
Gita terlalu fokus kuliah sehingga beberapa teman laki-laki yang berusaha mendekati diabaikannya. Gita benar-benar tidak mau menjalin hubungan pada siapapun.
"Hai, Girl!" sapa Leonard teman sesama magangnya di sebuah rumah sakit di Melbourne.
"Halo!" sahut Gita cuek. Dia terlihat dingin dan datar.
"Gila! Baru kali ini ada cewek yang nggak tertarik padaku." gumam Leonard ketika dilihatnya Gita yang tetap dingin dan datar padanya.
Leonard terpesona pada Gita saat baru pertama kali berjumpa di rumah sakit. Mereka sama-sama magang di rumah sakit tersebut untuk melengkapi tugas akhir sebagai syarat mendapatkan gelar dokter.
Leonard tidak hanya terpesona dengan kecantikan Gita, akan tetapi kepandaian dan sikap Gita membuatnya tertantang untuk mendapatkan cinta Gita.
"Apa kabarmu hari ini?" sapa Leonard basa-basi.
"Baik." sahut Gita singkat, padat dan jelas. Menunjukkan dirinya tidak tertarik terlibat obrolan.
Leonard hanya mengangguk tanpa berani melanjutkan obrolan karena sepertinya lawannya enggan diajak ngobrol.
"Okelah kalau begitu, aku duluan ya!" ucap Leonard akhirnya karena tidak tahu harus berkata apa. Nyalinya menciut karena setiap hari mendapatkan sikap dingin dan datar Gita.
Semua teman kuliah Gita sudah mengetahui seperti apa dan bagaimana Gita selama ini. Jadi mereka memilih diam dan tidak mengusik Gita. Selama ini Gita tidak pernah ikut campur ataupun mengusik orang lain.
Satu jam kemudian...
"Anggita!" panggil Thalia, teman sekelas Gita.
Gita yang merasa namanya dipanggil pun menoleh ke arah suara.
__ADS_1
"Iya?"
"Nanti malam ke club, yuk!" ajak Thalia.
"Club?" tanya Gita seraya memicingkan sebelah matanya.
"Iya! Nanti malam David merayakan ulang tahun, dia mengundang semua teman sekelas kita. Termasuk kamu!" jawab Thalia dengan wajah berseri karena mendapat undangan dari laki-laki yang menjadi most wanted di kampus elit itu.
"Sorry, aku tidak bisa!" ucap Gita menunjukkan mimik penyesalan. Dia berpura-pura menyesal tidak bisa ikut acara temannya itu. Padahal dalam hati kecilnya, Gita menolak keras datang ke club.
"Diusahakan 'lah! Masak kamu tega sama David. 'Kan tahu sendiri tidak ada yang bisa menolak permintaan dia. Cuma kamu sendiri yang menolak hadir. Datang saja walaupun hanya sebentar!" bujuk Thalia dengan mimik memelas.
"Kalau di club, terus terang aku tidak bisa. Lain halnya kalau di rumah makan, aku pasti datang." kata Gita beralasan agar tidak dipaksa untuk datang ke club.
"Ok! Nanti aku sampaikan pada David."
"Ada ya, jaman sekarang susah diajak ke club?" gumam Thalia sambil menggelengkan kepalanya heran.
Thalia yang asli Melbourne merasa heran pada Gita yang selalu menyendiri. Selalu ada alasan untuk menolak ajakan setiap kali diajak ke club.
Gita yang sudah sampai di perpustakaan pun mulai mencari buku referensi untuk tugas akhirnya. Hingga dia tidak sengaja menabrak seseorang yang juga hendak mengambil buku.
Bruggh...
"Aw..." teriak Gita begitu bo kongnya menyentuh lantai.
"Sorry!" ucap pemuda itu seraya mengulurkan tangannya untuk membantu Gita berdiri.
__ADS_1
Gita yang melihat tangan terulur langsung melihat ke arah tangan. Kemudian berpindah ke wajah pemilik tangan tersebut.
"Dandy?" jerit Gita tanpa sadar karena saking bahagianya, bertemu dengan orang yang satu negara.
"Ssstttt!" Sebagian besar penghuni perpustakaan mengingatkan karena terusik dengan suara Gita.
Gita langsung menunduk malu mendapatkan teguran karena berisik di perpustakaan.
"Apa kabar?" tanya Dandy dengan berbisik.
"Alhamdulillah. Kamu sendiri ngapain di sini?" sahut Gita.
Mereka berdua menjadi teman akrab karena sama-sama mewakili pertukaran mahasiswa kala itu. Dandy kembali melanjutkan kuliahnya di kampus yang mengirim, sedangkan Gita memutuskan pindah kuliah.
"Gue ambil magister di sini. Rugi kalau sudah pernah merasakan kualitas pendidikan di sini, tetapi tidak melanjutkannya." ungkap Dandy.
"Iya, sih! Itulah alasannya kenapa aku memilih melanjutkan kuliah di sini hingga wisuda. Sudah merasakan enak dan nyaman di sini, akhirnya males pulang aku." cerita Gita.
"Iya sih. Itu juga alasanku balik ke sini. Ambil magister akuntansi."
"Kamu sudah dapat buku yang dicari?"
"Sudah! Ini." jawab Gita sembari menunjukkan buku yang dicari tadi.
"Okelah kalau begitu! Aku juga sudah dapat, jadi kita bisa makan siang bersama. Iya 'kan?" ucap Dandy.
"Boleh! Kebetulan aku juga sudah lapar." jawab Gita dengan senyum mengembang.
__ADS_1