Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
62. Mulai Menjalankan Rencana


__ADS_3

Malam harinya, pak Gunadi menghubungi Brandon untuk menanyakan keputusannya. Dia meminta Brandon datang ke rumahnya pada jam makan malam, dengan alasan mengundang makan malam. Hal itu diterima Brandon dengan senang hati.


Masuk ke dalam perangkap agar tahu seberapa kuat perangkap yang dipasang dan seberapa hebat si pemasang perangkap. Brandon harus ekstra hati-hati dan waspada selama berada dalam perangkap tersebut. Atau dia akan kehilangan semuanya.


Brandon datang menggunakan pakaian kaos putih dan ditutup dengan jaket berwarna biru. Dia merasa tidak perlu berpakaian formal, toh hanya makan malam biasa tidak ada hubungannya dengan bisnis.


Brandon pun membeberkan keputusannya di depan pak Gunadi dan anak istrinya. Dia setuju menikah dengan Kia, tapi dengan syarat dia memiliki kuasa atas Guna Group. Pak Gunadi setuju memberikan beberapa sahamnya untuk Brandon. Brandon pura-pura menolak pemberian tersebut. Dia mengatakan bahwa dia akan malu jika masuk ke Guna Group tidak memiliki taring.


Pernikahan mereka pun segera ditetapkan, lagi-lagi Brandon meminta pernikahan mereka dilangsungkan secara sederhana. Jika memaksa dengan pernikahan mewah dan megah, lebih baik pernikahan batal.


Akhirnya disepakati mereka hanya mengucap akad nikah pada siang hari, dilanjutkan dengan makan bersama kolega bisnis. Tidak banyak tamu undangan sesuai permintaan Brandon. Hanya keluarga dan kolega bisnis saja.


Kia yang sangat menginginkan pernikahan mewah nan megah pun hanya bisa menggigit jari. Brandon tetap kekeuh dengan keputusannya, dia tidak mau merubah apa yang menjadi keputusannya. Sehingga Kia harus mengalah atas setiap keputusan Brandon. Demi mendapatkan seorang Brandon, dia rela melakukan apapun. Bahkan memfitnah.

__ADS_1


*


*


*


Gita kembali ke kampung halamannya di Sumatera Utara, sehari setelah pamit pada Leonard. Sedangkan Leonard sendiri memilih kembali ke Melbourne, karena sang pujaan hati tidak mau menemaninya traveling di kota Gudeg itu.


Seminggu di kampung halaman, Gita kembali ke Melbourne. Dia mulai mengurus beasiswa yang ditawarkan oleh pihak kampusnya dulu. Sesuai nasehat sang ayah, Gita mengambil magister manajemen pelayanan kesehatan yang biasa mendapat gelar master of public health. Hal ini ditujukan agar Gita nantinya bisa mengelola rumah sakit mereka dengan baik.


Hari pertama Gita kembali ke kampus untuk mengurus administrasi, dia berjumpa dengan Dandy.


"Hai, Gita! Apa kabar? Long time no see." sapa Dandy seraya mendekati Gita.

__ADS_1


"Eh, hai Dan!" sahut Gita dengan senyum manisnya yang melelehkan hati setiap pria yang melihatnya.


"Kamu habis pulang kampung, kok nggak pernah kelihatan?" tanya Dandy begitu Gita mau berjalan sejajar dengannya.


"Iya, sudah tiga tahun aku meninggalkan kampung halamanku. Mumpung masih ada waktu, sehingga aku menyempatkan diri pulang. Untuk melepas rindu."


"Rindu kampung halaman atau rindu pujaan hati?" ledek Dandy dengan senyum terkulum.


"Dua-duanya, hehehe!" aku Gita sembari memamerkan deretan gigi putihnya.


"Yaa... patah hati dong, Gue!" gumam Dandy sendu, raut wajahnya seketika mendung ketika mendengar jawaban Gita.


Dandy merasa tidak punya kesempatan lagi untuk mendapatkan Gita. Pengakuan Gita yang menemui pujaan hatinya membuat hatinya sesak. Padahal dia belum tahu keberadaannya.

__ADS_1


"Kita 'kan masih bisa berteman, Dandy! Teman itu lebih erat ikatannya dari pada pacar. Teman tidak memiliki beban tanggung jawab moral, sedang seorang pacar bila menjadi mantan akan sangat menyakitkan." tutur Gita panjang lebar yang hanya ditanggapi dengan memutar bola mata malas oleh Dandy.


"Aku maunya kamu jadi teman hidup, bukan teman bermain saja!" jawab Dandy yang membuat Gita kelabakan tidak tahu harus menjawab apa.


__ADS_2