
"Nggak usah malu! Memang seperti itulah perempuan pada umumnya." ucap Dandy begitu tampak rona merah di wajah Gita.
Wajar saja selama ini tidak ada laki-laki yang memuji dirinya, selain ayah dan almarhum abangnya.
"Kamu bisa aja!" ucap Gita sambil menunduk malu.
"Gue cuma ngomong apa adanya. Gue kira Lo itu tomboi karena sikap yang Lo tunjukkan ke kita 'kan benar-benar sikap seorang laki-laki. Jujur aja waktu itu Gue takut buat ngedeketin Lo. Setelah kenal Lo lebih dekat ternyata... wow girly banget. Surprise!" ungkap Dandy dengan wajah penuh kekaguman tampak begitu jelas.
Gita mengambilkan minuman kaleng yang disimpannya di dalam kulkas.
"Sorry! Aku hanya punya ini." kata Gita seraya mengangsurkan minuman kaleng pada Dandy.
"Tak apa! Terima kasih." sahut Dandy seraya mengambil minuman tersebut, kemudian membukanya.
"Sama-sama. Aku tidak pernah menyediakan makanan atau minuman karena selama ini tidak ada yang singgah ke sini."
"Oh, ya? Berarti Gue orang pertama yang bertamu ke sini?" tanya Dandy senang.
__ADS_1
"Nggak juga. Hehehe..." Gita nyengir menampakkan deretan gigi putihnya.
"Lalu?"
"Dulu sewaktu aku sakit, aku pernah memaksakan diri untuk tetap bekerja. Alhasil aku diantar pulang bosku karena pingsan di tempat kerja." aku Gita.
Sebenarnya Gita malu menceritakan pada Dandy, akan tetapi dia menceritakan itu agar tidak ada salah paham. Dia tidak mau Dandy menganggap dirinya tidak memiliki teman di kota ini.
"Itu saja?" tanya Dandy penuh prasangka.
"Iya. Memangnya mau apa? Dia itu seorang istri dan ibu rumah tangga, tidak mungkin 'kan kalau dia menginap?" jawab Gita dengan senyum meledek karena dia tahu kemana arah pikiran Dandy.
"Wah, Gue salut sama Lo. Jarang Lo anak perempuan yang mau mencari penghasilan sendiri, padahal orang tuanya mampu. Semua jempol Gue buat Lo!" ucap Dandy dengan wajah berbinar.
"Dih! Ilang dong jempolnya..." sahut Gita sambil tertawa.
"Hmm, maaf ya, Dan. Aku harus bersiap untuk magang di rumah sakit. Kamu nggak apa-apa 'kan kalau pulang sekarang?" lanjut Gita merasa tidak enak harus mengusir Dandy.
__ADS_1
"Oh, gak apa-apa! Santai aja. Gue tunggu Lo berbenah diri, Gue juga pengen tahu dimana Lo magang." Dandy berkeras hati ingin mengantar Gita.
"Ini anak aneh banget! Sedari tadi diusir juga gak sadar diri. Maksa banget jadi orang. Hii... takut"
"Aku lama lho kalau mandi dan dandan. Mending lain kali aja deh. Atau kamu bisa kapan-kapan main ke rumah sakit itu. Nanti aku kasih alamatnya," ucap Gita berharap Dandy mau pergi dari apartemennya.
"Nggak apa-apa! Gue tunggu Lo aja, soalnya Gue lagi nggak ada kesibukan, dari pada bengong sendiri. 'Kan lebih baik ngantar Lo ke rumah sakit?" rayu Dandy.
"Dasar batu! Namanya hampir mirip ma Abang. Kepala batunya juga sama. Huh... pasti Abang dulu waktu deketin Kak Ary juga kek dia."
"Baiklah kalau begitu! Aku bersiap-siap dulu." jawab Gita akhirnya. Dia mengalah bukan karena kalah tapi karena sedang malas berdebat.
Setengah jam kemudian, Gita baru keluar kamar. Penampilan Gita membuat Dandy yang sudah jenuh menunggu terpesona. Gita yang memiliki wajah cantik alami sebenarnya tidak pernah berhias diri. Akan tetapi dia tadi sengaja duduk dulu di dalam kamar, berharap Dandy menyerah dan pergi. Namun, usahanya sia-sia karena Dandy masih betah duduk di ruang tamu seorang diri.
"Sudah siap?" tanya Dandy begitu Gita keluar dari kamarnya.
"Sudah! Yuk, langsung berangkat aja. Takut terlambat." ajak Gita beralasan agar tidak diajak mampir-mampir oleh Dandy.
__ADS_1
"Ok!"