Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
27. Maksud Kedatangan Brandon 2


__ADS_3

"Abang tidak perlu merasa bersalah. Sebenarnya orang yang seharusnya disalahkan itu Gita. Seandainya saja waktu itu Gita tidak melompat ke pangkuan Abang, pasti kejadian itu tidak akan terjadi. Sekarang begini saja kita mikirnya, misalkan waktu itu tidak terjadi apa-apa diantara kita. Apakah itu bisa menjamin kejadian di malam itu tidak akan terjadi? Jika itu sudah menjadi suratan takdir kita, pasti kejadian di malam itu akan terjadi. Entah kapan? Dimana? Dengan siapa? Itu pasti terjadi!"


"Jika memang kesucianku harus diambil Abang, itu memang sudah takdirku. Jalan hidupku. Jadi Abang tidak perlu terlalu terbebani dengan kejadian malam itu. Percayalah, aku sudah memaafkan Abang," tutur Gita bijaksana.


Seiring berjalannya waktu, sikap manja Gita perlahan berubah. Sekarang Gita menjadi sosok yang mandiri dan dewasa. Sehingga banyak kaum Adam yang mengincar dia.


Brandon yang awalnya tidak menyangka akan mendapat tanggapan seperti ini, hanya bisa ternganga karena speechless. Rasa kagum itu hadir begitu saja tanpa diketahui penyebabnya.


"Terima kasih! Abang sangat berterimakasih, kamu sudah memaafkan Abang."


"Huh... Abang kaget ternyata adik Abang sudah banyak mengalami perubahan. Sekarang kamu begitu bijaksana dalam mengambil keputusan dan menyikapi masalah hidup. Abang tidak pernah menyangka ataupun berpikir, kamu bisa bersikap dewasa seperti sekarang."


Brandon menunjukkan rasa kagumnya pada wanita yang dianggapnya childish, ternyata memiliki cara berpikir yang dewasa dan bijaksana. Benar-benar diluar dugaan.


"Abang jangan terlalu menyanjungku. Aku takut nanti akan takabur dan kembali melakukan kesalahan." ucap gadis cantik itu merendah.

__ADS_1


"Abang mengatakan apa yang Abang lihat dan rasakan. Jika kamu tidak bijaksana dan dewasa, Abang pun akan mengatakannya. Seperti waktu lalu, saat sebelum kejadian malam itu." jujur Brandon.


Kata-kata rayuan Brandon seolah membangkitkan rasa cinta yang telah lama dikubur Gita. Hatinya berdesir kala mendengar kata-kata itu yang keluar dari mulut Brandon.


"Ngng... apakah Abang hanya ingin minta maaf saja? Butuh waktu lama lho untuk sampai di sini. Kalau hanya ingin meminta maaf saja, Abang tidak perlu datang ke sini. Abang 'kan bisa pesan pada pihak kampus, agar kita bisa bertemu." tanya Gita ragu, akan tetapi keraguan itu hilang begitu saja.


"Selain ingin meminta maaf, Abang juga ingin menyampaikan amanah dari mantan kakak iparmu. Dia terus memintaku untuk menyampaikannya pada dirimu." ungkap Brandon pelan.


"Kak Ary?"


"Iya! Dia memberikan separuh kepemilikan sahamnya untuk kamu. Dia sudah memiliki suami yang kaya, hidupnya serba kecukupan. Akhirnya dia memutuskan untuk membagi sahamnya untuk kamu."


"Kenapa?"


"Ya, karena tidak mau!"

__ADS_1


"Iya, kenapa tidak mau? Harus ada alasannya, agar aku mudah menjelaskan padanya nanti!"


"Harta orang tuaku sudah banyak. Lagian itu bukan hak aku, hak kami sekeluarga. Dia mendapatkan seluruh warisan yang ada di Yogyakarta. Sedangkan peninggalan Bang Rendy yang di Sumatera itu banyak, akan tetapi ditolak kak Ary. Jadi untuk apa aku menerimanya?"


"Perkebunan milik orang tuaku luas, rumah makan, kafe, rumah kerajinan tangan dan masih banyak lagi. Semua itu seharusnya juga menjadi milik kak Ary. Tapi... kamu lihat sendiri 'kan? Tidak sepeserpun dia mau mengambilnya apalagi sampai meminta warisan" ungkap Gita dengan berapi-api.


"Berarti, kamu menolak pemberian matan kakak iparmu?" terka Brandon setelah mendengar pernyataan Gita.


"Itu bukan hak aku, Bang. Semua peninggalan Bang Rendy karena hasil keringatnya sendiri itu mutlak hak kak Ary. Tidak ada hak Gita ataupun Mama-Papa di dalamnya." Gita kembali beralasan.


Walaupun pak Chandra bukan seorang CEO yang memiliki perusahaan besar, akan tetapi pak Chandra memiliki ribuan hektar lahan perkebunan kelapa sawit dan ratusan hektar lahan pertapakan rumah. Kekayaan pak Chandra sudah bisa untuk mencukupi anak cucu. Selain itu, beberapa rumah makan milik mama Hotma juga ramai akan pengunjung.


"Sebaiknya kamu dan Ary harus bertemu agar tidak terjadi salah paham." saran Brandon karena keduanya sama-sama kekeh pada keputusannya.


"Kapan kamu akan pulang ke Indo?" imbuh Brandon seraya mengambil cangkir berisi kopi, kemudian menyesapnya pelan.

__ADS_1


"Setelah aku bisa menjadi dokter, tentunya! Yang pasti tidak sekarang atau dalam waktu dekat ini. Kenapa, Bang?"


"Bertemu dengan Ary. Agar aku tidak terlempar ke sana kemari seperti ini. Ary berkeras memberikan kepemilikan saham padamu, sedang kamu juga berkeras menolak. Jadi lebih baik kalian berdua ketemu dan bahas masalah ini. Bagaimana?"


__ADS_2