
Setelah memastikan bahwa Gita sudah bisa ditinggal bersama temannya, Ary meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, Brandon yang resah dan gelisah di kantornya mendapat tamu.
"Masak aku cemburu sih."
"Apa mungkin ini rasa cemburu? Aku 'kan tidak mencintainya. Tidak! Ini bukan cemburu, ini hanya sebagai tanda seorang kakak yang ingin melindungi adiknya. Agar tidak terjadi apa-apa." gumamnya sambil terus berjalan mondar-mandir antara meja ke pintu.
Di saat dia sedang sibuk bertanya pada diri sendiri, tiba-tiba Brandon dikagetkan dengan suara dering telepon. Brandon pun bergegas mengangkat gagang telepon.
"Pak, Bu Zakia ingin bertemu dengan Bapak. Apa sudah diperbolehkan masuk?" tanya Lala melalui saluran telepon.
"Hah! Zakia, mau apalagi dia datang ke sini?" gumam Brandon yang masih bisa didengar oleh Lala karena gagang telepon masih digenggamnya.
"Katanya beliau sudah ada janji dengan Bapak," sahut Lala seraya memutar bola matanya.
"Buat janji kok bisa lupa! Dasar laki-laki, semuanya mau."
"Ya, sudah. Suruh dia masuk!" perintah Brandon akhirnya, sebenarnya dia tidak ingin bertemu dengan siapapun di saat pikirannya sedang kacau.
Kia masuk ke ruangan itu dengan senyum mengembang.
"Siang, Pak Brandon!" sapa Kia begitu memasuki ruangan Brandon.
"Hm, siang." sahut Brandon datar.
"Nanti malam kita jadi berangkat bersama atau bagaimana?" tanya Kia terus terang seraya langsung menghempaskan bobot tubuhnya ke kursi.
"Hah! Tanggal berapa sekarang?" Brandon benar-benar lupa akan rencananya pergi ke Medan, untuk survei lokasi yang akan digunakan sebagai cabang pemasaran.
__ADS_1
"Tanggal dua belas, Pak. Apa Bapak sudah lupa? Padahal kemarin kita baru saja membahasnya." tanya Kia dengan nada mengejek.
"Maaf, banyak yang mau ditangani jadi kurang fokus." elak Brandon, tidak mau mengakui jika dirinya lupa akan jadwal kunjungannya ke Medan.
"Ok. Bagaimana dengan keberangkatan kita nanti, Pak? Besok pagi kita harus menemui mereka,"
"Sebentar."
Brandon langsung menghubungi sekretarisnya untuk menanyakan tiket pesawat untuk penerbangan ke Medan.
"La, tiket ke Medan sudah ada?"
"Sudah, Pak. Untuk penerbangan sore ini jam empat." jelas Lala seraya menyerahkan tiket pesawat pada atasannya itu.
"Cuma satu?"
Brandon memutar kepalanya untuk melihat ke arah Kia.
"Sepertinya kita harus berangkat terpisah, tiket saya untuk penerbangan sore. Bagaimana? Kamu sudah beli tiketnya?" tanya Brandon pada Kia.
"Sudah, Pak. Siang ini jam dua, saya akan berangkat. Maksud saya ke sini untuk mengingatkan Bapak saja," ucap Kia.
Kia ingin mengajak Brandon pergi bersama, dia sudah menyiapkan dua tiket pesawat. Akan tetapi melihat Brandon yang sudah memiliki tiket, dia mengurungkan niatnya.
"Sudah waktunya makan siang. Kalau Bapak tidak sibuk, saya ingin mengajak Pak Brandon untuk makan siang bersama," ajak Kia tanpa malu-malu.
Kia sudah terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan, sehingga dia selalu menunjukkan hal itu. Agar orang yang diminta untuk mengabulkan keinginannya tahu.
"Maaf, Kia! Saya sudah ada janji makan siang bersama teman dari luar kota. Saya permisi!" tolak Brandon seraya berjalan meninggalkan ruangan itu. Brandon sebenarnya ingin menghindari Kia, tetapi saat ini dia sedang terikat kontrak dengan perusahaan orang tua Kia. Sehingga dia tidak bisa dengan bebas menolak keinginan Kia.
__ADS_1
*
*
*Sambil menunggu GiBrand up, sebaiknya baca juga karya recehku yang lain. Soalnya saling bertautan, walaupun beda MC.
Kisah pernikahan Ary dengan Rendy serta kawan-kawannya dikemas dalam karya dengan judul "Sepenggal Kisah Ary".
Kisah pernikahan Ary dengan Alex dikemas, dengan judul "Menikahi Duren Ansa".
Kisah Rahma dan teman-temannya, dengan judul "Menggapai Mimpi".
Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak🤗🤗🤗
__ADS_1