Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
31. Kedatangan Ary ke Perusahaan


__ADS_3

"Kamu mau makan apa, hmm?" tanya Dandy dengan pandangan melihat ke buku menu.


"Apa ajalah yang penting halal!" sahut Gita datar.


Gita paling tidak suka jika membahas pacar atau hubungan khusus dengan lawan jenis. Baginya cukup sekali dia merasa sakit karena cinta. Dia tidak mau lagi jatuh cinta karena jatuh cinta itu sakit jika sendirian.


"Semua halal di sini, Neng! Namanya aja restoran halal, pemiliknya aja muslim. Gimana sih kamu, hmm?" celetuk Dandy kesal mendengar jawaban Gita yang asal.


"Sorry! Aku lupa." Gita menampakkan deretan gigi putihnya.


Satu jam kemudian mereka keluar dari kafe tersebut (setelah makan tentunya). Dandy kembali membayar makanan mereka, walaupun Gita juga memaksa ingin membayar pesanan tersebut.


"Makasih, ya! Sering-sering aja seperti ini, biar aku makin makmur." ucap Gita ketika mereka baru saja keluar dari kafe tersebut.


"Boleh sih! Tapi ada syaratnya." sahut Dandy sambil menaikturunkan alisnya, menggoda Gita.


"Apaan?"


"Selalu di sisiku."


"Ogah! Bagus juga aku beli sendiri kalau begitu." teriak Gita berjalan duluan meninggalkan Dandy.


Gita tahu Dandy memiliki rasa padanya, sejak pertukaran mahasiswa kala itu. Dandy selalu memberinya perhatian akan tetapi Gita pura-pura tidak tahu dan tidak mau tahu. Dulu mereka tidak sedekat saat ini. Gita yang saat itu selalu menjaga jarak dengan lawan jenis, membuat Dandy tidak berani mendekati.


*

__ADS_1


*


*


Brandon menghubungi Ary untuk menyampaikan jawaban dari Gita dan keluarganya. Brandon sebenarnya tidak mau dibuat pusing oleh pemilik perusahaan dan keluarganya. Rendy sebagai pemilik sudah meninggal, semua sudah diwariskan pada sang istri. Akan tetapi sang istri merasa tidak pantas menerima semua itu. Ary tidak tahu jika mantan mertuanya seorang tuan Takur di daerahnya.


Walaupun pak Chandra tidak memiliki perusahaan besar, akan tetapi hartanya tidak kalah dengan mereka. Hidup berkecukupan tidak membuat pak Chandra dan istrinya lupa diri. Hidup bersahaja dan suka berbagi sudah menjadi kebiasaan pak Chandra dan anak istrinya.


Setiap hari selalu ada hartanya yang digunakan untuk bersedekah. Pak Chandra selalu berpikir, jika dia bersedekah banyak maka semakin banyak pula rejeki yang didapat. Tidak heran harta pak Chandra semakin lama menjadi semakin banyak, bukan semakin habis. Sedekah dengan ikhlas akan melipatgandakan rejeki orang yang sedekah.


Pada awalnya sedekah itu tidak ikhlas, akan tetapi jika dilakukan setiap hari lama-kelamaan menjadi terbiasa dan ikhlas. Jika sehari saja tidak sedekah, akan terasa ada yang kurang. Seperti halnya, sholat. Awalnya dikerjakan dengan terpaksa, dilakukan tiap hari menjadi ikhlas dan terasa ada yang hilang jika ditinggalkan.


"Assalamu'alaikum!" sapa Ary seraya mendorong pintu ruangan Brandon, setelah dua kali mengetuk pintu.


"Wa'alaikumusalam, eh Bu Bos datang!"


Brandon dan Ary jarang bertemu semenjak Ary menikah lagi. Ary yang merahasiakan perusahaan peninggalan almarhum suami pertamanya, tidak berani sering meninggalkan rumah. Apalagi Ary sudah tidak bekerja lagi, jadi tidak bisa sebebas dulu lagi.


"Di sini aja, kursinya lebih tinggi jadi enak kalau mau langsung berdiri." jawab Ary seraya menunjuk kursi di depan meja Brandon.


Perut Ary yang membukit membuatnya tidak bisa bergerak leluasa. Saat ini Ary sedang hamil enam bulan. Kehamilannya yang kedua ini, tidak seperti kehamilan yang pertama. Dia lebih suka pergi sendiri, kemana pun kakinya ingin melangkah. Alex tidak melarangnya pergi asalkan anak-anak mau ditinggal dengan baby sitternya.


"Ada perkembangan apa?" tanya Ary begitu duduk.


"Gita dan keluarganya menolaknya. Aku sudah berusaha membujuk mereka. Bahkan aku menemui Gita secara langsung di Melbourne. Akan tetapi jawabannya sama dengan pak Chandra. Semua harta peninggalan Rendy adalah hak kamu."

__ADS_1


"Sekarang, semua aku kembalikan ke kamu. Mau tetap kamu hibahkan atau tidak. Aku sih ngikut aja!"


Brandon menyampaikan semua apa yang telah dikatakan oleh Gita dan ayahnya.


"Apa sebaiknya aku sendiri yang menemui mereka, ya? Tapi..."


"Iyaa, sebaiknya kamu temui mereka. Katakan apa yang menjadi ganjalan hatimu selama ini. Katakan juga apa tujuan utama kamu memberikan separuh kepemilikan saham pada Gita." potong Brandon atas kebimbangan bumil di depannya.


*


*


*


Mampir yuk ke karya Thatya0316, yang berjudul Simpanan Brondong Tajir


Saat pagi menjelang, Sevia terbangun dari tidurnya. Perlahan dia melepaskan tangan kekar yang membelit perutnya. Sevia membalikkan badannya dan mendapati Dave yang sedang tertidur pulas.


Bagaimana nanti jika aku punya anak, apa dia akan bertanggung jawab? batin Sevia.


"Jangan melihatku terus, nanti kamu terjebak dalam pesonaku!" Dave langsung membuka matanya dan mendapati Sevia sedang menatapnya dengan tatapan kosong. "Dengar! Meski kita sudah menikah, tapi kamu jangan berharap banyak padaku, karena aku sudah memiliki seseorang yang aku cintai."


"Kamu bicara seperti itu setelah mendapatkan semuanya dariku? Aku tidak keberatan jika kamu menceraikan aku sekarang juga. Lagipula pernikahan kita hanya siri." Sevia langsung bangun dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi.


Hatinya hancur berkeping-keping mendengar apa yang suaminya katakan. Meskipun benar tidak ada cinta di antara mereka, apa seharusnya Dave mengatakan hal itu setelah dia mengambil harta yang paling berharga dalam hidupnya.

__ADS_1


Tidak Sevia! Kamu tidak boleh lemah! Sudah cukup kamu dipermainkan oleh lelaki! Apapun yang terjadi dengan Dave jangan pernah memakai perasaan. Anggap saja semua itu sebagai kewajiban kamu sebagai seorang istri," batin Sevia



__ADS_2