
Gita dan Dandy akhirnya menuju kafe yang tidak jauh dari kampus. Keduanya sama-sama tidak memiliki alat transportasi di kota ini. Alat transportasi yang ada sudah cukup memberikan kenyamanan, sehingga memutuskan lebih baik menggunakan transportasi umum dari pada membeli. Mereka berpikir di kota ini tidak akan lama.
"Rencana Lo setelah wisuda apa, hm?" tanya Dandy pada Gita begitu mereka duduk di sudut kafe.
Mereka memilih duduk di sudut dengan alasan kenyamanan.
"Ambil spesialisasi, habis itu pulang mengurus rumah sakit orang tua." jawab Gita apa adanya.
"Orang tua Lo punya rumah sakit?"
Gita menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Dandy.
"Pantas Lo kuliah di kedokteran. Ternyata ada basic dari keluarga." Dandy berbicara dengan wajah kagum.
"Nggak juga! Rumah sakit itu hanya untuk mengenang abangku. Kedua orang tuaku hanya seorang petani sawit. Mantan kakak iparku yang seorang dokter." jelas Gita seraya menyedot minumnya.
"Abang? Kamu berapa bersaudara?" tanya Dandy antusias.
"Kenapa jadi kamu interogasi aku?" Gita balik bertanya pada Dandy dengan alis bertaut.
"Sorry! Nggak ada maksud apa-apa, hanya pengen kenal lebih dekat dengan Lo aja," jawab Dandy gelagapan.
__ADS_1
Sebenarnya Dandy tertarik pada Gita sejak mereka bertemu dan berkenalan, saat momen pertukaran mahasiswa waktu itu. Akan tetapi dia tidak berani untuk mendekati karena Gita selalu bersikap dingin dan datar. Gita tidak pernah mau bercerita tentang apapun yang telah dilaluinya. Dia banyak berubah sejak Brandon memintanya untuk mandiri dan tidak merepotkan orang lain.
"Mengenal lebih dekat? Maksudnya?"
"Kita di sini tidak ada sanak keluarga, tidak ada salahnya 'kan kalau kita berteman dekat. Anggap saja keluarga!" alibi Dandy agar bisa dekat dengan Gita.
"Oh? Ok!" jawab Gita singkat karena sebenarnya dia keberatan tapi tidak memiliki alasan untuk menolak.
Dahi Dandy berkerut mendengar jawaban singkat Gita. Pikirannya dipenuhi tanda tanya karena baru kali ini dia bertemu cewek yang tidak mudah didekati.
Setelah menghabiskan makanan mereka, Dandy berinsiatif untuk membayar semua pesanan mereka tadi.
Dandy hanya melambaikan tangan agar Gita tetap duduk di tempat.
"Siapa yang bayar itu tidak penting! Lagian cuma sesekali ini. Lo nggak usah takut suatu saat nanti Gue minta bayaran!" ucap Dandy seraya tersenyum setelah membayar tagihan makanan mereka.
"Aku berasa nggak enak aja. Kita masih sama-sama minta sama orang tua jadi lebih baik bayar sendiri-sendiri. Lain halnya kalau kamu sudah kerja, aku akan dengan senang hati menerima traktiran dari kamu." tutur Gita merasa tidak enak jika makannya dibayari oleh orang lain, terlebih orang itu masih meminta dari orang tua.
"Tenang saja! Uang ini murni uangku sendiri. Sejak kuliah aku tidak pernah meminta uang pada kedua orang tuaku."
Gita tampak membulatkan matanya tanda tidak percaya.
__ADS_1
"Biasa aja kali ekspresi wajahnya!" ucap Dandy sambil tertawa.
Mereka berjalan keluar dari kafe, Dandy memaksa untuk mengantarkan Gita ke apartemen yang ditempatinya.
Gita membeli sebuah apartemen kecil sebagai tempat tinggalnya selama di Melbourne. Gita sengaja membeli sebuah apartemen karena malas jika nanti harus sering pindah kos-kosan. Dengan uang bekal yang tak seberapa, Gita nekat membeli sebuah apartemen. Walaupun dia sudah berpesan pada orang tuanya agar tidak mengirimkan uang bulanan, namun sang ayah selalu mentransfer sejumlah uang untuk anak satu-satunya itu.
Akhirnya mereka sampai juga di apartemen milik Gita.
"Mau mampir?" tawar Gita sambil membuka pintu apartemennya.
"Kalau nggak mengganggu." jawab Dandy dengan senyum mengembang karena berhasil mendekati Gita.
"Kalau hanya sebentar saja, tidak menggangu. Satu jam lagi aku harus ke rumah sakit. Aku dapat jadwal shift malam dalam seminggu ini," jelas Gita seraya mempersilakan Dandy masuk.
"Maaf, tempat tinggalku hanya seperti ini. Jauh dari kata mewah!" ucapnya ketika tampak olehnya Dandy memindai seluruh ruangan yang baru saja dimasukinya.
"Cewek banget, ya?" celetuk Dandy mengomentari suasana ruangan yang baru saja dipijaknya.
"Namanya penghuninya cewek, masak suasananya cowok!" protes Gita.
"Habis Lo itu terlalu dingin jadi cewek. Siapa sangka jika tempat tinggalnya girly. Benar 'kan?" ungkap Dandy yang langsung membuat wajah Gita langsung merona.
__ADS_1