Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
83. Wanita Miskin


__ADS_3

"Jangan jadi anak durhaka kamu! Kami memilih wanita yang terbaik untukmu. Kita sudah mengenal dengan baik keluarga Winston. Keluarga Gladston dan Winston sama-sama keturunan bangsawan, jadi jangan buat malu keluarga!" bentak nyonya Elisabeth tampak murka.


"Tapi, Mom..."


"Tidak ada kata tapi, kecuali kamu memilih untuk melepas nama Gladston! Atau jangan-jangan wanita miskin itu telah meracuni otakmu, sehingga kamu berani melawan sekarang?" duga nyonya Elisabeth, dia menuduh Gita yang telah mempengaruhi Leonard. Padahal tidak sama sekali, Gita memilih mundur dari pada melihat ibu dan anak saling bermusuhan.


"Anggita bukan wanita miskin, Mommy!" bela Leonard dengan berani.


"Apa namanya kalau bukan wanita miskin? Kuliah karena mendapat beasiswa, kemudian bekerja di rumah sakit milik kita untuk menyambung hidup." hina nyonya Elisabeth tanpa perasaan.


Leonard tidak tahu harus berkata apalagi agar ibunya percaya, jika Gita berasal dari keluarga berada.


"Terserah, Mom!" ucap Leonard akhirnya mengakhiri perdebatan mereka.


Leonard terpaksa mengikuti keinginan ibunya untuk menemui keluarga Winston. Tak lama butuh waktu lama untuk sampai di sebuah restoran yang telah dibooking oleh sang nyonya besar, Elisabeth Gladston.


Ibu dan anak itu memasuki sebuah restoran besar dengan dekorasi mewah. Begitu mereka masuk, tampak pelayan menyambut mereka dan mengantarkannya ke ruang VIP yang telah dipesan sebelumnya.


Di ruangan itu sudah ada nyonya Winston dan putrinya, Eleanor. Nyonya Winston tampak cantik dan lebih muda dibandingkan dengan usia sebenarnya. Eleanor Winston, putrinya tampak cantik dan anggun.

__ADS_1


Leonard dan Eleanor berkenalan ala kadarnya, karena Leonard menunjukkan rasa tidak sukanya. Eleanor pun memilih diam karena hal itu. Berbeda dengan anak-anaknya, kedua wanita yang mulai memasuki usia jelita (jelang lima puluh tahun 🤭) itu tampak akrab.


Setelah berkenalan dan berbasa-basi, akhirnya mereka berempat menikmati makan siang sesuai pesanan dalam keadaan hening.


Sementara itu, Gita pergi ke dermaga St. Kilda untuk menenangkan diri. Tak ada yang mengetahui dia di dermaga itu saat ini.


Duduk di pinggir pantai, menikmati semilir angin ditemani secangkir kopi. Gita tersenyum menertawakan dirinya sendiri. Kisah cintanya yang begitu rumit membuat ia sadar, bahwa cinta tak harus memiliki. Semua keinginan kita tidak harus terwujud.


Sore hari, setelah lelah duduk dan menikmati pantai serta dermaga, Gita memutuskan meninggalkan tempat itu. Dia ingin segera pulang dan bergelung dengan selimutnya. Begitulah Gita, dia memilih menghibur dirinya dengan tidur. Baginya tidur bisa melupakan masalahnya sejenak tanpa harus merusak kesehatan.


Dengan tidur yang cukup, membuat badannya menjadi segar. Sehingga otaknya pun mudah diajak untuk berpikir dan bisa memberikan solusi yang tepat. Tidur yang cukup membuat badan sehat sehingga menghasilkan pikiran yang jernih.


"Aww... shh!" jerit Gita saat bo kongnya menyentuh lantai dermaga.


"Sorry..." ucap pria itu menggantung karena melihat wajah wanita yang ditabraknya tadi.


"Gita?" serunya kemudian setelah dapat menguasai rasa terkejutnya.


"A-abang?" seru Gita tidak kalah kagetnya.

__ADS_1


"A-apa kabar?" ucap mereka serentak.


Keduanya sama-sama tersenyum tipis kemudian tertawa lebar.


"Ladies first! Kamu duluan," ucap sang pria mempersilakan Gita duluan bicara.


"Hahaha... nggak nyangka bisa bertemu lagi. Ada angin apa gerangan, hingga sampai di sini?" ucap Gita menutupi kegugupannya dengan tawa.


"Sendiri?"


"Tidak!"


Pria itu langsung menaikkan sebelah alisnya sebagai tanda ingin tahu.


"Sama Abang sekarang! Tadi sendiri, hehehe." lanjut Gita kemudian.


"Oh, kirain!" ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kirain apa coba? Ngomong-ngomong Abang ke sini bersama siapa?" cerca Gita penasaran.

__ADS_1


"Itu mereka! Relasi bisnisku. Aku sedang dalam perjalanan bisnis di sini!"


__ADS_2