Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
33. Menggoda


__ADS_3

Brandon langsung memanggil sekretarisnya begitu Ary meninggalkan ruangan.


"La, dokumen yang aku minta tadi sudah ada?" tanya Brandon melalui saluran interkom.


"Bawa kemari!" lanjutnya kemudian langsung menutup telepon.


Annisa Shaquilla, biasa dipanggil Lala sudah tiga bulan menjadi sekretaris Brandon. Awalnya Brandon memakai sekretaris laki-laki, akan tetapi sekretaris tersebut enam bulan yang lalu resign karena harus meneruskan usaha keluarga. Sudah banyak sekretaris yang menggantikannya tapi hanya Lala yang sanggup bertahan dengan kerewelan Brandon.


Terdengar suara ketukan pintu, tak lama kemudian pintu terbuka dan masuklah seorang gadis. Gadis itu berwajah mirip dengan Ary, hanya beda di usia dan penampilan. Ary berhijab sedangkan Lala tidak memakai hijab. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai begitu saja hari ini.


"Permisi, Pak! Ini laporan dan dokumen yang Bapak minta tadi." ucap gadis yang biasa disapa Lala tersebut.


"Apa ada agenda dengan kolega hari ini?" tanya Brandon dengan pandangan mata tertuju pada laporan yang baru saja diterimanya.


"Untuk hari ini free, Pak. Hanya saja banyak laporan dari beberapa manajer yang tadi dititipkan ke saya, soalnya Bapak sedang kedatangan tamu," jelas Lala secara gamblang.


"Okelah kalau begitu, kamu bawa semua laporan itu ke sini!" sahut Brandon tanpa menoleh sedikitpun.


"Baik, Pak."


Lala langsung balik badan dan keluar dari ruangan itu.


"Brrr... dingin banget jadi orang. Bikin penasaran aja buat naklukin dia. Jangan panggil aku Lala kalau tidak bisa membuat si manusia es mencair!" batin Lala sambil tersenyum smirk.


Lala membuka satu kancing bajunya agar belahan dadanya dapat dilihat oleh orang nomor satu di Rend's Comp. Selama ini dia berlaku manis untuk menarik perhatian sang atasan, akan tetapi belum juga berhasil.


Lala kembali mengetuk pintu dan langsung membukanya. Dia berjalan mendekati Brandon, Lala sengaja menyerahkan laporan itu dari samping meja bukan dari depan. Dia berpura-pura menjatuhkan berkas tersebut untuk menarik perhatian Brandon.


"Bruggh..." berkas yang semula berada di tangan Lala tiba-tiba jatuh berserakan di lantai.


"Kamu bisa kerja tidak? Kalau kamu sudah bosan kerja, segera buat surat pengunduran diri!" bentak Brandon dengan wajah merah padam karena amarah.


"Maaf, Pak! Saya tidak sengaja. Saya akan membereskan laporan ini," ucap Lala sambil berjongkok di depan Brandon.


Berkas itu berserakan dimana-mana, bahkan ada yang berada di bawah kursi dan meja kerja.


Saat Lala membereskan berkas yang berserakan, Brandon tidak sengaja melihat dua buah gundukan kenyal yang sengaja dipamerkan oleh pemiliknya.


Brandon yang pernah sekali merasakan betapa enaknya gundukan kenyal tersebut, tiba-tiba membayangkan kejadian dua tahun silam. Kejadian dimana dia baru pertama kali merasakan nikmatnya dunia.


Celana Brandon tiba-tiba terasa sesak. Sudah terlalu lama dia tidak lagi merasakan buah sintal seperti yang dilihatnya. Brandon berulangkali menelan saliva sehingga jakunnya bergerak naik turun.


"Ini, Pak. Maaf atas keteledoran saya." kata Lala seraya mengulurkan berkas laporan dengan menundukkan badannya. Sehingga buah sintal itu semakin terpampang jelas di depan mata Brandon.

__ADS_1


"Apa kamu sedang menggoda saya, hmm?" bisik Brandon di telinga Lala.


Wajah Lala langsung memerah karena merasa tergelitik dengan hembusan nafas Brandon.


"Kamu jangan menyesal jika saya sampai tergoda. Saya tidak akan bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan jika sudah tergoda." lanjut Brandon seraya menghembuskan nafasnya ke tengkuk Lala.


Lala pun dengan berani menjawab bisikan atasannya yang tampan tapi dingin itu.


"Saya tidak akan menyesal bisa menjadi orang yang paling dekat dengan Bapak."


"Wanita mana yang tidak tergila-gila pada Bapak. Dari segi wajah dan fisik saja sudah membuat banyak wanita dengan sukarela melemparkan dirinya."


"Dengan kata lain, kamu juga akan melemparkan tubuhmu padaku, hmm?" tanya Brandon mulai mendekatkan wajahnya pada sekretaris tersebut.


"Dengan senang hati." Dengan wajah tertunduk malu, Lala menjawab pertanyaan Brandon.


"Berani sekali kamu. Apa kamu tidak tahu akibat dari perbuatanmu ini, hmm?"


Brandon sengaja ingin mengetahui apa tujuan sang sekretaris, dengan terus mengajaknya bicara. Padahal dalam hati kecilnya dia tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan sang sekretaris.


"Akibatnya? Memang apa yang saya lakukan, saya hanya menggoda Bapak, agar saya bisa menjadi kekasih Bapak. Apa itu salah?" tanya gadis itu dengan polosnya.


"Dasar gadis bodoh! Belum tahu dia bagaimana kejamnya dunia ini. Sepertinya bermain-main dengannya asik juga."


"Pemilik perusahaan ini, Pak."


"Kalau dia pemiliknya, berarti kamu sudah tahu statusku, bukan?"


"Bukannya Bapak masih lajang? Jadi, saya masih boleh mendekati Bapak dong. Seluruh karyawan di sini juga tahu, kalau Bapak belum pernah menikah."


"Lalu?"


Lala tersadar dia sudah terlalu jauh terseret dalam pembicaraan dengan sang atasan.


Selama percakapan mereka tadi, milik Brandon langsung tertidur ketika mendengar bagaimana gadis di depannya ingin menjadi kekasihnya. Dia kehilangan minat pada gadis yang terlalu berani menunjukkan dan mengungkapkan perasaannya.


Sebagaimana dulu ia juga tidak menyukai Gita yang terlalu agresif mendekatinya. Dia sudah membuat adik dari almarhum sahabatnya itu mundur. Sekarang dia juga ingin sekretarisnya berhenti menggodanya. Hatinya masih terpatri untuk janda sahabatnya itu, yang sekarang sudah tidak lagi menjanda.


"Permisi, Pak! Saya harus kembali bekerja. Masih banyak laporan yang belum saya kerjakan." pamit Lala ketakutan melihat mimik wajah Brandon yang menerawang entah kemana.


"Siapa yang menyuruh kamu berlama-lama di sini, hmm? Bukankah tadi itu kamu sengaja menggodaku dengan memamerkan buah da damu yang jumbo itu?" ejek Brandon dengan wajah datarnya.


Brandon sudah kembali pada sifat aslinya, datar, dingin dan tak tersentuh.

__ADS_1


*


*


*


"Siyal! Hampir saja gue dipecat tadi," cerita Lala pada teman satu kosnya.


"Kenapa Lo?"


"Tadi Gue coba godain si bos dingin yang bermuka tembok. Eh, nggak tahunya dia sudah tahu maksud Gue. Gagal deh usaha Gue buat deketin dia." jelas Lala sambil menggerutu.


"Hahaha... kasian deh Lo!" ejek teman Lala, Karmeela.


"Emang gimana tadi ceritanya kok dia bisa tahu?" lanjut Meela sembari mendekatkan duduknya dengan wajah penuh tanda tanya.


"Seperti yang Lo ajarkan tadi malam 'lah. Apalagi?" sahut Lala kesal.


"Beneran Lo ngikutin saran Gue? Nekat bener Lo jadi orang!"


"Habisnya dia dingin banget sama semua karyawan. Hanya sama Pak Rommy dan Bu Yuna dia ramah. Apalagi kalau Bu Ary datang. Senyumnya selalu mengembang, sampai kering tuh gigi kali ya." Lala menceritakan bagaimana bos besarnya itu jika di kantor.


"Siapa itu Bu Ary?" tanya Meela penasaran.


"Nih, lihat! Tadi Gue nyolong pas dia lewat di depan meja Gue." ucap Lala sambil mengangsurkan ponselnya pada Meela.


"What?"


*


*


*


Mampir dan baca yuk karya temen author 🤗


Judul : Atmosphere


Napen : Hilmihat


Adhara Andromeda, seperti namanya yang berarti bintang paling terang di antara rasi bintang. Adhara adalah gadis ceria yang selalu menerangi orang di sekitarnya. Adhara bukanlah gadis dari keluarga kaya, ia hanya gadis biasa yang berhasil masuk dalam sekolah elit. Namun, di hari pertamanya sekolah ia malah harus terjebak pada tiga laki-laki tampan yang di sebut pangeran sekolah. Masalah tak pernah henti melibatkannya pada ketiga pangeran tersebut. Hingga rasa sayang menjebak mereka, ketiga pangeran tersebut perlahan menyayangi Adhara dengan rasa yang berbeda. Sedangkan Adhara juga mulai menyayangi mereka delam berbagai arti menyayangi. Bagaimana Adhara akan menghadapi setiap masalahnya bersama tiga pangeran tersebut? Baca ceritanya agar kalian tidak penasaran siapa yang kira-kira akan menarik hati Adhara dan menjadi pelabuhan untuk gadis itu. Arche dengan sikap hangat nya, Chan dengan sikap dinginnya, Atau Antariksa dengan sikap kasarnya?


__ADS_1


__ADS_2