Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
89. Maksud Kedatangan


__ADS_3

"Kapan itu?" tanya pak Chandra penasaran, seingatnya Gita berada di Melbourne sudah empat tahun lebih.


"Sudah setahun lebih, hampir dua tahun yang lalu. Tepatnya saat Gita baru pulang dari Melbourne. Dia berada di Yogya beberapa hari, saat itu kami sedang dalam proses membuka cabang baru di Medan. Saya belum pernah ke Medan, jadi saya mengajak Gita. Akan tetapi, dia tidak mau dengan alasan masih ingin di Yogya. Dikarenakan ada temannya dari Melbourne datang ke Yogya."


"Akhirnya saya ke Medan bersama relasi, karena waktu sudah ditentukan kapan kami bertemu pihak investor di Medan. Saya di Medan hanya beberapa hari saja, ada urusan penting lainnya yang harus saya kerjakan waktu itu," cerita Brandon panjang dan lebar. Dia menceritakan semuanya, tidak ingin dipersalahkan karena tidak mampir ke rumah pak Chandra.


Pak Chandra yang mendengar cerita itu mengangguk. Saat akan berbicara, ada suara karyawannya dari pintu samping.


"Toke! Hari ini kita nimbang dimana?" teriak salah satu anggota pak Chandra dari pintu samping.


"Tanggal berapa ini rupanya?" sahut pak Chandra juga berteriak.


"Sinilah kau bentar! Tak enak ada tamu teriak-teriak macam di hutan saja kita," imbuh pak Chandra dengan diikuti gerakan melambaikan tangan.


Anggota/karyawan itupun mendatangi majikannya. Dia mengangguk pada kedua tamu majikannya itu.


"Hari ini nimbang dimana, Toke?" tanya orang itu lagi, begitu berada di depan pak Chandra.


"Kalau tak salah, kebun si Ucok Regar! Coba kau telepon dia, tanyakan kebun yang mana yang didodos (dipanen) hari ini," kata pak Chandra.

__ADS_1


"Ada pulsa nya, kau?" tanya pak Chandra kemudian setelah karyawannya itu hendak berangkat ke perkebunan kelapa sawit milik warga.


"Ada, Toke!" sahut sang karyawan.


Setelah anggotanya pergi, tak lama kemudian terdengar suara mobil berhenti di halaman. Tepatnya di bawah pohon sawit. Halaman rumah pak Chandra juga ditanami pohon sawit, tidak hanya ladang saja yang ditanami pohon sawit.


"Ahh, itu mama dan ompungnya Gita sudah pulang," seru pak Chandra sambil berdiri dari tempat duduknya. Berjalan ke pintu menyambut kepulangan istri dan mertuanya.


Brandon dan Doni pun ikut berdiri untuk menghormati tuan rumah.


"Jam berapa dari sana kalian?" tanya pak Chandra begitu istri dan mertuanya sampai di gawang pintu utama.


Betapa terkejutnya mama Hotma melihat ada dua orang tamu sedang berdiri di dekat sofa.


"Ada tamu rupanya? Ayo duduk, saya tinggal masuk sebentar ya!" ucap mama Hotma sembari terus berjalan ke arah kamarnya. Sedangkan ompung Norma duduk di sofa setelah menyalami kedua tamu.


Tak lama kemudian, mama Hotma keluar kamar dan menyalami tamunya, lalu duduk.


"Lho, kok dianggurin sih, Pa?" tegur mama Hotma ketika dilihatnya meja masih kosong.

__ADS_1


Pak Chandra cuma menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil meringis menahan malu.


"Kami baru saja tiba, Tante," sela Brandon membela pak Chandra.


"Oh, ya udah! Mama buatin minum dulu ya?" ucap mama Hotma sembari kembali berdiri dan berjalan menuju dapur.


"Berarti sudah lama juga ya, outlet cabang Medan ada?" tanya pak Chandra menyambung pembicaraan mereka yang sempat terpotong beberapa kali.


"Iya, Om. Ternyata daya beli masyarakat di Medan dan sekitarnya cukup besar. Sehingga dalam waktu singkat sudah ada dua outlet di Sumatera Utara ini," jelas Brandon.


"Wah, hebat kamu! Satunya lagi dimana, selain Medan?"


"Di daerah Kisaran, Paman," sahut Doni tanpa menunggu atasannya menjawab pertanyaan.


"Oh, Kisaran! Rame juga kok kota itu. Di manapun yang penting usaha berjalan lancar."


"Aamiin!" ucap mereka serentak.


"Sekarang ini apa tujuan kalian datang ke sini?" tanya pak Chandra akhirnya, setelah sejak tadi penasaran maksud kedatangan Brandon.

__ADS_1


__ADS_2