
Brandon memaksa ikut menjemput Gita agar bisa bertemu dengan Gita secepatnya. Walaupun mami dan pamannya melarang, Brandon tidak peduli. Dia tetap memaksa ikut pak Chandra menjemput Gita, dengan alasan menjadi sopir agar pak Chandra tidak lelah di jalan. Akhirnya pak Chandra mengijinkan Brandon ikut, dengan syarat Brandon yang mengemudikan mobil pergi pulangnya.
"Abang?" gumam Gita yang masih bisa didengar oleh sang ayah dan pujaan hatinya.
"Ayo Gita, buruan! Keburu adzan nanti," kata sang ayah sedikit berteriak.
"I-iya, Pa!" sahut Gita kemudian langsung mencium punggung tangan papanya.
Mereka langsung menuju parkiran dan masuk ke mobil. Brandon kembali menjadi sopir, sedang pak Chandra tetap pada tempatnya semula ketika berangkat. Di samping calon menantunya. Gita duduk di belakang sang ayah sembari bersandar dengan kepala bertengadah ke atas.
"Capek, hmm?" tanya Brandon dengan suara selembut mungkin.
"Hmm!" Gita hanya menjawab dengan gumaman singkat karena malas berbicara.
Setengah jam kemudian mereka berhenti di sebuah masjid karena Gita ingin buang air. Setelah masuk ke kamar mandi, ternyata Gita berubah tujuan. Yang awalnya hanya ingin buang air, akhirnya mandi agar tubuhnya tidak terasa lengket.
Bakda Maghrib mereka melanjutkan perjalanan lagi. Setelah merasa lapar, akhirnya mereka kembali berhenti untuk makan malam.
"Abang kenapa bawa mobilnya lambat banget sih? Enakan juga ngebut, biar cepat sampai terus bisa bobok kasur yang empuk!" protes Gita ketika mereka hendak turun untuk makan malam.
Brandon hanya tersenyum menjawab pertanyaan dari wanitanya. Tidak mungkin dia menjawab karena ada sang ayah yang tidak suka kebut kebutan. Pada saat berangkat tadi pagi, Brandon sering kena teguran karena sedikit mengebut.
"Malah cengar-cengir kek kuda!" gerutu Gita yang sempat tertangkap oleh rungu sang ayah.
"Kau itu Gita, sudah bagus kami jemput. Protes saja bisamu!" tegur pak Chandra dengan suara lirih tapi sangat dalam.
Gita yang tidak biasanya kena marah sang ayah pun akhirnya memilih mengatupkan mulutnya.
Saat menunggu pesanan datang, Gita mengirim pesan pada Brandon.
"Bang, nanti agak ditambah kecepatannya! Biar bisa cepat rebahan. Capek duduk mulu dari pagi."
Brandon yang merasakan ponselnya bergetar pun langsung mengeluarkan ponsel dari saku celana dan membukanya. Dia mengacungkan jempol setelah selesai membaca. Kemudian Brandon meletakkan ponsel di meja.
Setengah jam kemudian mereka melanjutkan perjalanan setelah selesai mengisi perut. Sesuai janjinya pada Gita, Brandon pun menambah kecepatan mobil yang dikemudikannya. Jalanan yang sepi ditambah mertuanya yang tertidur, membantu Brandon menepati janji.
Sekitar jam sebelas malam mereka sampai di kota kabupaten tempat kelahiran Gita. Hanya butuh waktu sekitar lima belas menit lagi mereka akan sampai di rumah.
__ADS_1
*
*
*
Gita bangun kesiangan karena kelelahan dalam perjalanan. Terlalu lama duduk membuat pinggangnya sedikit nyeri, sehingga Gita lebih banyak tidur.
"Anak gadis bangun bangkong! Nggak malu sama ayam. Ayam saja subuh hari sudah berkokok," omel mama Hotma sembari menyapu rumah.
Pak Chandra yang kebetulan keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapi, menimpali perkataan istrinya.
"Biarkan saja kenapa? Toh tidak setiap hari anak itu di rumah. Lagian dia itu capek, Ma! Sehari semalam hanya duduk saja, kau pikir nggak pegal semua badannya. Bagus kau cari tukang kusuk sana dari pada merepet akan mulutmu!" bela pak Chandra yang membuat istrinya mendengkus kesal.
Pak Chandra duduk di teras samping rumah, minum kopi sembari mengawasi anak buahnya bekerja memuat kelapa sawit.
Sekitar jam delapan pagi, Gita baru keluar dari kamarnya. Gita keluar kamar dalam keadaan sudah mandi dan wangi. Dia berjalan menuju dapur, karena meja makan terletak di sana.
Sesampainya di dapur dia langsung mengambil pinggan dan mengisinya dengan nasi dan lauk yang ada di balik tudung saji.
"Enak, ya? Anak gadis bangun tidur langsung makan," sindir mama Hotma.
"Aku yang ngandung, melahirkan, merawat dan membesarkan. Kenapa orang lain mengambilnya? Memisahkan aku dengan anakku," batin mama Hotma sedih karena tidak mau berpisah dengan anaknya.
"Jika hanya sekolah saja, dia pasti kembali. Tapi ini, dia akan tinggal bersama orang lain
Ya kalau suaminya ijin dia pulang menjengukku. Kalau tidak boleh pasti aku akan sangat kehilanganmu." Mama Hotma meneteskan air matanya setelah berulang kali berperang dengan batinnya sendiri.
Selesai memakan sarapannya, Gita mencuci piring bekas makannya tadi. Setelah mengeringkan tangannya, dia pun mendekati sang mama yang tampak melamun.
"Mama kenapa? Sejak tadi kok melamun saja, padahal tadi sempat merepet nggak jelas pada siapa. Cerita Ma, biar lega!" bujuk Gita seraya mengusap lembut lengan mamanya.
"Mama tak apa-apa. Kamu tenang saja! Oh iya, hampir saja lupa. Nanti selepas Dhuhur, Brandon dan keluarganya berkunjung ke sini. Mereka ingin merundingkan kapan pernikahanmu dilaksanakan," sahut mama Hotma.
"Iya, Ma. Tadi malam Bang Brandon juga sudah memberitahu Gita kok. Mama tenang aja, biar semua diurus oleh Brandon!"
"Kamu sudah siap untuk menikah, Boru?" tanya mama Hotma dengan hati ketar ketir.
__ADS_1
"Insyaallah siap, Ma! Mungkin dia jodoh yang dikirim Tuhan untuk Gita. Do'akan semoga acara pernikahan berjalan lancar dan kami bisa membangun keluarga sakinah mawadah warahmah," jawab Gita dengan tangan memijit pundak sang mama.
"Mama pasti do'akan kamu, tidak kamu minta pun Mama akan selalu mendo'akan," ucap mama Hotma.
Waktu yang ditunggu pun tiba, Brandon dan keluarganya datang sekitar jam satu lewat sepuluh menit.
Kedatangan mereka disambut dengan hangat oleh pak Chandra dan keluarganya. Berbagai masakan telah disediakan oleh mama Hotma. Tadi sehabis galau bersama putri kesayangan, mereka masak bersama. Asisten rumah tangga yang biasanya hanya mencuci dan menggosok pakaian pun ikut membantu. Sedangkan ompung Norma seperti biasanya, sebagai mandor dapur.
Mama Hotma menyediakan masakan khas daerahnya, ada ayam diasami (anyang ayam), labar pakis dicampur umbut rotan, arsik ikan mas serta holat. Saking banyaknya yang dimasak, Gita sampai berulang kali mengeluh dan menggerutu.
"*Mama mau buka warung ya? Tamu cuma tiga orang yang dimasak cukup untuk orang sekampung!"
"Gita capek, Mama! Sudah kenapa masaknya*?"
Pak Chandra mengajak tamunya untuk makan siang bersama terlebih dahulu, sebelum membicarakan tanggal pernikahan. Mereka tampak makan siang bersama dengan sesekali diselingi obrolan ringan. Bahkan paman Gumilar berani menggoda kedua calon pengantin.
Selesai makan siang bersama mereka duduk bersama di ruang tamu, membicarakan kapan pernikahan dilaksanakan dan dimana dilaksanakan.
*
*
*
Mampir dan baca yuk karya temenku
Judul karya: TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Author: Chika SSI
Blurb:
Liontin adalah Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di Taiwan untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Saat mendapatkan cuti pertamanya, Liontin pulang ke Indonesia untuk menerima pinangan dari kekasihnya, Rangga.
Dua minggu menikah, Liontin harus kembali ke Taiwan karena permintaan David (sang majikan). Mau tidak mau dia harus menjalani LDR dengan sang suami. Di tahun pertama pernikahan, semua baik-baik saja. Namun, suatu hari dia mendapati kenyataan pahit bahwa Rangga sudah menikah lagi dengan perempuan lain. Tak lama setelahnya ia diperkosa oleh David.
__ADS_1
Bagaimanakah Liontin melanjutkan kehidupan ketika berada di titik terendahnya? Mampukah dia melalui semua cobaan?