
Setiap kali membutuhkan bantuan seseorang, orang yang pertama kali dihubungi oleh Gita adalah Brandon. Sehingga lama-kelamaan Brandon pun malas untuk menanggapi.
"Bang, bisa tolong antar Gita ke Wonosari? Ada pelatihan di daerah sana. Gita tak tahu tempatnya."
"Bang, bantuin Gita dong!"
"Bang, Gita kangen Kak Ary..."
Masih banyak lagi permintaan Gita yang lain. Brandon merasa jika Gita hanya mencari-cari alasan agar bisa dekat dengannya.
Tadi siang adalah permintaan Gita sekaligus penolakan Brandon untuk yang terakhir kalinya.
"Gita! Kamu disini sudah dua tahun, apa kamu tidak bisa sekali saja kamu mandiri? Jangan menyusahkan orang lain selagi kamu bisa mengerjakan semuanya sendiri!" bentak Brandon kesal, setiap hari selalu disibukkan dengan urusan Gita. Padahal urusan pekerjaan dia saat ini lebih membutuhkan perhatian darinya.
"Tapi Bang..."
"Mulai sekarang kamu minta tolong teman kamu atau lakukan sendiri. Banyak yang harus Abang urus, Gita! Perusahaan peninggalan Rendy lebih membutuhkan tenaga dan pikiranku saat ini dibanding kamu." potong Brandon seraya menunjuk ke pintu agar Gita keluar dari ruangannya.
Gita tidak menyangka jika kedatangannya kali ini mendapat penolakan secara terang-terangan dari Brandon. Selama ini walaupun sering marah dan menggerutu, Brandon akan dengan sabar mengantarkan dan menemaninya kemana saja.
"Baiklah, Bang. Gita janji tidak akan pernah menyusahkan atau mengganggu Abang lagi. Terima kasih atas bantuan Abang selama ini. Semoga Allah membalas kebaikan Abang selama ini berkali lipat," ucap Gita dengan senyum getir yang dipaksakan, dia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Brandon.
__ADS_1
Gita berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan lagi mengganggu Brandon. Bahkan dalam keadaan terdesak sekalipun.
*
*
*
Beberapa hari kemudian, Gita tampak sibuk menyiapkan ujian akhir semester genapnya. Dia mencari bahan untuk tugas-tugas yang harus dikumpulkan, sebagai persyaratan mengikuti ujian akhir semester. Selain itu dia juga harus mencari beberapa bahan untuk ujian praktek.
Gita sama sekali tidak meminta bantuan pada Brandon. Dia bersama teman-temannya berusaha mencari bahan-bahan yang dibutuhkan hingga dapat. Demi mendapatkan nilai tinggi, Gita rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Semua itu dilakukan untuk membuktikan bahwa dia bisa tanpa Brandon. Walaupun dia sering merindukan kehadiran Brandon, namun semua itu ditahannya.
Flash back on
"Kenapa memangnya?" sahut Brandon cuek, dia masih fokus pada benda elektronik di tangannya.
"Karena kalah bersaing dengan sinar cintaku pada Abang,"
"Betul, nggak?" tanya Gita sambil menaik turunkan alisnya menggoda Brandon.
"Ck, kau ini! Jangan terlalu genit pada cowok! Kek gak ada harga diri." jelas Brandon.
__ADS_1
"Gita nggak genit Abang! Cuma ke Bang Brandon aja, Gita berani gombal. Suer!" bela Gita sambil mengangkat kedua jari tangannya membentuk huruf V.
"Kalau nggak genit apa namanya? Awalnya gombalin Abang, kemudian memainkan alis seraya mengedipkan mata. Itu semua apa kalau bukan genit, hmm?"
"Ishh, selera humor Abang cetek banget!" ejek Gita.
"Kamu masih kecil, Gita! Mendingan kamu belajar aja sana, jangan ganggu Abang lagi!" usir Brandon karena kesal melihat tingkah Gita yang terlalu manja.
"Jangan salah, Bang! Biarpun Gita kecil tapi Gita sudah bisa bikin anak kecil." tantang Gita tidak merasa takut sedikitpun.
"Sudah! Mendingan kamu ke perpustakaan saja, kerjakan semua tugas kamu. Jangan kelayapan terus!" Brandon kembali mengusir Gita.
"Abang tega! Gita 'kan masih ingin di sini sama Abang. Gita masih kangen sama Abang. Masak diusir begitu saja!" gerutu Gita dengan wajah cemberut.
"Di sini bukan tempat bermain-main, Gita! Sudah kau pergi ke perpustakaan saja sana. Abang lagi banyak kerjaan!" bentak Brandon karena Gita selalu saja membantah.
"Gita ke sini bukan bermain-main. Gita kangen Bang Brandon. Gita cinta sama Abang..." Gita berkata sambil menunduk karena malu dan takut sekaligus.
"Kamu masih kecil, masa depanmu masih panjang. Jangan mikir pacaran! Nggak usah cinta-cintaan. Belajar aja belum pecus, sudah mikir cinta!"
Brandon menolak cinta Gita secara halus. Dia sudah menambatkan hatinya pada janda sahabatnya. Walaupun dia tidak berani mengungkapkan isi hatinya pada sang janda, namun dia selalu berusaha ada di setiap dibutuhkan oleh janda ting-ting tersebut.
__ADS_1
Flash back off