
Gita sudah berada di aula bergabung dengan teman-temannya yang akan mengikuti wisuda tahun ini. Gita berdandan senatural mungkin namun meninggalkan kesan elegan. Gita yang tidak pernah berdandan nampak cantik alami. Leonard yang saat itu juga wisuda sampai terpesona melihatnya.
"Wow, kamu tampak cantik sekali!" decak kagum Leonard.
Leonard yang sejak awal mengenal Gita sudah jatuh cinta, semakin cinta lagi melihat kecantikan Gita hari ini. Apalagi dia sudah mengetahui jika Gita masuk dalam jajaran tiga besar nilai tertinggi.
"Selamat ya! Kamu masuk dalam tiga besar. Kamu hebat!" ucap Leonard sembari menyalami tangan Gita kemudian memeluknya.
"Thanks." jawab Gita sembari melepaskan pelukan Leonard karena merasa tidak nyaman.
Gita tidak pernah mau berpelukan dengan lawan jenis, kecuali dengan ayahnya dan abangnya. Kejadian dengan Brandon disebabkan dalam kondisi tidak sadar, saking takutnya dengan gelap dan petir.
Gita memaksakan diri untuk tersenyum agar Leonard tidak tersinggung karena pelukannya ditolak.
Saat wisuda telah selesai, dia mendapat pesan agar segera menghubungi pihak kampus yang mengurus beasiswa. Lulusan tiga besar mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di kampus tersebut. Untuk jurusan dokter bisa mengambil spesialisasi atau magister.
"Sudah siap 'kan acaranya? Kita pergi merayakan kelulusan kamu sekarang?" tanya pak Chandra ketika Gita sudah tidak dikerumuni teman-temannya.
"Sudah, Pa. Mama sama Ompung mana?" sahut Gita sambil celingukan mencari dua wanita spesial dalam hidupnya.
"Mereka menunggu di mobil." jawab pak Chandra seraya menunjuk mobil yang telah disewanya selama tinggal di kota ini.
"Oke, let's go!" ajak Gita akhirnya sembari memeluk lengan sang ayah.
"Manjanya anak Papa!" ucap pak Chandra sambil mengusap-usap kepala Gita. " Biarpun manja tapi anak Papa ternyata hebat!" katanya kemudian.
Ayah dan anak itu berjalan sembari berpelukan, tanda kedekatan mereka berdua. Mereka berjalan dengan senyum yang terus mengembang karena perasaan bahagia dan bangga. Bahagia sang anak karena bisa mempersembahkan nilai yang bagus untuk orang tuanya. Bangga seorang ayah karena memiliki anak yang berprestasi.
"Kita jalan sekarang?" tanya mama Hotma begitu anak dan suaminya tiba di tempat ia menunggu.
"Ayuk!" sahut Gita sambil membuka pintu mobil.
__ADS_1
Akhirnya mereka pergi ke sebuah restoran dengan logo halal.
*
*
*
Brandon semakin dekat dengan Zaskia, anak pak Gunadi. Pak Gunadi sudah menyerahkan sepenuhnya pada Kia, untuk mengurus semua bentuk kerjasama perusahaannya dengan Rend's Comp.
Kedekatan mereka berdua membuat Lala kalang kabut seperti orang kebakaran jenggot.
Siang ini Kia bermaksud menemui Brandon, untuk membahas keberangkatan mereka ke kota Medan. Mereka akan meninjau tempat yang akan dijadikan sebagai outlet serta gudang.
"Pak Brandon ada?" tanya Kia begitu berada di depan ruangan Brandon.
"Sudah buat janji?" sahut Lala angkuh.
"Tentu saja! Bukankah kami masih terikat kontrak kerjasama? Jadi wajar saja, jika saya setiap hari datang ke sini." skak Kia, dia merasa muak dengan sikap Lala yang sok dekat dengan Brandon.
"Eh... tunggu! Main selonong aja. Dasar tamu tidak punya sopan santun!" teriak Lala ketika dilihatnya KIA sudah masuk ke ruangan Brandon.
Brandon yang saat itu sedang sibuk memeriksa laporan, tidak menyadari jika Kia sudah berada dalam satu ruangan dengannya. Dia terkejut ketika mendengar teriakan Lala yang menggelegar di depan pintu.
"Ada tamu rupanya. Sudah lama?" ujar Brandon basa-basi karena dia merasa tidak enak ketika tidak menyadari kedatangan tamunya.
"Baru saja. Silakan bereskan pekerjaan Mas Brandon dulu, saya akan menunggu!" sahut Kia dengan senyum manisnya.
"Baiklah. Tunggu sebentar, ini tidak akan lama!" ucap Brandon seraya kembali fokus pada lembaran-lembaran kertas di mejanya.
Kia langsung jatuh cinta pada Brandon ketika pertama kali dikenalkan oleh ayahnya. Awalnya Kia menolak dikenalkan oleh ayahnya. Namun, kini dia merasa bahagia karena dipaksa oleh ayahnya.
__ADS_1
Flash back on
"Kia, Daddy sudah tua. Kapan kamu akan menikah?" tanya pak Gunadi pada anak semata wayangnya.
"Kia belum bertemu dengan yang pas, Dad. Daddy sabar saja, kalau jodoh pasti bertemu!" sahut Kia seraya kembali fokus pada ponselnya.
"Daddy punya seorang kenalan. Dia memiliki kepribadian yang bagus, selain itu dia berdarah dingin dalam mengelola bisnis. Daddy ingin mengenalkan kamu dengannya. Bagaimana, hmm?" Pak Gunadi mengutarakan keinginannya untuk menjodohkan anaknya dengan Brandon.
"Daddy, sekarang bukan jaman Siti Nurbaya lagi. Kia nggak mau dijodohkan, Kia mau mencari pasangan sendiri!" tolak Kia tegas.
"Daddy mohon! Kalian tidak harus langsung menikah. Kenalan dulu baru jalani, jika cocok silakan dilanjutkan. Daddy tidak akan memaksa," bujuk pak Gunadi.
"Baiklah! Kia mau kenalan, tapi Daddy harus janji dulu. Jika Kia tidak mau lanjut jangan dipaksa!"
"Daddy janji!"
Flash back off
*
*
*
Hai, mampir dan baca yuk karya temenku. Jangan lupa tinggalkan jejak ya🤗
Judul: Antara Jeritan dan Harapan
Napen: Ibn Muchsin
Blurb :
__ADS_1
Seorang siswa SMA yang punya penyakit terbelakang mental bernama Soejono alias Jono hidup dengan kemiskinan yang terpaksa harus mencari nafkah untuk keluarganya dengan cara yang haram, sebagai pengedar narkoba untuk membeli obat untuk ibundanya yang sakit-sakitan, disamping itu ayahnya juga sudah lama wafat dan dia adalah anak pertama dari 4 bersaudara yang keseluruhannya juga terbelakang mental, Tak hanya itu dia juga harus dibully teman-temannya di sekolah, Alex Felixius si ketua geng di kelas XII Bahasa anak seorang pegawai Freeport yang kaya raya, dia selalu pamer dengan orang-orang di sekitarnya, dia musuh bebuyutan Jono dan dikenal sebagai trouble maker di setiap tempat, untungnya ada wanita cantik jelita bernama Salma yang tak tega melihat pengorbanannya, dan Salma pun akhirnya jatuh hati padanya