
Gita memutuskan untuk pulang ketika hari sudah mulai gelap. Dia mendampingi kemana pun Leonard mengajak.
"Sudah mau Maghrib, sebaiknya aku pulang. Takut orang rumah mencari," Gita meminta pulang secara halus.
"Ok! Kita bisa lanjut besok 'kan?"
"Besok memang mau kemana?"
"Bagaimana kalau kita ke pantai? Rekomendasi dong pantai yang indah!" ajak Leonard antusias, dia ingin sekali jalan berdua dengan Gita.
Sudah sejak lama dia berusaha mendekati Gita, akan tetapi Gita selalu bersikap dingin dan datar. Sekarang Gita berbeda dengan Gita yang di Melbourne, di sini, di negaranya sendiri Gita lebih ramah. Walaupun ramah, Gita lebih sering menunjukkan wajah datarnya. Masih tidak mau melakukan kontak fisik walau hanya bergandengan tangan sekalipun.
"Ke Paris aja deh! Soalnya hanya di sana yang aku tahu jalan ke sana. Hehehe!" usul Gita meringis malu menampakkan deretan giginya.
"Paris?"
"Parangtritis maskudku!"
"Oh, dimana itu tepatnya?"
"Di Kabupaten Bantul. Kalau mau ke sana kita berangkat pagi dari sini. Bagaimana?" tanya Gita meminta pendapat Leonard.
"Boleh! Jam berapa kita pergi?" tanya Leonard kemudian.
"Jam delapan aku ke hotel untuk menjemput. Bisa?" sahut Gita menoleh ke arah Leonard.
"Ok, jam delapan!"
"Aku antar kamu pulang? Ini sudah mau gelap." tawar Leonard yang ditanggapi kekehan tawa renyah Anggita.
"Kok tertawa?" tanya Leonard heran.
__ADS_1
"Yang ada kalau kamu antar aku, kamu tersesat. Katanya baru pertama kali ke Yogya, tapi sudah seperti orang asli sini aja!" ledek Gita masih dengan kekehannya.
Leonard hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mendengar ledekan Gita. Ia pun membetulkan perkataan Gita.
"Sudah, ayo! Kita pulang masing-masing aja, kamu naik becak hingga hotel. Aku naik bis untuk pulang. Ok?" usul Gita agar bisa lebih cepat pulang.
"Ok!" akhirnya Leonard mengiyakan usul sang pujaan hati.
Mereka pun berpisah di depan Kantor Pos. Gita membantu Leonard untuk mendapatkan becak. Dia juga yang mengatakan alamat tujuan Leonard serta membayar ongkos becaknya.
"Thanks for to day!" ucap Leonard yang hanya diangguki oleh Gita.
Setelah Leonard pergi bersama becak yang ditumpangi, Gita pun menunggu bis yang bisa membawanya pulang.
*
*
*
Brandon segera berkemas untuk persiapan keberangkatannya ke Medan. Brandon pergi ke Medan dengan perasaan kalut. Dalam hati kecilnya dia ingin bersama Gita, melakukan perjalanan bisnis. Akan tetapi Gita sudah menolaknya mentah-mentah. Tampak sekali jika Gita sekarang enggan berada di dekatnya.
"Huhh... kenapa kamu tidak mau pergi dari pikiranku? Kamu membuat konsentrasiku pecah!" gumam Brandon kesal dengan tangan mengepal.
Brandon benar-benar tidak tahu harus bagaimana saat ini. Dia sudah meminta maaf pada Gita, tapi sepertinya Gita masih menyiksanya. Membuatnya tidak bisa tidur nyenyak setiap malam. Bahkan Brandon hampir stress beberapa hari ini karena dijauhi Gita.
Jam delapan malam, Brandon mendarat di bandara Kualanamu, Deli Serdang. Ia mencari taksi untuk membawanya ke Medan.
Satu jam kemudian, Brandon sampai di sebuah hotel berbintang. Dia memasuki kamar dan mulai membersihkan diri. Brandon memilih layanan kamar untuk makan malamnya.
"Pas kek lagunya Caca Handika. Huuftt!" gumam Brandon seraya berjalan menuju balkon, melihat indahnya langit malam.
__ADS_1
Tak lama kemudian terdengar suara bel pintu berbunyi. Pelayan hotel mengantarkan makan malamnya.
Brandon menikmati makan malam sendiri dengan tangan kiri memegang ponsel. Dia mulai menjadi stalker untuk mengetahui siapa pacar Gita.
*
*
*
Sambil menunggu up, mampir juga ke karyaku yang lain ya. Siapa tahu berkenan...
Kisah pernikahan Ary dengan Rendy serta kawan-kawannya dikemas dalam karya dengan judul "Sepenggal Kisah Ary".
Kisah pernikahan Ary dengan Alex dikemas, dengan judul "Menikahi Duren Ansa".
Kisah Rahma dan teman-temannya, dengan judul "Menggapai Mimpi".
__ADS_1
Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak 🤗😘