
"Kenalkan Mr. William dia investor asing yang menanamkan modal di perusahaan kita!" ucap Brandon ketika Ary akhirnya menemuinya.
"Perusahaan kita?" tanya Alex menggebu sambil menautkan kedua alisnya.
"Eh, maaf. Maksudnya perusahaan saya!" sahut Brandon tergagap karena mendapat tatapan tajam dari Ary.
Ary sengaja meminta Brandon dan Rommy serta keluarganya, untuk merahasiakan jika dia memiliki lima puluh persen saham di Rend's Comp. Tidak hanya saham, bahkan beberapa rumah dan ruko peninggalan Rendy lebih dari cukup untuk membiayainya seumur hidup.
Mr. William dan Ary berjabat tangan, kemudian keduanya terlibat obrolan bisnis (menggunakan bahasa asing, anggap saja seperti ituðŸ¤).
Alex yang menguasai beberapa bahasa asing. menyimak obrolan mereka. Dia menunjukkan mimik wajah datar. Akan tetapi sesekali dahinya berkerut seolah sedang berpikir berat.
Tak lama berbincang, Mr. William mengajak Brandon pamitan karena dia masih ada perjalanan bisnis ke Bali.
*
*
*
Brandon tiba di ruko yang merupakan outlet sekaligus tempat tinggal. Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Dia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur.
"Gita... Kamu dimana sih? Apa kamu tidak tahu kalau Ary menikah hari ini? Seharusnya kamu datang untuk melihat senyum kakak iparmu yang kembali merekah. Baru kali ini aku melihatnya tersenyum tanpa menutupi kesedihannya." gumam Brandon lirih.
__ADS_1
Malam ini dia tidak bisa tidur karena memikirkan keberadaan Gita. Dia sudah bertanya pada keluarganya, bahkan dia juga mendatangi kampus Gita. Sewaktu bertanya bagian administrasi, ada pertukaran mahasiswa. Gita sebagai perwakilan dari kampus tersebut, jadi Gita dituntut untuk lebih Gita belajar. Oleh karena itu, Gita tidak boleh terlalu sering menghubungi keluarga ataupun teman. Akan ada jadwal di hari tertentu untuk komunikasi dengan mereka.
"Masih ada harapan bertemu dengannya setelah acara pertukaran mahasiswa usai. Semoga waktu cepat berlalu, sehingga cepat mempertemukan kita..."
Setelah lelah pikirannya berkelana, akhirnya Brandon pun tertidur.
Sementara itu, Gita sudah terlelap dalam buaian mimpi.
Selama satu Minggu di Melbourne, Gita merasakan rindu yang sangat pada suasana kota Gudeg. Dia merindukan teman-teman dan juga keluarganya. Tidak hanya itu saja, dalam hati kecil dia ingin sekali melihat mantan kakak iparnya menikah. Akan tetapi tekad yang sudah bulat membuat ia betah di tempat baru.
Keesokan harinya, Gita bangun kesiangan karena kelelahan mengurus segala sesuatu di kampus barunya.
"Aduhhh, kesiangan. Mana ada kuliah pagi lagi." gerutu Gita seraya memasuki kamar mandi.
Perwakilan dari kampus Gita ada dua orang, dia dan Dandy. Mereka berdua tidak kenal akrab karena beda fakultas. Gita fakultas kedokteran sedang Dandy perwakilan dari fakultas ekonomi.
"Hai, Dan!" sapa Gita saat berpapasan dengan Dandy di kampus.
"Eh, Anggi. Ada kuliah pagi juga?" sahut Dandy.
Gita yang dipanggil Anggi oleh Dandy pun pasang wajah cengo.
"Ups, sorry. Gue lebih nyaman panggil nama depan Lo aja. Jangan marah!" ujar Dandy saat menyadari dirinya salah sebut.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, it's ok! Selama itu masih namaku. Tak masalah." Gita tersenyum memamerkan gigi putihnya.
"Sorry, Gue duluan! Takut telat." Gita meninggalkan Dandy karena waktunya sudah mepet. Dia tidak ingin ketinggalan kelas di hari pertama kuliah.
Dalam kelas Gita, banyak mahasiswa yang berasal dari beberapa negara. Mereka semua berasal dari program pertukaran mahasiswa. Mereka kuliah seperti biasa, hanya saja cara belajarnya yang sedikit berbeda.
*
*
*
Hari berlalu begitu cepat, sudah dua tahun Gita berada di Melbourne untuk menimba ilmu. Sebenarnya pertukaran mahasiswa hanya selama satu semester saja. Akan tetapi Gita memutuskan pindah kuliah. Sehingga dia tetap melanjutkan kuliahnya di universitas tersebut.
Sejak kejadian malam itu, dimana Brandon mengambil harta yang paling berharganya. Gita tidak pernah mau dekat dan menjalin hubungan dengan lawan jenis. Gita setiap hari hanya belajar dan belajar. Sehingga dalam waktu dekat dia akan wisuda jika tidak ada halangan.
Gita sudah mentargetkan lulus satu semester lagi. Sehingga tidak ada waktunya untuk bermain atau pun bersenang-senang.
Untungnya kejadian malam itu tidak meninggalkan bekas, sehingga Gita bisa menjalani hari-harinya dengan tenang. Hanya saja kejadian itu membuatnya trauma untuk membina suatu hubungan dengan lawan jenis.
"Mama... Gita kangen!" gumam Gita lirih seraya mengusap layar ponselnya yang menunjukkan foto kedua orang tuanya.
Tidak hanya kedua orang tuanya, Gita juga merindukan mantan kakak iparnya. Ary.
__ADS_1
"Kakak, aku dengar kamu sudah memiliki baby twins. Pasti kakak sekarang sudah bahagia. Semoga abang bahagia di surga, melihat kakak bahagia." Gita menggulirkan tombol sehingga muncul foto pernikahan Ary dan Rendy beberapa tahun lalu.