Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
Bonchap Leonard dan Eleanor


__ADS_3

"Ahh... Sshhh..."


Terdengar suara de sah an dari kamar Leonard. Saat ini Eleanor baru saja pulang dari rumah orang tuanya. Ada acara jamuan makan malam malam dengan beberapa rekan bisnis sang ayah.


Suara de sah an itu semakin jelas terdengar di telinga Eleanor manakala dia berada di depan pintu kamar suaminya, Leonard.


Pintu kamar yang tidak tertutup sempurna, membuat Eleanor bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di dalam kamar itu.


Betapa terkejutnya dan sakit hatinya, melihat suaminya sedang bercumbu dengan wanita lain di depan mata kepalanya. Selama ini suaminya lebih baik membayar ja Lang untuk memuaskan naf sunya, dibandingkan melakukan dengan dirinya yang telah sah menjadi istri.


Eleanor hanya bisa mengusap da danya. Dia berlari memasuki kamarnya. Menutup pintu depan kasar dan bersandar di balik pintu. Tubuh Eleanor merosot, terduduk sembari menangis tergugu.


Ya, Eleanor hanya bisa menangis untuk meluapkan perasaannya. Da danya terasa seperti dihimpit batu besar. Sesak!


"Apa salahku hingga kamu tega lakukan ini padaku? Kenapa kamu tega padaku, Le? Seharusnya kamu ceraikan aku saja, jika tidak mau menerimaku. Jangan siksa aku seperti ini! Huhuhu..."


Suara tangis Eleanor begitu menyayat hati. Akan tetapi suara itu tidak terdengar oleh dia insan yang sedang memadu kasih. Hal ini dikarenakan, semua kamar di rumah itu sudah kedap suara. Sehingga suara apapun tidak akan terdengar keluar.


"Untuk apa aku menangisi dia? Sedangkan dia tidak peduli pada perasaanku sama sekali! Aku harus bangkit! Semakin aku menunjukkan kelemahanku, dia semakin menindasku. Sudah saatnya berhenti meratapi cinta!" monolog Eleanor menyemangati dirinya sendiri.


Setelah puas menangis, Eleanor bangkit kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Selesai dengan ritual mandinya, Eleanor memoles make up tipis ke wajahnya. Di membubuhkan lipt gloss warna nude agar tidak terlihat pucat.

__ADS_1


Eleanor kemudian keluar kamar menuju dapur. Suara de sah an itu masih terdengar jelas di telinga Eleanor saat melewati kamar itu. Sepertinya kamar itu sengaja dibuka oleh Leonard, untuk menyakiti perasaan sang istri.


"Ahhh... faster baby... ssshhh..."


Eleanor melanjutkan langkah kakinya menuju dapur, cacing di perutnya sudah protes minta makan. Tadi saat di rumah orang tuanya, dia tidak selera untuk makan. Alhasil sekarang cacing di perutnya pun demo karena dibiarkan kelaparan oleh induk semangnya.


Eleanor mengambil dua lembar roti tawar kemudian mengolesnya dengan margarin. Dipanaskannya teflon, diambilnya daging giling dan telur dari kulkas. Telur dan daging itu dikocok jadi satu, tambah dengan garam dan lada sedikit. Lalu dituang ke dalam teflon tersebut. Sembari menunggu masak, diambilnya dua lembar daun selada kemudian mencucinya.


Daging giling yang sudah masak itu diletakkan di atas roti tawar, kemudian ditambahkan daun selada dan potongan tomat serta dibubuhi dengan mayonaise. Jadilah burger sederhana siap santap (makanan kesukaan bocilku 🤭).


Setelah menyantap habis makanannya, Eleanor kembali ke kamarnya.


"Aku harus kuat! Aku pasti bisa! Semua demi kedua orang tuaku. Aku akan mengumpulkan bukti perbuatan Leonard agar kami bisa berpisah. Lebih baik sendiri dari pada setiap hari harus menahan rasa sakit."


Eleanor tidur dengan senyum mengembang di bibirnya. Dia sudah bertekad berdamai dengan hatinya. Cinta tak harus memiliki. Lebih baik melepas dari pada menggenggam. Seerat apapun sesuatu digenggam, jika itu bukan takdirnya pasti akan terlepas.


Semakin erat kita menggenggam, maka kemungkinan akan memiliki seutuhnya akan hilang. Seperti pasir yang digenggam, semakin erat digenggam dia akan keluar dari celah jari kita. Ibarat makanan, semakin kita genggam maka makanan itu akan hancur dan tidak bisa dinikmati.


Pagi harinya, Eleanor terbangun dengan wajah yang segar karena tidurnya sangat nyenyak.


"Selamat pagi, Dunia! Mulai hari ini aku harus bangkit, aku tidak ingin tertindas lagi!"

__ADS_1


Eleanor bangun pagi dengan sejuta rencana untuk lepas dari belenggu pernikahan tanpa cinta ini.


*


*


*


Sembari menunggu GiBrand up, mampir yuk ke karya recehku yang lain. Masih sepi banget 😭


Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya 🤗



Sebatas Rasa...


Itulah yang dirasakan oleh Rio. Mencintai wanita yang juga dicintai oleh sahabatnya, membuat Rio lebih memilih mundur dan mengubur perasaannya dalam-dalam.


Melihat wanita yang dicintainya bahagia dia pun ikut bahagia. Bahkan segala usaha dia lakukan agar sang wanita bahagia. Semua usahanya untuk membahagiakan dilakukan tanpa ada yang tahu. Cukup dirinya dan Tuhan saja yang tahu. Tanpa sedikitpun ingin memiliki sang pujaan hati. Dia memilih mundur asalkan sahabat dan pujaan hatinya bahagia.


Setelah memastikan wanita pujaan hatinya bahagia, Rio pun memilih untuk mengabdikan hidupnya pada sang bunda. Setelah beberapa bulan tinggal bersama sang bunda, Rio akan dijodohkan dengan adik sang sahabat.

__ADS_1


Apakah Rio akan menerima perjodohan itu, ataukah memilih wanita lain?


Yuk kita kawal Rio untuk menemukan cinta sejatinya!


__ADS_2