
Sudah beberapa hari ini Dandy tak tampak di sekitar Gita. Bahkan dia juga tidak ada di kafenya. Gita mencoba menghubungi ponselnya pun tak bisa.
"Bang, si Dandy kemana ya? Kok Gita nggak pernah melihat dia. Terus itu anak biasanya 'kan suka bolak-balik ke apartemen kok nggak nongol. Kemana dia, ya?" tanya Gita pada Brandon seraya menggeser duduknya agar lebih dekat.
Saat ini keduanya sedang duduk santai di depan televisi di ruang keluarga apartemen Gita.
"Jangan dekat-dekat, Gi! Iman Abang tak sekuat pikiranmu. Abang tidak mau kejadian beberapa tahun lalu terulang lagi," cegah Brandon ketika Gita sudah mulai menempel padanya.
"Kita nggak ngapa-ngapain juga, Bang!"
"Awalnya nggak ngapa-ngapain, kalau sudah bersentuhan jadi lengket susah lepas. Bahaya Gita! Abang belum mendapatkan restu dari Papa dan Mama. Jadi, tahan dulu ya!"
Gita akhirnya mundur dan menjaga jarak pada Brandon dengan wajah ditekuk saking kesalnya.
__ADS_1
"Abang bukan sok alim, tapi Abang hanya ingin menjaga agar tidak terulang lagi sebelum kita halal. Abang itu nggak bisa mengendalikan si boy. Kalau deket kamu bawaannya mau ndusel aja." jelas Brandon lembut, tidak ingin pujaan hatinya salah paham.
Tanpa Gita ketahui si boy sudah bangun dari tidurnya, sudah nggak sabaran pengen ndusel. Padahal dulu sewaktu Lala memamerkan si kembar yang kenyal, si boy anteng saja, tetap tidur pulas. Melihat Kia telanjang pun si boy tetap tidur pulas.
Sekarang hanya duduk berdekatan dengan Gita, si boy sudah terbangun minta dibebaskan dari kurungannya. Brandon sendiri tidak tahu kenapa bisa seperti itu.
Brandon akhirnya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi. Dia ingin menenangkan si boy agar kembali tidur. Setengah jam kemudian Brandon baru keluar dari kamar mandi.
"Abang ngapain di kamar mandi lama banget?" tanya Gita heran karena Brandon lama di kamar mandi.
"Perut Abang mules, ya? Kalau begitu Gita periksa dulu, habis itu minum obat biar nggak mules lagi," ucap Gita sembari mendekat hendak menyentuh perut Brandon.
"Jangan!" teriak Brandon spontan hingga air yang di mulutnya menyembur keluar. Brandon masih menenggak es teh-nya ketika Gita mendekati dia.
__ADS_1
"Abang-ng! Lihat Gita basah!" jerit Gita kesal karena terkena semburan dari mulut Brandon.
"Maaf, maaf ya! Abang nggak sengaja. Kamu sih Abang lagi minum diganggu. Nyembur 'kan jadinya?" sahut Brandon sembari mengambil tisu untuk mengelap wajah sang pujaan hati.
"Gita mandi aja, ya! Abang mau pulang, masih ada kerjaan yang belum kelar Abang kerjakan," pamit Brandon setelah selesai mengelap wajah Gita yang cemberut.
Gita diam saja karena masih kesal pada Brandon.
"Abang tega, habis bikin berantakan sekarang mau pulang! Nggak tanggung jawab banget sih jadi orang," omel Gita masih dengan wajah cemberutnya.
Brandon lebih baik menghindar dari pada berdekatan terus. Dia bisa tahan tapi tidak dengan si boy. Dia selalu terbangun hingga membuat Brandon susah.
"Ya udah, Gita mandi sana! Biar Abang yang ngepel lantainya ini. Habis itu Abang langsung pulang. Gimana?" tawar Brandon dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Ya udah deh kalau begitu! Aku tinggal sebentar ya, Bang. Terima kasih." Gita pun menyetujui tawaran Brandon, lalu berlari menuju kamarnya meninggalkan Brandon sendiri.
Brandon langsung mengambil kain pel, kemudian mengepel dan membereskan meja yang penuh dengan makanan berserakan. Selesai semua pekerjaannya baru Brandon meninggalkan apartemen Gita.