
"Kak, Gita pengen jadi dokter seperti kakak. Sebaiknya ambil spesialis apa ya?" ucap Gita.
Saat ini Ary pulang ke rumah peninggalan suaminya karena Gita menghubungi dirinya jika dia ke Yogya.
"Kalau mau jadi dokter jangan memikirkan mau ambil spesialis apa dulu. Yang penting kamu belajar saja yang rajin agar bisa masuk ke universitas yang memiliki kualitas yang bagus. Spesialisasi seorang dokter itu diambil saat kita sudah menjadi dokter."
"Dulu pertama kali masuk jurusan kedokteran, kakak belum memikirkan akan mengambil spesialisasi apa. Spesialisasi kedokteran diambil setelah kita tahu bagaimana menangani pasien. Memang ada juga beberapa dokter yang menentukan spesialisasi sebelum masuk jurusan kedokteran."
"Kakak dulu mengambil spesialisasi penyakit dalam karena banyaknya pasien mengidap penyakit dalam. Saat menghadapi pasien penyakit dalam ternyata banyak yang mengidap penyakit paru-paru. Akhirnya, aku ambil spesialis penyakit dalam dan spesialis paru-paru."
Ary menjelaskan dengan gamblang apa yang dilaluinya untuk mendapatkan gelar spesialisasi kedokteran.
Gita hanya manggut-manggut mendengar penuturan kakak iparnya.
"Saat ini yang penting kamu sekolah yang benar dan belajar yang rajin agar bisa menjadi dokter yang mumpuni," ujar Ary menasehati Gita.
"Asiyaapppp!" jawab Gita sambil mengangkat tangannya seperti seorang prajurit menghormat pada komandannya.
"Kamu ini!" ucap Ary sambil mencubit hidung Gita.
Gita langsung memeluk Ary. Bersama Ary, Gita seperti menemukan malaikat tanpa sayap. Ary banyak mengajarkan kebaikan. Mengajari apa saja yang belum diketahuinya. Ary benar-benar sosok seorang kakak idaman yang dirindukan kehadirannya.
__ADS_1
Gita tidak pernah sekalipun cerita tentang perasaannya pada siapapun, sehingga dia tidak tahu bagaimana harus bersikap. Akan tetapi, Ary bisa menyadari jika Gita menaruh hati pada sahabat suaminya, sahabat abangnya Gita. Ary tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa menasehati Gita agar lebih giat belajar. Tujuannya agar Gita bisa melupakan Brandon dan mengubur dalam-dalam perasaannya.
"Kak, jadi ya bulan depan pulang ke Sumatera. Ada yang mau dibicarakan papa sama mama, katanya penting lebih baik dibicarakan langsung,"
"Tentang harta peninggalan abang, ada beberapa usaha abang yang harus diurus. Banyak perut bergantung pada usaha abang, jadi kakak datang ya! Ya? Ya?" kata Gita membujuk Ary, jawaban Ary hanya tersenyum tipis tanpa sepatah katapun.
"Ishh, kakak kenapa cuma senyum aja sih!" rajuk Gita sambil menghentakkan kakinya.
"Kakak tidak bisa janji, Sayang! Kamu tahu sendiri, pekerjaan kakak tidak bisa ditinggal. Ini saja kakak menyempatkan untuk pulang ke sini," ujar Ary mencoba membujuk si Gita agar tidak ngambek lagi.
"Iyalah, iyaaa!" jawab Gita kesal karena Ary tidak mau berjanji datang ke Sumatera.
*
*
Sebulan kemudian Ary berkunjung ke rumah mertuanya untuk pertama kali.
Betapa terkejutnya Ary ketika diberitahu semua usaha yang telah almarhum Rendy rintis. Usaha yang mempekerjakan anak-anak putus sekolah karena alasan kemanusiaan.
Kedatangan Ary disambut hangat oleh keluarga Rendy. Hari kedua di sana, Ary dibuat terkagum-kagum dengan usaha yang telah dirintis oleh suaminya. Begitu banyaknya karyawan yang bekerja di kafe dan kerajinan tangan milik suaminya itu.
__ADS_1
Usaha yang dirintis sejak duduk di bangku SMA, sekarang menjadi usaha yang sangat besar. Usaha yang semua tenaga kerjanya anak jalanan dan anak kurang mampu itu telah berkembang dengan cepat.
"Ary, tahukah kamu? Kenapa kamu kami panggil kemari?" tanya papa Rendy.
Ary menggelengkan kepalanya sebagai tanda tidak tahu apa-apa. Tapi Ary masih duduk tenang, karena dia tidak merasa bersalah.
"Kami sangat merindukannya." kata mama Hotma sambil meneteskan air matanya.
"Ma..." kata papa Candra.
Sampai saat ini mama Hotma masih sering menangis jika mengingat Rendy. Karena kesibukannya mengurus beberapa rumah makannya yang tersebar di beberapa daerah, dia tidak pernah bisa mendampingi Rendy.
"Pada awalnya kami ingin membangun pabrik kelapa sawit, mengingat perkebunan kami semakin lama semakin bertambah. Tapi karena anak kami sudah meninggal, kami berniat membangun rumah sakit atas nama Rendy." papa Candra membuka percakapan.
Papa Candra berhenti sejenak, dadanya mulai terasa sesak. Dia menyesal karena selama Rendy hidup dia tidak pernah memberikan perhatian. Perhatian orang tua terhadap anaknya. Bahkan karena sibuknya mencari lahan perkebunan, dia tidak mengetahui jika Rendy mengidap penyakit paru-paru hingga bertahun-tahun.
"Untuk mengenangnya dan sebagai tanda permintaan maaf kami padanya, kami berniat membangun sebuah rumah sakit. Kami harap Ary setuju, karena kami akan membangunnya di atas tanah Rendy." akhirnya papa Candra menyampaikan niatnya pada Ary.
"Kenapa harus menunggu Ary, pa? Papa sama mama kan bisa langsung membangun rumah sakit tanpa menunggu Ary. Itu hak papa dan mama." kata Ary.
"Kami menunggumu karena surat wasiat yang ditulis Rendy sewaktu kamu dinas pertama kali ke Kulonprogo. Kamu masih ingat apa isinya kan?" tanya papa Candra.
__ADS_1