
Perbincangan cukup alot karena perbedaan pendapat dan keinginan. Brandon dan keluarganya meminta pernikahan secepatnya, mengingat usia Brandon yang tak lagi muda. Sedangkan pak Chandra meminta agar menunggu Gita menyelesaikan pendidikan spesialisasinya. Pak Chandra menginginkan nantinya Gita yang akan mengurus rumah sakitnya dan Brandon mengurus usaha perkebunannya.
Mami Brandon keberatan jika nantinya Brandon tinggal di Sumatera. Brandon anak satu-satunya, sehingga sulit baginya jauh dari sang anak. Begitu juga dengan pak Chandra dan istrinya, mereka juga hanya memiliki Gita sebagai penerus keluarga.
Terjadi perdebatan yang sangat alot dari kedua keluarga yang akan berbesan tersebut. Masing-masing tetap kekeh pada keputusannya, tidak ada yang mau mengalah.
"Pokoknya Gita dan Brandon nanti tinggal bersama kami. Titik!" kata pak Chandra.
"Tidak bisa dong! Dimana-mana anak perempuan itu ngikut dimana suaminya tinggal. Mana bisa seperti itu, laki-laki numpang di rumah mertuanya!" sanggah mami Brandon, ibu Maria.
"Kenapa tidak bisa? Sekarang jaman sudah modern, mana ada harus si perempuan ngikut laki-laki. Banyak kok laki-laki yang tinggal sama mertuanya. Tidak masalah tuh!" ketus mama Hotma tidak mau kalah.
"Setahu saya, anak perempuan itu mengikuti kemanapun suaminya pergi. Karena kewajiban orang tua pada anak perempuannya itu lepas begitu menikah. Kewajiban orang tua berpindah tangan pada suami si anak tadi."
"Jadi, biar bagaimanapun seorang wanita harus berada di mana suaminya tinggal. Walaupun hanya lauk garam saja makannya. Jika sudah memutuskan untuk menikahkan anak gadisnya, maka orang tua pun harus bersiap untuk kehilangan, jika anak gadisnya dibawa sang suami pergi." ucap pak Gumilar mencoba menengahi kedua keluarga itu.
"Eh, kamu diam saja! Yang punya anak itu saya, jadi anda diam saja!" bentak mama Hotma
Pak Gumilar terdiam dibentak oleh mama Hotma bukan karena takut, akan tetapi merasa lebih baik tidak usah campur tangan. Pak Gumilar tetap tersenyum diperlakukan tidak baik oleh tuan rumah.
"Mau sampai kapan kalian saling bertahan dengan keputusan kalian yang tidak masuk akal? Bukankah lebih baik kita panggil ustadz, biar tahu bagaimana hukum anak wanita yang dinikahi oleh seorang laki-laki. Apakah dia tetap hak milik orang tuanya atau hak milik laki-laki yang menikahinya?" ucap Gita dengan suara tinggi karena melihat perdebatan mereka.
Padahal paman Gumilar sudah berulang kali menjelaskan tentang hak dan kewajiban suami istri. Selain itu dia juga menjelaskan kewajiban anak pada orang tuanya. Akan tetapi, orang tua Gita serta ibu Maria tetap berdebat.
Gita meminta pada karyawannya untuk memanggil salah seorang ustadz yang dituakan di kampung itu. Dia tidak ingin kedua orang tuanya dan orang tua Brandon bermusuhan
Sepuluh menit kemudian, sang ustadz datang. Beliau melerai perdebatan antara kedua keluarga itu.
Mereka terdiam mendengar tausiah dari ustadz yang berusia seumuran dengan ompung Norma. Pak Chandra dan mama Hotma mulai mencerna setiap patah kata yang terucap oleh ustadz tersebut. Dalam hati mereka membenarkan ucapan pak Gumilar tadi.
__ADS_1
"Nah, sekarang bagaimana? Masih mau berdebat nantinya akan tinggal dimana?" tanya pak ustadz sembari tersenyum.
"Nanti yang akan menjalani pernikahan 'kan anak-anak, kenapa tidak kita kembalikan kepada mereka? Biarkan mereka memutuskan hendak tinggal dimana, asalkan sudah sah menurut agama dan negara. Oleh karena itu, buatlah walimahan walaupun sederhana. Agar semua orang tahu kalau anak kita sudah menikah." lanjut pak ustadz.
Mereka semua yang ada di ruang tamu duduk diam tak ada yang berani bersuara. Pengetahuan agama yang minim membuat mereka saling bertekak satu sama lainnya. Memperebutkan anak jika telah menikah nantinya.
"Kami minta maaf, Ustadz. Gegara kami, waktu istirahat Ustadz jadi terganggu. Sekali lagi maaf ya ustadz!" pinta pak Chandra menahan malu.
"Jangan meminta maaf pada saya! Minta maaflah pada calon besan kalian. Saling memaafkan itu bukanlah hal yang hina, dia malah bisa jadi penolong kalian di akhirat nanti!" nasehat pak ustadz sembari berdiri hendak pamit pada tuan rumah.
Sepeninggal ustadz, pak Chandra meminta maaf duluan pada mami Brandon dan pak Gumilar. Dia sangat malu sekali pada calon besannya tersebut. Sudah berulangkali diberitahu masih merasa paling benar. Sehingga keributan pun tak terelakkan lagi.
Setelah saling memaafkan mereka pun memutuskan untuk bertanya pada calon mempelai, dimana mereka nantinya akan tinggal.
"Gita belum kelar kuliahnya, Pa, Ma. Jadi kemungkinan besar kami akan tetap tinggal di Melbourne sampai kuliah Gita selesai. Lagian Bang Brandon juga baru merintis usaha di sana," jawab Gita sembari menunduk takut orang tuanya kecewa.
"Baiklah kalau itu menjadi keputusan kalian. Kalian akan tinggal dimana pun nanti, Papa minta jangan lupakan kami. Usahakan untuk tetap mengunjungi kami walaupun sebentar!" pinta pak Chandra sedih membayangkan harus melepas anak gadisnya untuk menikah.
"Itu pasti, Pa! Papa tenang saja, jika waktu kami luang. Kami akan mengusahakan agar bisa menjenguk. Iya 'kan, Bang?" jawab Gita meminta persetujuan dari calon suaminya.
"Iya, Sayang. Nanti kita buat jadwal berkunjung agar tidak berat sebelah," sahut Brandon mengiyakan perkataan calon istrinya itu.
"Sekarang Mama, Papa serta Mami tidak usah rebutan kami lagi. Kami berdua sama-sama sendiri di keluarga. Jadi lebih baik kami, tinggal terpisah dan membuat jadwal agar adil," ucap Gita kembali sembari menuang teh ke dalam gelas karena haus.
Akhirnya diperoleh kesepakatan jika pernikahan mereka dilangsungkan secepatnya. Mengingat umur Brandon serta ijin Gita yang sudah habis, maka pernikahan dilaksanakan satu Minggu lagi. Selain itu, untuk mencegah agar kejadian beberapa tahun yang lalu terulang lagi. Apalagi tadi Gita dan Brandon mengakui tinggal di kota yang sama. Tinggal dalam bangunan yang sama juga, walaupun beda pintu.
Pak Chandra mulai disibukkan dengan persiapan pernikahan secara dadakan ini. Gita mengusulkan hanya acara akad nikah, akan tetapi mama Hotma dan pak Chandra menginginkan pesta pernikahan yang mewah.
Pak Chandra menghubungi rekannya yang memiliki usaha percetakan, beliau memesan seribu surat undangan. Selain itu, pak Chandra juga menghubungi WO terkenal di kotanya.
__ADS_1
Dikarenakan pak Chandra keturunan Jawa, maka adat pernikahan yang digunakan pun adat Jawa. Mengingat besannya juga asli Jawa. Acara pernikahan dilaksanakan di kediaman pak Chandra, halaman rumah yang luas memungkinkan menampung semua tamu undangan.
Sore itu, rumah pak Chandra mendadak ramai orang-orang yang membantu untuk mempersiapkan pesta pernikahan anaknya. Banyak pohon yang ditumbangkan agar bisa memasang tenda.
*
*
*
Ada rekomendasi karya lagi nih, jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya
Judul karya: Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Author : Oktavia Hamda Zakhia
Blurb :
Apa jadinya seorang pria dengan julukan duda casanova terjerat cinta pada seorang gadis bar-bar dengan potongan rambut ala mulet mampu menggetarkan hatinya yang membeku.
Tak lupa Rolando sang putra yang selama ini begitu merindukan kasih sayang tiba-tiba tersenyum ketika di dekat gadis tersebut.
Banyak misteri yang mulai terungkap tentang jadi diri dari gadis bar-bar yang berhasil menjerat seorang duda casanova.
Dapatkah duda casanova itu mampu menaklukkan gadi itu? Misteri apa yang disembunyikan olehnya?
Ikuti kisah perjalanan mereka ....
__ADS_1