Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
11


__ADS_3

Brandon menghubungi Ary menggunakan kartu yang biasa dipakai Rendy. Sampai saat ini Ary masih mengaktifkan kartu tersebut untuk urusan bisnis peninggalan Rendy.


Brandon pun menjelaskan beberapa alasan yang mengharuskan Ary terjun langsung ke dunia bisnis. Berbagai alasan dan bujukan Brandon kemukakan agar Ary mau ikut memikirkan kelangsungan usaha mereka. Akhirnya Ary mau membantu mengurus usaha tersebut walaupun hanya seminggu sekali.


Brandon dan Rommy mengajari Ary dalam berbisnis. Ary yang cerdas dan cepat tanggap pun bisa dengan cepat belajar. Sehingga tidak butuh waktu lama, usaha mereka mendapatkan investor.


"Ar, jangan lupa besok ketemu sama investornya!" ucap Brandon dari sambungan telepon.


"Iya, aku usahakan. Aku kadang lupa, nanti ingetin ya," sahut Ary.


"Pasang pengingat atau alarm gitu, nggak bisa?" tanya Brandon.


"Bisa! Kalau pas gak ada pasien bisa langsung aku buka tapi jika ada pasien gak bisa langsung lihat. HP ketika bekerja selalu aku taruh di meja atau di tas, jadi jarang pegang HP," jelas Ary.

__ADS_1


"Oh, oke. Kalau begitu besok pagi aku hubungi kamu," ucap Brandon akhirnya mengalah.


Sebenarnya Ary bisa saja pulang ke Yogya malam ini, akan tetapi dia merasa kasihan jika mengganggu hari libur sang sopir. Setiap pulang malam dia selalu menggunakan sopir dari rumah sakit. Setiap weekend jika dia ingin pulang ke rumah orang tuanya atau ke rumah peninggalan suaminya, dia selalu membawa mobil sendiri.


Keesokan harinya, selepas solat subuh, Ary sudah bersiap berangkat ke Yogya untuk menemui investor yang hendak menanamkan modalnya. Sebenarnya dia tidak mau ikut andil mengurus usaha peninggalan suaminya, akan tetapi para sahabat suaminya memaksa.


Tidak mudah bagi Ary membagi waktunya sebagai seorang dokter dan pengusaha. Ary akan berusaha membaginya walaupun begitu dia harus kekurangan jam istirahat.


Ary sampai di ruko sekitar jam sembilan pagi, ternyata di jam tersebut ruko sangat ramai pengunjung. Saking ramainya, para karyawan tidak ada yang menyadari kedatangan sang pemilik. Ary langsung naik ke ruangan dimana dulu ditempati Rendy.


"Eh, nyonya besar sudah datang. Silakan duduk! Jam berapa dari Kulonprogo?" cerca Brandon yang menyadari kedatangan Ary.


"Habis subuh aku berangkat. Lain kali jangan panggil nyonya besar. Kita sama aja kedudukannya, gak ada nyonya-nyonyaan kalau mau aku gabung," ujar Ary dengan ancaman dan wajah datar tentunya. Brandon hanya nyengir mendengar kata-kata Ary.

__ADS_1


Brandon sering melihat wajah datar Ary, sehingga dia tidak takut suatu saat nanti Ary akan menggodanya. Pengalamannya selama ini jika dia dekat dengan wanita, dialah yang selalu dikejar. Sialnya selama ini jika ada yang menyukainya dia selalu merasa risih.


"Sudah siap bertemu dengan investornya?" tanya Brandon ketika Ary sudah duduk di sofa.


"Jam berapa pertemuannya?" sahut Ary sambil duduk menyender, tampak gurat kelelahan di wajahnya.


"Nanti jam sebelas, kalau kamu capek bisa tidur dulu di kamar. Ada kamar kosong bekas Rendy di lantai tiga. Tunggu sebentar, biar aku suruh Yuna untuk membereskan," ucap Brandon.


Brandon pun menghubungi Yuna agar membersihkan kamar Rendy yang sudah lama tidak ditempati. Kamar itu tidak pernah dibuka jendelanya, hanya dibersihkan dan diganti spreinya.


Ary menghidupkan AC kamar itu, kemudian membuka tirai dan jendela yang menghadap ke jalan raya. Pemandangan yang indah jika dilihat di malam hari, jika siang hari hanya lalu lalang orang lewat saja yang terlihat.


Ary mengusap foto Rendy yang terpajang di atas nakas.

__ADS_1


"Abang, kamu sudah tidak merasakan sakit lagi. Tenang di surgaNya ya, sayang," ucap Ary sambil mengusap foto yang dipegangnya.


Ary duduk di ranjang sambil berselonjor kaki dengan tubuh bersandar di headboard ranjang. Matanya terpejam dengan tangan mendekap erat figura foto. Tak lama kemudian dia pun terlelap di alam mimpi.


__ADS_2