
Kabar kedekatan Leonard dan Gita pun tercium oleh keluarga Leonard. Selama ini sebenarnya Leonard selalu ingin membawa Gita ke rumahnya, mengenalkan pada orang tuanya. Akan tetapi Gita tidak pernah mau, Leonard pun tak ingin memaksa.
Ibu Leonard yang jarang mendatangi rumah sakitnya pun mendatangi rumah sakit itu, hanya untuk mengetahui kebenarannya.
"Kamu yang bernama Anggita?" tanya nyonya Elisabeth Gladston, ibunda Leonard Gladston.
Gita yang saat itu hendak mengunjungi pasien rawat inap pun menghentikan langkahnya.
"Iya, saya. Ada yang perlu saya bantu?" jawab Gita dengan anggun, dia tidak mengenali calon mertuanya karena sebelumnya belum pernah bertemu sama sekali.
"Jauhi anakku! Aku sudah memilihkan jodoh untuknya. Jadi jangan harap aku akan menerima kamu nanti," ucap nyonya Elisabeth, tampak rasa tidak suka di wajahnya.
"Maaf, Nyonya! Saya tidak mengerti maksud Anda. Permisi!" jawab Gita tanpa rasa takut sedikitpun pada wanita berdarah biru di hadapannya itu.
Leonard merupakan keturunan bangsawan di negara itu. Keluarga Gladston sudah terkenal di negara itu, bahkan sampai keluar negeri. Tidak hanya rumah sakit, Gladston juga memiliki beberapa perusahaan di sektor penting. Sehingga tidak heran, jika orang tua Leonard sudah menyiapkan jodoh untuknya.
__ADS_1
Gita meninggalkan nyonya Elisabeth dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak menyangka jika hubungannya dengan Leonard terhalang restu. Sikap Leonard bertolak belakang dengan ibunya. Leonard yang ramah dan humble berbeda jauh dengan ibunya yang angkuh dan sombong.
"Kenapa jadi seperti ini? Apakah aku tidak boleh menentukan sendiri siapa yang akan menjadi pendampingku? Kenapa setiap aku mulai mencintai seseorang selalu saja ada halangan? Aku juga ingin dicintai seperti orang lain. Ya Allah apa salahku? Kenapa engkau hukum aku dengan semua ini?"
Gita menarik napas sepenuh dada kemudian membuangnya kasar. Setelah itu, dia memasuki ruang rawat anak, mulai memeriksa pasien satu persatu.
Satu jam berlalu, pasien rawat inap yang ditangani Gita sudah selesai diperiksa semua. Gita pun memutuskan untuk segera pulang. Dengan berjalan tergesa-gesa Gita meninggalkan rumah sakit milik Gladston.
Leonard yang kedatangan ibunya pun sedikit melupakan kekasih hatinya. Ibu dan anak itu asik berbincang tanpa sadar waktu terus berjalan.
"Pulanglah! Kami semua merindukanmu. Apa kamu tidak ada keinginan untuk pulang ke rumah utama?" kata nyonya Elisabeth setelah mereka berbincang lebih dari satu jam.
"Besok jangan lupa jam tujuh malam, kita ada acara makan malam bersama dengan keluarga Winston. Mommy harap kamu datang!" ucap nyonya Elisabeth seraya berdiri dari tempat duduknya.
"Mommy pulang, kamu jangan lupa apa yang Mommy katakan tadi!" imbuh nyonya Elisabeth kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Setelah kepergian ibunya, Leonard tersadar jika dia belum menemui kekasihnya sehari ini. Dia pun segera berlari meninggalkan ruangan itu menuju ruangan Gita.
Dengan napas terengah-engah, Leonard membuka pintu ruangan itu. Ternyata terkunci, tanda bahwa pemilik ruangan telah meninggalkan tempat itu.
"****!" umpat Leonard seketika.
Dia pun berjalan lunglai kembali ke ruangannya. Begitu sampai dia langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di meja, lalu mulai mendial nomor pujaan hatinya.
Berulangkali mendial nomor itu, akan tetapi tidak ada tanggapan sama sekali. Kecuali suara operator.
Sementara itu, Gita sedang sibuk berbelanja di sebuah supermarket yang dekat dengan apartemennya.
Saat sedang asik memilih daging, ada suara seseorang yang telah lama dirindukannya selama ini.
"Jangan lupa lebel halalnya ada atau tidak!" tegur orang itu ketika Gita memilih daging.
__ADS_1
Gita mengangkat wajahnya, netranya menangkap wajah seseorang yang dikenalnya. Betapa terkejutnya ia, mendapati orang itu di depan matanya.
"Ka-kamu?"