
Brandon pun akhirnya berubah profesi menjadi penguntit. Dia mengikuti kemanapun Gita pergi, bahkan dia rela menahan lapar demi tidak kehilangan jejak Gita.
Pagi-pagi dia mendatangi apartemen Gita, menunggu hingga Gita keluar kemudian mengikuti kemana Gita pergi. Seperti itulah yang dilakukan oleh Brandon selama seminggu ini. Sehingga dia sudah hapal semua kegiatan Gita selama seminggu ini. Tidak lupa dia mencatatnya agar waktunya tidak terbuang sia-sia.
"Abang?" tegur Gita saat melihat Brandon berdiri tak jauh dari tempatnya.
Saat ini Brandon menunggu kepulangan Gita dari kuliah. Dia tidak menyadari jika Gita mengetahui keberadaannya.
"Eh!"
"Abang ngapain di kampus Gita? Abang mau kuliah lagi?" cerocos Gita tanpa jeda.
"Ngng... iya, Abang ingin kuliah lagi," bohong Brandon agar tidak dicurigai oleh Gita.
"Mau ambil jurusan bisnis atau teknik?" tanya Gita bersemangat.
__ADS_1
Gita bersikap ramah seperti biasanya. Seperti itulah Gita, bersikap ramah pada siapapun yang dikenalnya.
"Hmm... bisnis. Iya bisnis! Abang 'kan pengusaha, jadi Abang ingin menambah ilmu lagi agar bisa mendirikan perusahaan atas nama sendiri." alibi Brandon agar Gita tidak curiga.
Brandon memang akan memulai usahanya sendiri di Melbourne, agar bisa lebih dekat lagi dengan Gita. Brandon tahu Gita masih lama lagi tinggal di kota ini. Oleh karena itu, Brandon juga ingin tinggal di kota yang sama.
"Oh, Abang sudah daftar?" tanya Gita kemudian.
Mereka masih berdiri di pintu gerbang kampus saat ini.
"Gi, apa tidak sebaiknya kita ngobrol sambil duduk di kafe? Masak ngobrol di pinggir jalan kek gini, mengganggu orang lewat nanti," ajak Brandon.
"Dimana pun itu, yang penting kamu suka dan tempatnya nyaman. Aku ikut saja!" jawab Brandon seraya tersenyum.
Akhirnya mereka berdua berjalan beriringan menuju kafe milik Dandy yang baru beberapa hari buka. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk berjalan hingga sampai di kafe Dandy.
__ADS_1
"Kamu sering ke sini?" tanya Brandon begitu mereka sampai di depan kafe.
"Kafe ini baru buka beberapa hari yang lalu. Pemiliknya orang Jakarta, dia teman sewaktu pertukaran mahasiswa di Yogya. Akhirnya kami sama-sama kuliah di sini. Sempat pulang ke Jakarta juga dianya. Sekarang buka kafe di sini," jelas Gita seraya mengajak Brandon masuk dan memilih meja yang terletak di sudut ruangan di pinggir kaca.
"Oh, masih baru. Kirain sudah lama. Tempatnya ok, sepertinya dia mengambil pangsa pasar anak muda. Dia pasti sudah pengalaman banget di bidang hotel dan restoran." puji Brandon seraya duduk.
"Ayahnya memiliki beberapa hotel bintang lima di Jakarta dan sekitarnya. Sedangkan dia, memiliki beberapa restoran dan kafe di Jakarta dan Yogyakarta. Sekarang tambah lagi di sini." Gita kembali menjelaskan, membuat ada rasa cemburu di hati Brandon.
Tak lama kemudian datang seorang waiters yang kebetulan sudah mengenal Gita sebagai teman Dandy.
"Mbak Gita mau pesan apa?" sapa sang waiters yang kebetulan berasal dari Jakarta.
"Eh, Noni! Aku pesan makanan seperti biasa aja ya!" sahut Gita sambil tersenyum ramah.
"Abang mau makan apa?" tanya Gita kemudian sembari menatap Brandon.
__ADS_1
"Apa yang recommended di sini?" tanya Brandon. "Hmm, samain aja deh kek dia!" sambungnya kemudian.
"Baik, ditunggu ya, Mbak, Mas," ucap sang waiters kemudian meninggalkan mereka berdua.