Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
75. Dijodohkan dengan Pariban


__ADS_3

Ompung Norma beserta anak dan menantunya sedang duduk-duduk di teras rumah sambil mengawasi karyawan yang menimbang buah sawit.


"Chandra, anak Miranti yang duda itu sudah menikah lagi apa belum?" tanya ompung Norma sembari mencongkel buah pinang. Ompung Norma sudah terbiasa memakan pinang jika sedang duduk santai.


"Seingatku belum, Bu. Ada apa?" sahut pak Chandra pada mertuanya.


"Bagaimana kalau kita jodohkan Gita dengan Rizal?" usul ompung Norma.


"Sebaiknya jangan, Bu! Biarkan anak-anak memilih pasangannya sendiri. Jika terjadi sesuatu pada pernikahan mereka nantinya tidak menyalahkan kami."


"Tak pernah kutengok si Gita bercewek. Mamak hanya takut tak laku nanti anak kau itu. Usianya sudah pantas untuk menggendong anak. Tak kau pikirkan bagaimana nanti kalau Gita jadi pera wan tua. Mamak hanya kasih pendapat, diterima sukur tidak pun tak apa!" cetus ompung Norma dengan logat Bataknya.


"Bu, jaman sekarang itu sudah biasa menikah di usia matang. Jodoh itu sudah digariskan oleh Allah, kalau sudah jodoh pasti bertemu. Ibu tidak usah risau memikirkan itu semua. Gadis secantik dan sepandai Gita pasti banyak yang mau," sanggah pak Chandra lembut, dia tidak ingin dibilang melawan orang tua.


"Betul itu, Mak! Pasti banyak yang mengantri pahopu Mamak itu," timpal mama Hotma sembari membuka toples berisi keripik pisang.


"Rizal itu anak kyai, anak pondokan! Jadi cocok dijadikan bebere. Bisa bawa kita masuk surga. Dia itu ustadz 'kan?" Ompung Norma masih melanjutkan bahasannya.

__ADS_1


"Bang Parlin itu memang kyai, pondoknya saja memiliki santri hingga ribuan. Itulah kenapa, Kak Miranti jarang ke sini karena membantu Bang Parlin mengurus pondok. Jadi wajar jika Rizal pun membantu ayahnya mengurus pondok."


"Jika kita menjodohkan Rizal dengan Gita, aku yang takut. Takut anakku tidak bisa masuk ke pondok. Gita sudah terbiasa hidup bebas di luar negeri. Apa dia bisa menyesuaikan diri tinggal di pondok? Terus, apakah Rizal mau menerima Gita yang sudah terbiasa dengan gaya hidupnya yang sekarang? Aku hanya tidak ingin kecewa karena terlalu mengharapkan menantu sesempurna Rizal, Bu," tutur pak Chandra membeberkan apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Mencoba memberi pengertian pada ibu mertuanya.


"Kalau aku sih, terserah Gita saja! Aku dulu nikah milih sendiri, masak mau maksa anak buat dijodohkan," celetuk mama Hotma sambil mengunyah keripik pisang yang sudah masuk ke mulutnya.


"Kamu itu ngomong tapi mulut penuh! Tersedak tahu rasa," ucap pak Chandra sembari mengambil gelas besar berisi teh manis dingin, kemudian meminumnya.


"Do'amu, Bah!" dengkus mama Hotma, memutar bola matanya jengkel.


"Bukan mendo'akan, hanya mengingatkan!"


"Bercanda, Mamak! Tak bisa diajak bercanda, Mamak ini bah," sahut Hotma cuek.


*


*

__ADS_1


*


Gita gelisah karena tadi saat mengantarkan dirinya pulang, Leonard kembali menyatakan cintanya. Kali ini bukan permintaan sebagai pacar, akan tetapi sebagai istri. Leonard tidak hanya membawa buket bunga, dia juga membawa cincin sebagai simbol bersatunya dua hati manusia yang saling memuja.


"Aku harus bagaimana? Aku tidak memiliki rasa apapun padanya. Selain itu aku tidak mau dicap pelakor ataupun wanita penggoda."


"Apa aku terima saja cinta Leonard ya? Setahuku dia laki-laki yang baik, tidak ada alasan untuk menolaknya lagi!"


Di saat Gita sedan asik melamun memikirkan lamaran dari Leonard, dering ponsel milik Gita berbunyi sehingga lamunannya harus dihentikan dengan paksa.


"Iyaa?"


"Apa kabar kampung halaman?" lanjut Gita kemudian.


"Alhamdulillah, semua baik dan aman terkendali." jawab pak Chandra.


"Ada apa, Pa? Tumben malam-malam begini telepon."

__ADS_1


"Ompung ingin menjodohkan kamu dengan paribanmu. Bagaimana?"


"Apa? Dijodohkan dengan Pariban? Yang benar saja, Pa? Kita tidak hidup di jaman Siti Nurbaya kok masih dijodohkan. Ada-ada saja, huhh!" cerocos Gita tak mau diam. Dia merasa sangat syok mendengar perjodohannya telah diatur oleh keluarganya dengan sepupu sendiri.


__ADS_2