Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
32. Keputusan Ary


__ADS_3

"Aku harus meminta ijin dulu pada ayah si Twins. Kamu tahu sendiri bagaimana dia. Susah mendapatkan ijin keluar. Kalau aku menemui mereka, itu berarti aku harus ke Sumatera. Sedangkan ke makam Rendy saja dia sudah cemburu. Apalagi menemui keluarganya. Huftt!!" Ary bingung harus bagaimana. Di satu sisi dia tidak ingin suaminya semakin cemburu karena dia masih berhubungan dengan keluarga mantan suaminya. Akan tetapi dia juga tidak ingin Alex semakin marah karena harta sang istri lebih banyak.


Alex tidak memahami jika perpisahan karena meninggal itu tidak mudah untuk bangkit, move on. Lima tahun Ary mencoba melupakan Rendy, akan tetapi sampai dia menikah pun dia masih menempatkan Rendy di sudut hatinya. Bahkan dia juga pernah memberitahukan pada Alex jika tidak bisa menggantikan posisi Rendy dengan siapapun. Ary bisa menerima Alex, akan tetapi dia hanya menempati sebagian ruang kosong di hatinya.


"Ya, mau bagaimana lagi? Seperti itulah pilihan kamu! Sekarang kamu nikmati saja, cemburu kok pada orang yang sudah lama mati. Hahaha... Alex... Alex!" jawab Brandon seraya menggelengkan kepalanya seolah-olah mengejek Alex.


"Dia memang pilihanku. Walaupun dia pencemburu tapi dia imam yang baik kok. Sekarang sudah mulai belajar puasa dan mengaji. Awalnya dia 'kan hanya sholat, sekarang sudah ada kemajuan." Ary tampak sekali membela suaminya.


"Nggak marah emangnya mertua kamu?"


"Papa sih enggak masalah, soalnya dia 'kan dulunya muslim. Hanya, Mama aja masih kurang suka melihat perubahan pada diri anaknya. Aku sih diam saja, soalnya 'kan memang sejak awal beliau tidak setuju. Perlahan tapi pasti, sekarang Mama sudah mulai mau terima. Walaupun ya, begitulah!" cerita Ary.


"Kok malah ceritain diriku sih! Padahal mau bahas saham." lanjut Ary meringis merasa malu sendiri.


"It's ok! Nggak masalah, kamu mau cerita apa aja pasti aku akan mendengar dengan senang hati. Walaupun aku tidak bisa memberikan saran tapi kamu sudah bisa lega karena merasa bebanmu berkurang .


Ary tersenyum mendengar perkataan yang dilontarkan Brandon baru saja. Sejak pertama kali dikenalkan oleh almarhum suami pertamanya, Brandon memang sangat perhatian padanya. Walaupun begitu, Brandon tidak pernah menyatakan cintanya pada Ary. Dia selalu membantu dan menjaga Ary. Setiap ditanya kenapa dia begitu baik pada Ary, selalu dijawab menjalankan amanah.


Sebagai wanita, Ary pun sangat merasa menjadi ratu. Akan tetapi dia hanya menunggu Brandon mengutarakan perasaannya, hingga akhirnya Alex datang melamarnya. Brandon sampai saat ini masih bungkam, namun perhatiannya pada Ary tetap tidak berubah. Malah semakin siap siaga di garda terdepan membantu Ary jika dalam kesusahan.


"Kamu memang sahabat terbaik almarhum. Bukan hanya sahabat terbaik, kamu juga saudara yang bisa diandalkan." puji Ary sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.


"Kamu jangan terlalu memujiku. Aku takut menjadi lupa diri dan malah khilaf. Sehingga aku malah akan menyakiti kamu. Apa yang aku lakukan semua ini, tulus dari hatiku." sahut Brandon sembari berdiri, kemudian duduk di pinggiran meja.


"Dih, ge-er! Aku mengutarakan kenyataan yang ada, tidak aku lebih-lebihkan atau aku kurangi." balas Ary mencibir.


"Udah! Sekarang bagaimana ini? Kepemilikan saham tetap atas nama kamu seluruhnya atau sebagian untuk Gita?" sahut Brandon akhirnya.

__ADS_1


"Tetap seperti rencana awal. Dua puluh lima persen kepemilikan saham atas namaku dan dua puluh lima lagi atas nama Gita," jawab Ary kekeh tetap pada keputusannya.


"Ini berarti, dua puluh lima atas namaku, dua puluh lima Gita, dua puluh Rommy dan tiga puluh atas namamu. Tepat 'kan? Kamu yang mengurus perusahaan kamu juga pemilik saham terbesar." imbuhnya.


"Perusahaan ini sebenarnya milik Rendy, jadi yang seharusnya memiliki saham terbesar itu kamu, bukan aku. Hadehhh!" ucap Brandon menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya dengan keputusan yang Ary ambil.


"Peninggalan Rendy selain perusahaan ini 'kan masih ada. Rumah dua dan mobil juga dua. Apalagi?"


"Motor itu?"


"Motor 'kan memang sengaja aku taruh di ruko, buat alat transportasi kalian."


"Sudah ada mobil yang dihibahkan untuk operasional di ruko. Ini motor kesayangan Rendy lho, yang kamu taruh di ruko."


"Terus kalau motor kesayangan, aku harus menaikinya setiap saat begitu?" tanya Ary kesal.


"Huhh... aku naik mobil peninggalan Rendy aja, dia langsung marah. Apalagi menyimpan semua barang peninggalan Rendy, bisa-bisa setiap hari perang Bharatayuda." Ary mengadu secara tidak sadar.


"Lah... belok lagi! Sekarang ini bagaimana?"


"Saham!" tegas Brandon ketika dilihatnya Ary masih bengong seperti sedang melamun.


Brandon merasa tidak enak karena Ary menceritakan tentang kecemburuan Alex pada orang yang sudah meninggal. Dia pun merasa jika dia menikahi Ary, pasti pikiran Ary masih mengenang saat bersama Rendy. Dia tahu bagaimana dulu Rendy berjuang untuk mendapatkan Ary. Sehingga tidak mudah bagi Ary untuk melupakan Rendy begitu saja.


"Aku akan menghubungi Mama Hotma saja. Mana tahu mereka mau berkunjung ke sini dan bertemu denganku. Saat bertemu itu nanti aku akan berbicara pada mereka. Aku akan bujuk mereka sampai bisa." putus Ary akhirnya.


"Aku juga setuju seperti itu. Kalau kamu ke Sumatera menemui mereka, pasti Alex akan marah. Kalau Om Chandra dan Tante Hotma yang ke sini, 'kan tinggal beralasan apa aja agar bisa bertemu. Aku sih pengennya si Gita juga hadir, soalnya 'kan dia yang menerima. Seandainya dia hadir, bisa langsung tanda tangan di hadapan pengacara 'kan lebih enak. Lebih gampang dan gak ribet!" Brandon menyetujui pendapat Ary.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, aku pulang! Takut ada yang marah, bisa bahaya nanti." ucap Ary sambil tersenyum tipis.


"Iyaa... percaya aku! Siapa sih yang mau ditinggal sama istri kek kamu ini? Sudah cantik, baik, pinter, dan..."


"Dan...???" tanya Ary dengan alis sebelah kiri terangkat.


"Kaya... hahaha!!!" Brandon tertawa lebar, merasa ada yang lucu dengan perkataannya.


"Nggak usah ketawa! Nggak lucu juga kali." kata Ary sembari meninggalkan ruangan itu.


"Memang!" teriak Brandon kuat.


*


*


*


Yuk, sambil menunggu up mampir juga ke karya Syasyi dengan judul Istri yang Tak Dihargai.


Aisyah, seorang istri yang di jadikan pembantu di rumah suaminya sendiri. Bahkan dirinya harus menerima pernikahan suaminya dengan kekasihnya. Penghinaan kerap dia rasakan dari suami, ibu mertuanya, dan juga istri kedua suaminya. Aisyah hanya di jadikan istri yang tak di hargai oleh suaminya yang bernama Kenzi.


Namun pertemuannya dengan sang dewa penolong merubah takdirnya. Aisyah yang memiliki kulit tak terawat ( jelek ) dan penampilan kampungan berubah menjadi sosok wanita cantik dan memukau. Di tambah pertemuannya dengan orang masa lalunya yang membantu dirinya mewujudkan balas dendamnya.


Yuk ikuti kisah Aisyah dalam merubah takdirnya dan membalaskan dendamnya atas perbuatan mantan suami, mantan madunya, dan keluarga mantan suaminya.


__ADS_1


__ADS_2