
"Bang! Abang!" teriak Gita. Sudah berulangkali dia memanggil nama Brandon yang duduk di ruang keluarga sedang melamun.
Gita akhirnya mengguncang tubuh Brandon karena sejak tadi tidak merespon panggilan darinya.
"Ehh, Gita?" Brandon terkejut, ternyata tadi sedang melamunkan sang pujaan hati menerima lamarannya.
"Hhh... ternyata cuma hayalan saja!" gumam Brandon pelan namun masih bisa tertangkap rungu Gita.
"Abang ngomong apaan sih, nggak jelas!" gerutu Gita karena Brandon hanya menggumam tanpa mau bercerita.
"Nggak! Bukan apa-apa kok, yuk kita makan. Sudah mulai dingin!" ucap Brandon mengelak sembari berjalan menuju dapur yang merangkap sebagai ruang makan.
Gita mengikuti Brandon ke belakang. Makanan yang mereka masak tadi sudah mulai dingin karena ditinggal mandi dan melamun.
__ADS_1
"Bener 'kan sudah mulai dingin," ujar Brandon saat dia mengambil bakwan di piring.
"Dingin nggak apa-apa sih, yang penting nggak basi aja!" celetuk Gita sambil menyendok nasi ke piring Brandon dan piringnya sendiri. Kemudian menambahkan sayur dan lauknya.
"Enak!" ucap Brandon setelah menyuapkan sesendok nasi beserta lauknya.
"Pasti dong! Kita masaknya 'kan penuh dengan perasaan suka cita. Jadi energi positif yang kita miliki saat memasak akan menambah cita rasa masakan. Seperti itu rahasia masakan seseorang menjadi enak, Bang!" jelas Gita sembari sesekali menyuap nasi ke mulutnya.
Akhirnya mereka menikmati makan sambil bercerita, hingga keduanya sama-sama kenyang dan menyudahi makan.
Setelah selesai mengelap tangannya, Brandon pun mengambil buket bunga dan kotak cincin yang dia letakkan di bawah mini bar dapurnya. Dia menyembunyikan keduanya di punggung, sembari melangkahkan kaki mendekati Gita.
"Gita, Abang tahu. Cukup tahu diri bahkan. Jika selama ini banyak salah Abang padamu. Semua itu bukan karena Abang sengaja ingin menyakiti kamu. Jujur, sejak kamu pergi meninggalkan Yogya untuk menimba ilmu di kota ini."
__ADS_1
"Aku yang bodoh ini tidak bisa menyadari perasaan itu. Abang malah selalu menyakiti perasaanmu dengan kata-kata pedas yang keluar dari mulutku. Abang mohon maaf. Seandainya bisa, Abang ingin mengulang dan memperbaiki semuanya. Tapi semua itu tidaklah mungkin."
"Abang hanya manusia biasa yang tidak sempurna. Oleh karena itu, Abang ingin kamu yang menyempurnakan hidup Abang. Bagaimana menurut kamu?" ucap Brandon panjang lebar tiada jeda kecuali helaan napas.
Gita hanya diam tak menjawab, masih mencerna dan memikirkan setiap kata yang terucap dari bibir Brandon.
"Anggita Nur Anggraini, maukah kamu hidup menua bersama dengan lelaki yang penuh dengan kekurangan dan kesalahan ini? Maukah kamu mendampingiku di kala susah maupun senang?" Akhirnya Brandon meneruskan ucapannya yang belum mendapat respon dari gadis pujaan hatinya.
Setelah kata terakhir terlontar dari mulut Brandon, barulah Gita tersadar jika Brandon melamarnya.
Gita bingung harus bagaimana, di satu sisi dia masih menyimpan rasa cinta untuk lelaki dihadapannya ini. Di lain sisi dia tidak ingin tersakiti lagi. Cukuplah dulu dia tersakiti, dia tidak ingin mengulang rasa sakit itu kembali.
Gita pun teringat akan kata-kata sang ayah yang tidak mau memaafkan Brandon. Sehingga semakin bertambah pula pertimbangan yang membuatnya bimbang.
__ADS_1
"Gita?" ucap Brandon sembari berdiri dengan satu kaki dilipat ke belakang, sedang tangannya terulur memegang buket bunga dan kotak cincin.
"Hhh... kalau kamu belum bisa menjawabnya sekarang. Kamu bisa menjawab besok atau lusa. Aku tidak akan memaksa," kata Brandon akhirnya setelah menunggu beberapa saat, Gita tetap diam membisu.