Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
56. Kelicikan Kia


__ADS_3

Brandon tidak minum banyak tapi badannya merasa sangat panas. Dia pun pamit kembali ke hotel, dia tidak ingin terjadi sesuatu diluar kendalinya.


"Maaf semuanya, aku harus kembali ke hotel sekarang. Besok pagi aku harus terbang ke Surabaya." Brandon pamit undur diri pada semua kolega bisnisnya yang hadir, termasuk Kia.


"Ok, Bro! Santai saja, ini hanya acara senang-senang."


"Sukses selalu, Pak Brandon!" potong salah seorang kolega dengan tangan saling bertaut.


"Terima kasih! Saya pergi duluan." Brandon meninggalkan club malam itu dengan menahan rasa panas di badannya.


Melihat Brandon berjalan meninggalkan ruangan itu, Kia pun ikut pamit dengan alasan sudah mengantuk. Senyum licik tersungging di bibir Kia setelah berbalik untuk meninggalkan ruangan itu.


Dengan sedikit berlari Kia mengejar Brandon yang menunggu taksi melintas. Setelah melihat keberadaan Brandon, Kia pun mendekati.


"Pak, saya ikut Bapak ya? Saya takut pulang ke hotel sendirian. Boleh 'kan, Pak?" kata Kia seraya menempelkan da danya di lengan Brandon.

__ADS_1


Badan Brandon seperti terkena aliran listrik kala benda kenyal itu menempel di lengannya. Agar tidak semakin tersulut bi rahi, Brandon pun melepaskan tangannya dari rengkuhan Kia.


"Maaf, sebaiknya Anda jangan seperti ini. Orang akan salah paham nanti bila melihat kita seperti ini." tolak Brandon halus seraya melepaskan belitan tangan Kia yang semakin erat.


"Saya takut, Pak! Saya ikut Bapak saja ya? Ya?" bujuk Kia semakin mempererat belitannya.


"Tidak bisa, Zaskia! Saya harus segera beristirahat, kurang enak badan." tolak Brandon sekali lagi.


"Kalau begitu kita pulang menggunakan taksi yang sama, saya antar Bapak ke hotel tempat Bapak menginap. Baru kemudian saya pulang ke penginapan saya sendiri." Kia tetap bertahan untuk ikut satu mobil dengan Brandon.


"Terserah anda!" ucap Brandon kesal sembari berjalan mendekat ke jalanan untuk memberhentikan taksi yang kebetulan melintas.


Melihat keberadaan Kia, Brandon langsung menyugar rambutnya dengan kasar seraya menghela nafas kuat dan membuangnya kasar.


Brandon menyebutkan alamat hotel yang letaknya tidak jauh dari club tersebut. Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit taksi sudah sampai di sebuah penginapan mewah.

__ADS_1


Brandon pun segera membayar tarif yang disebutkan oleh sopir kemudian turun tanpa melihat atau pun berkata pada Kia. Kia dengan sigap ikut turun dan mengikuti Brandon.


Merasa ada yang mengikuti, Brandon pun menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya dia, ternyata Kia masih mengikuti dirinya. Kembali mengguyar rambut dengan kasar dia menunggu Kia.


"Apa Lo budeg, hah? Sudah berapa kali Gue katakan jangan dekati Gue? Sekarang Lo pergi dari hadapan Gue!" teriak Brandon frustasi, badannya sudah terbakar gai rah tapi otaknya masih sadar sepenuhnya. Oleh karena itu dia harus menghindari makhluk yang namanya perempuan. Agar dia tidak mengulang kejadian beberapa tahun silam.


Kia tidak mengindahkan kata-kata Brandon, dia terus mendekati dan menempel pada Brandon. Dengan berani dia memeluk Brandon dengan erat.


"Saya takut pulang ke hotel sendirian, Pak." ucap Kia sambil terisak, pura-pura takut.


"Selama di kota ini saya tidak pernah keluar dari hotel setelah Maghrib. Saya selalu berada di hotel setiap malam. Saya takut, Pak!" lanjutnya sambil terus pura-pura terisak.


"Kalau takut keluar malam, kenapa kamu ikut pergi ke club, hmm?" tanya Brandon lembut, sikapnya mulai melunak karena pengakuan dan isak tangis Kia.


"Saya juga ingin keluar, Pak. Ingin melihat kota ini di malam hari. Saya pikir Bapak ikut, jadi saya pasti aman bersama Bapak. Itulah kenapa saya mengikuti Bapak sejak tadi," bohong Kia agar Brandon mengijinkan dirinya ikut bersama Brandon.

__ADS_1


"Lain kali, kalau tidak berani nggak usah sok berani! Tetap bertahan demi kenyamananmu sendiri." nasehat Brandon dan diangguki oleh Kia.


"Baiklah kalau begitu saya pesankan kamar untuk kamu!" Brandon pun segera menghubungi resepsionis dan memesan kamar satu lagi.


__ADS_2