Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
22. Kedatangan Brandon


__ADS_3

Brandon mendatangi orang tua Gita di Sumatera Utara. Dia datang dengan alasan meminta tanda tangan. Ada beberapa dokumen pengalihan hak kepemilikan saham. Ary memberikan separuh kepemilikan saham pada Gita. Sehingga Brandon harus memberitahu pada Gita dan keluarganya.


"Ini semua sudah menjadi hak Ary sepenuhnya. Termasuk rumah sakit yang kami bangun ini. Kami tidak memiliki hak sama sekali karena itu semua peninggalan sang suami. Walaupun suaminya yang meninggal itu anak kami, akan tetapi kekayaan yang diwariskan pada Ary itu adalah hasil kerja keras anak kami semasa hidup. Jadi itu semua hak Ary. Kami tidak bisa menerima." tolak pak Chandra secara halus. Beliau tidak ingin mengambil hak milik orang lain, walaupun itu peninggalan almarhum anaknya.


"Tapi Pak..."


"Tidak ada kata tapi, sejak awal sudah pernah kami sampaikan pada Ary. Kami tidak memiliki hak pada harta peninggalan Rendy." Pak Chandra tetap menolak pemindahan kepemilikan saham pada Gita.


"Begini saja, Pak. Biar sama-sama enak, sebaiknya kita tanyakan dulu pada Gita. Walau bagaimanapun juga, Ary menyerahkannya pada Gita bukan pada Bapak. Jadi biarkan Gita yang ambil keputusan. Bagaimana?"


"Keberadaan Gita saja kami tidak tahu. Bagaimana mau menanyakan pendapat dia?" Pak Chandra seolah menutup jalan agar pemindahan kepemilikan saham tidak terjadi.


"Bapak 'kan orang tua Gita. Masak Gita tidak pernah menghubungi Bapak atau Ibu? Rasanya tidak mungkin 'kan?" Brandon masih tetap mencari cara untuk mengetahui keberadaan Gita dengan cara halus.


Pak Chandra tampak berpikir sejenak. Dia bingung apakah akan memberitahu Brandon atau tidak. Selama ini beliau sudah berjanji tidak akan memberitahu keberadaan Gita pada siapapun.

__ADS_1


"Gita memang menghubungi kami seminggu dua kali. Tetapi dia menggunakan fasilitas umum sepertinya, soalnya nomornya selalu ganti. Tidak pernah sama." Pak Chandra mencari alasan agar Brandon percaya.


"Hmm... maaf, Pak. Apakah Gita pernah mengirimkan foto atau post card?" Brandon kembali bertanya tanpa kehabisan akal.


"Tunggu sebentar!" Pak Chandra mulai mengingat-ingat.


"Ada, dia ada kirim post card ngucapin selamat Hari Raya Idhul Fitri kalau tidak salah."


"Ma, Mama! Coba kau carikan post card yang dikirim sama anak kau waktu itu!" teriak pak Chandra pada istrinya yang saat ini berada di ruang belakang.


"Apa sih, Pa?" tanya mama Hotma seraya mendekati suaminya, pak Chandra.


"Oh, itu. Tunggu sebentar, Mama cari dulu!" sahut mama Hotma.


Mama Hotma pun kembali ke belakang mengambil post card yang disimpannya di ruang keluarga.

__ADS_1


"Ini 'kan, Pa?" tanya mama Hotma sembari menyerahkan dua lembar post card kiriman Gita.


"Coba Papa lihat dulu, Ma!"


Setelah membaca tulisan yang tertera dalam kertas tersebut, pak Chandra memberikannya pada Brandon.


Brandon menerima kartu itu dengan wajah berseri. Dia akan segera menemukan keberadaan Gita, wanita yang telah membuatnya resah selama dua tahun terakhir ini.


Huhhh...


Brandon pun mulai membaca dan mencari alamat si pengirim, namun hasilnya nihil. Di kartu itu hanya terdapat gambar sebagai background kartu. Background itu menggambarkan obyek wisata yang ada di Melbourne. Bisa dikatakan sebagai icon daerah tersebut.


Brandon pun diam-diam memotret kartu tersebut untuk diteliti lebih lanjut. Selain itu dia juga menyadap ponsel milik pak Chandra. Sebagai seorang yang mengetahui tentang seluk beluk komputer dan IT, Brandon bisa dengan mudah melakukan semua itu. Hanya saja cara untuk mendekati keluarga Gita terasa sulit setelah kepergian Gita keluar negeri.


"Baiklah kalau begitu, jika Gita kembali menghubungi Bapak atau Ibu. Tolong sampaikan tentang pemindahan kepemilikan saham ini. Agar semua semakin mudah dilakukan, tidak ada ganjalan dari kedua belah pihak. Saya pun juga merasa tidak terbebani dengan masalah ini, jika cepat diselesaikan." tutup Brandon karena dia harus segera kembali ke Yogya. Sudah satu Minggu Brandon berada di pulau Sumatera dalam rangka mengembangkan bisnis peninggalan Rendy tersebut.

__ADS_1


"Maaf ya, Nak Brandon. Nak Brandon menjadi repot karena masalah kepemilikan saham. Padahal kami sudah ikhlas, semua warisan jatuh pada Ary." Pak Chandra meminta maaf karena sudah menyita waktu Brandon.


"Tidak masalah, Pak. Ini sebenarnya sekalian jalan. Saya harus mengunjungi beberapa tempat di pulau Sumatera ini buka cabang outlet komputer produksi kami. Jadi saya tidak repot sama sekali." jawab Brandon.


__ADS_2