar neneknya teriak langsung mendekat.
"Ada apa Ompung?" tanya Gita sambil menggoyangkan tangan ompung Norma.
"Abang! Abang kau... huwaaaa!" ompung Norma tak bisa lagi berkata-kata dia malah menangis histeris.
Gita berinisiatif mengambil HP dari tangan neneknya.
"Allah lebih menyayangi Abang, Sayang," jawab pak Chandra lirih.
Pak Chandra merasa sangat kehilangan penerus keluarganya. Bagi sebagian besar orang di tempat mereka tinggal, anak pertama laki-laki adalah kebanggaan. Akan tetapi, selama ini pak Chandra tidak mau membanggakan anaknya. Padahal Rendy anak yang cerdas dan bertangan dingin, setiap usaha yang dirintisnya selalu berhasil.
Begitu banyak usaha yang telah Rendy dirikan sejak duduk di bangku SMA, dan semua usaha itu telah memberikan hasil yang menakjubkan. Sibuk merintis usaha membuat Rendy jarang masuk sekolah, sehingga pak Chandra menjadi marah tanpa mau mendengar alasannya apa, bahkan mengucilkan anak yang seharusnya dia banggakan.
__ADS_1
Pak Chandra mengetahui semuanya tentang Rendy baru beberapa bulan terakhir. Kini, hanya penyesalan yang mendalam sedang mendera pak Chandra. Di saat dia ingin memperbaiki kesalahannya, si anak sudah dipanggil Yang Maha Kuasa.
Penyesalan selalu datang belakangan dan terlambat untuk diperbaiki. Seperti halnya pak Chandra saat ini, dia tidak bisa lagi memperbaiki hubungannya dengan Rendy. Akan tetapi dia saat ini sangat bangga memiliki anak seperti Rendy. Semua usaha yang dia rintis bertujuan memberikan lapangan pekerjaan untuk mereka yang sangat membutuhkan. Walaupun Rendy sering gonta-ganti pacar, mabuk-mabukan dan merokok, dia berjiwa sosial yang tinggi.
Setelah selesai mengurus administrasi di rumah sakit, jenazah Rendy disemayamkan di rumahnya. Rencananya akan langsung dikebumikan di TPU setempat.
Ary begitu syok karena suami yang baru saja menyuntingnya dipanggil Allah setelah mengucap akad nikah. Tidak ada air mata yang keluar dari matanya tapi dadanya begitu sesak. Rasa sesak yang amat sangat sehingga nafasnya tersengal. Ary pura-pura tegar di hadapan semua orang, padahal hatinya sangat hancur.
Gita yang melihat keadaan kakak iparnya hanya bisa meneteskan air mata.
"Begitu besar cinta kalian tapi Allah tidak mengijinkan mereka untuk bahagia bersama. Semoga Kakak kuat menjalani hari tanpa Abang." gumam Gita sambil memandang kakak iparnya.
Gita saksi hidup bagaimana hancurnya Ary, sehingga dia semakin memupuk cintanya pada Brandon. Tanpa Gita tahu tindakannya yang terus memupuk rasa cintanya itu salah. Gita lupa jika kita tidak boleh terlalu mencintai ataupun membenci seseorang secara berlebihan.
Maaf ya gaesss, untuk cerita Brandon dan Gita aku slow up karena sedang fokus menulis cerita Frahma. Sambil menunggu Brandon dan Gita up, silahkan mampir ke novelku yang berjudul Menggapai Mimpi.
Caranya klik profil/avaku pilih judul Menggapai Mimpi.
__ADS_1
Terima kasih 🤗🤗🤗