
"Nanti biar Gue yang bujukin dia, kalau perlu Gue ngomong langsung ke Alex!" ucap Brandon dengan percaya diri.
"Halah! Nggak yakin Gue kalau Lo bisa bujuk dia. Yang ada Lo diusir sebelum ngomong!" ejek Rommy.
"Begitu ya? Jelek banget do'a Lo! Kalau kita nggak berhasil, masa depan kita habis hanya sampai di sini."
"Ehh, jangan dong!"
"Makanya kalau ngomong itu yang baik, karena omongan itu bisa jadi do'a. Mau Lo nasib kita hancur di tangan para cecunguk kek mereka?" bentak Brandon kesal.
"Kita gak bakalan hancur, Brand! Percaya sama Gue. Ary nggak akan tinggal diam jika salah satu di antara kita dalam masalah. Walaupun dia tidak turun secara langsung, dia pasti memberikan ide yang brilian agar kita bebas dari belitan masalah." ucap Rommy sangat yakin, hal itu dikarenakan ide yang Ary berikan selama ini membuat perusahaan semakin maju dan berkembang dengan pesat.
Brandon menghirup oksigen sebanyak mungkin kemudian menghembuskan dengan perlahan. Dia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Menelaah dan memikirkan kata-kata Rommy yang ada benarnya. Otak cerdas Ary sangat membantu mereka dalam mengelola Rend's Comp. Kadang Rommy dan Brandon berpikir jika Ary adalah jelmaan Rendy. Cara berpikir Ary dalam bisnis sama persis dengan Rendy.
"Kalau begitu, Gue coba hubungi Ary dulu. Akan aku ceritakan semuanya termasuk bagaimana kita menyikapinya. Rencana apa saja yang akan kita ambil juga akan aku ceritakan. Agar Ary mau membantu kita lagi, kalau pun dia tidak bisa turun langsung." Akhirnya Brandon menghubungi Ary.
*
__ADS_1
*
*
Pak Gunadi dan Kia mendatangi kantor Rend's Comp. Mereka ingin mendengar jawaban dari Brandon secara langsung. Oleh karena itu keduanya sama-sama mendatangi kantor itu.
"Maaf Pak, Bu! Pak Brandon sudah seminggu tidak datang, masih ada urusan di luar kota. Sebaiknya Bapak dan Ibu kembali lagi besok atau lusa ketika Pak Brandon sudah masuk kerja," ucap Lala ketika melihat pak Gunadi dan putrinya hendak masuk ke ruangan Brandon.
"Kamu pasti bohong 'kan?" cerca Kia dengan mata melotot dan tangan menunjuk ke wajah Lala.
"Saya tidak berbohong, Bu. Kalau Ibu tidak percaya, mari ikuti saya!" sahut Lala seraya membuka pintu ruangan Brandon.
"Emang body ma wajahnya kek emak-emak anak sepuluh gitu kok, nggak mau dipanggil ibu. Lalu, aku panggil dia apa? Tante?" omel Lala dalam hati takut dilaporkan ke atasannya kemudian dia dipecat, karena sudah berlaku tidak ramah dan kurang ajar pada tamu.
Peraturan di perusahaan itu tidak boleh menghina dan bersikap kurang ajar pada tamu. Oleh karena itu, Lala hanya bisa membatin saja.
"Ma-maaf, Non." kata Lala sambil pura-pura tergagap takut dengan menarik ujung bibirnya tipis.
__ADS_1
"Hem!" jawab Kia angkuh.
"Tuan dan Nona, silakan dicek! Apakah ada tanda-tanda keberadaan Pak Brandon di ruangan ini?" ucap Lala setelah mereka bertiga memasuki ruangan itu.
"Gimana, Pa? Kita balik atau tunggu hingga dia datang?" tanya Kia meminta pendapat ayahnya.
"Kita pulang aja ke Guna Group, untuk apa menunggu yang tak pasti!" ujar pak Gunadi menyahuti.
Akhirnya pak Gunadi dan Kia meninggalkan ruangan Brandon tanpa pamit pada Lala. Mereka melenggang pergi begitu saja.
"Dasar nggak punya sopan santun! Bikin malu pengusaha lainnya saja tingkah kalian!" Lala kembali mengomel di batin melihat kelakuan bapak dan anak yang tidak punya malu itu.
*
*
*
__ADS_1
Maaf baru bisa up 🙏, di rumah lagi kedatangan tamu dari pihak suami. Ada kerabat yang meninggal tidak jauh dari rumah, jadi keluarga dari kampung menginap di rumah kami. Sekali lagi mohon maaf 🙏🙏🙏
Terima kasih masih dengan setia menanti kelanjutan kisah GiBrand 😘😘😘