
"Em... maukah kamu mengantarkan aku ke bandara?" pinta Brandon dengan wajah memelas.
"Ini jam kerja, Bang! Aku tidak enak kalau harus ijin terlalu lama. Nanti siang aku ada kuliah juga. Bagaimana aku memberikan alasan agar mereka bisa menerimanya?" sahut Gita penuh penyesalan karena tidak bisa mengantarkan ke bandara.
"Biar aku saja yang meminta ijin pada atasan kamu. Tunjukkan dimana ruangannya!" paksa Brandon.
Padahal tadi Gita sudah pura-pura memasang wajah menyesal tidak bisa mengantar. Dia tidak menyangka jika Brandon berkeras meminta diantar. Gita yang awalnya menolak secara halus, akhirnya terpaksa mengantar Brandon ke bandara.
Gita dan Brandon ke bandara dengan menggunakan taksi. Sepanjang perjalanan, Gita membuang pandangannya ke arah jalanan. Dia sama sekali tidak mau menghadap ke arah Brandon yang duduk di sampingnya.
"Apakah kamu keberatan mengantarkan aku?" tanya Brandon karena merasa Gita yang sekarang tidak mau di dekati. Berbeda jauh dengan dua tahun yang lalu, Gita akan sangat bahagia jika berada dekat dengan dia.
"Eh... ti-tidak, Bang! Aku hanya takut terlambat ke kampus. Aku ada janji sama dosen siang ini. Beliau tidak mau menoleransi mahasiswa yang terlambat. Jadi takut saja!" jawab Gita tergagap karena diajak bicara sedang melamun.
"Hanya sampai bandara aja udah kok! Tidak usah ikut masuk untuk daftar check in."
"Perjalanan dari bandara ke kampus itu jauh, Bang! Mana cukup sejam bolak balik?" protes Gita cemberut.
"Nggak setiap hari, Gita. Nggak tiap minggu atau bulan juga. Abang 'kan baru sekali ini ke sini. Masak tidak mau antar Abang sih?" bujuk Brandon
"Berarti kamu belum maafin Abang dong kalau begitu. Iya 'kan?" imbuh Brandon seraya tangannya menyentuh dagu Gita sehingga Gita menatap mata Brandon.
Gita langsung mengalihkan pandangannya, tidak berani menatap mata Brandon. Dia tidak mau Brandon mengetahui isi hatinya saat ini.
"Si-siapa bilang, jangan su'udzon deh!" elak Gita dengan pandangan mata lurus depan. Menatap leher Brandon.
__ADS_1
"Baiklah kalau tidak mau mengaku. Kita sudah sampai! Kamu mau turun atau langsung ke kampus?" ucap Brandon mengalah.
Mereka telah sampai bandara. Gita yang saat itu melamun langsung turun ketika mobil berhenti. Tanpa sadar jika dia tadi menolak mengantarkan Brandon.
"Kamu ikut sampai check in?" tanya Brandon dengan senyum mengembang saking bahagianya. Dia tidak menyangka jika Gita akhirnya mau mengantar sampai di dalam.
Gita yang baru tersadar tidak bisa mundur lagi. Dia terpaksa mengantarkan Brandon hingga masuk untuk melakukan check in.
"Terima kasih, sudah mau antar Abang."
"Iyaa!"
Gita menyunggingkan senyum dengan terpaksa. Dia sebenarnya masih ingin berada di dekat Brandon. Akan tetapi dia takut tidak bisa mengontrol hatinya. Dia takut rasa cinta yang dikuburnya akan timbul lagi dan menjadi semakin subur. Oleh karena itu, Gita menahan perasaannya sekuat mungkin agar tidak goyah ketika di hadapan Brandon.
"Huhhh... akhirnya terbebas juga dari dia!" gumam Gita sambil membuang nafasnya dengan kasar.
Selepas kepergian Gita, senyum Brandon langsung mengembang. Ada rasa bahagia yang membuncah di da danya. Seperti ada kupu-kupu yang menggelitik dan beterbangan di hatinya.
Berbeda dengan Brandon, Gita malah uring-uringan tidak jelas. Dia tidak tahu akar masalahnya kenapa dia bisa begitu kesal hari ini. Bahkan kehadiran Dandy yang menjemput di kampus pun tak dia hiraukan.
"Anggita!'' teriak Dandy seraya melebarkan langkahnya untuk menjajari Gita.
"Muka kamu kusut banget hari ini. Kenapa?" tanya Dandy setelah langkahnya sejajar dengan Gita.
"Biarin! Kalau nggak suka lihat muka kusutku, pergi aja yang jauh." sahut Gita ketus. Mode senggol bacok on.
__ADS_1
Ia tidak tahu kenapa hari ini mudah sekali tersulut emosi. Padahal dia selama dua tahun ini dia sudah berhasil memanage emosinya. Akan tetapi hari ini, sifat dia yang ceplas-ceplos dan bar-bar kembali muncul.
"Kok marah? Fix ini pasti lagi ada masalah. Cerita biar lega!"
*
*
*
Mampir dan baca yuk karya temenku 🤗
Judul : Ibu Izinkan Aku Bahagia
Napen : Sutihat Basti Wibowo
Blurb :
Ditinggalkan oleh sang ayah dengan dalih mencari pekerjaan di usianya yang baru 2 tahun, membuat Ananda Shaka, yang kini telah berusia 6 tahun memendam kerinduan yang mendalam pada sang ayah. Setiap hari dalam angan Shaka adalah serba ayahnya. Keinginan Shaka untuk bertemu sang ayah menorehkan pilu dalam dada sang ibu.
Di tengah deruan rasa rindunya pada sang ayah, tanpa sepengetahannya ternyata sang ayah telah menceraikan ibunya lewat sepucuk surat yang dikirimkan melalui sahabat ayahnya. Kenyataan pahit itu membuat sang ibu tak berdaya. Di sisi lain, sang ayah berpesan agar Shaka tidak mencari dan menemuinya lagi.
Akankah kerinduan Shaka pada sang ayah berakhir dengan sebuah pertemuan?
__ADS_1