
Kia koma dan dirawat di ruang ICU, orang tuanya sangat murka pada Brandon. Pak Gunadi mengusir Brandon dari ruang tunggu. Dia terus mengancam akan melaporkan Brandon ke polisi dan menuntutnya.
"Pergi kamu dari sini! Kami tidak butuh belas kasihan dari kamu. Kami akan menuntut kamu karena telah membuat anak kami menjadi seperti ini. Sudah kehilangan janinnya, koma lagi. Suami macam apa kamu ini?" teriak pak Gunadi dengan emosi tinggi, tangannya mengepal hendak memukul sang menantu.
Brandon yang mendapat ancaman dari sang mertua memilih untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, ia langsung mengumpulkan bukti-bukti yang ada. Dia mulai menggeledah kamar Kia, memeriksa CCTV dan mengumpulkan beberapa barang lainnya yang bisa dijadikan bukti.
Bukan karena takut kalah, akan tetapi karena ia ingin membela diri dan membersihkan nama baiknya. Tidak ada bukti kekerasan fisik yang tertinggal pada tubuh Kia, sehingga dia merasa sedikit lega. Hanyalah CCTV yang memperlihatkan dia meletakkan sekeranjang sprei dan bedcover.
Hasil pemeriksaan kandungan Kia dia ambil dan simpan sebagai bukti bahwa anak dalam kandungan Kia bukanlah darah dagingnya. Brandon menemukan sebuah buku diary milik Kia, diapun mengambil lalu menyimpannya.
Setelah mengumpulkan beberapa bukti, Brandon langsung menghubungi pengacaranya. Dia ingin membahas apa yang dialaminya tadi siang saat di rumah sakit.
"Aku ingin bertanya tentang sesuatu padamu," ucap Brandon ketika pengacaranya duduk di depannya.
Saat ini Brandon sedang makan malam di sebuah restoran bersama pengacaranya. Dia sengaja mengajak bertemu dengan pengacara itu di luar rumah. Dia tidak mau mertuanya curiga dengan apa yang dilakukan untuk mengantisipasi ancaman dari sang mertua.
"Masalah apa, Pak? Kalau boleh tahu." tanya sang pengacara yang bernama Marchel.
__ADS_1
"Sebaiknya kita makan terlebih dahulu, baru kita bahas masalah ini. Silakan pesan apa yang Anda sukai Pak Marchel!"
Akhirnya Marchel pun memesan makanan yang sama dengan pesanan Brandon. Tak lama kemudian pesanan datang dan mereka menikmati makan malam dengan tenang.
"Gunadi mengancamku, katanya dia akan menuntutku. Aku hanya ingin membela diri bukan melawan beliau. Langkah apa yang harus aku ambil agar terkesan aku yang rugi menikah dengan anaknya?" kata Brandon begitu selesai meminum air putih karena makanan telah habis. Selesai makan.
"Ancaman seperti apa yang Pak Brandon maksud? Maaf bukan tidak percaya dengan cerita bapak, hanya saja ceritanya kurang detail." Marchel penasaran dengan apa yang dilakukan kliennya itu sehingga mendapat ancaman dari sang mertua.
"Kia sekarang koma dan ia juga kehilangan janinnya. Itulah yang memicu amarah Gunadi."
"Aku tidak pernah menyentuh kulitnya, mana mungkin aku melakukan KDRT padanya!" sanggah Brandon.
"Kalau boleh tahu apa penyebab Bu Kia mengalami keguguran dan koma?"
"Dia terpeleset saat mencuci. Apakah seorang suami yang menyuruh istrinya untuk mencuci termasuk kekerasan dalam rumah tangga?" tanya Brandon karena rasa penasaran yang tinggi.
"Tidak itu bukan termasuk kekerasan dalam rumah tangga. Itu adalah kecelakaan, Pak Brandon," sahut Marchel.
__ADS_1
"Sebenarnya aku juga tidak ingin melakukan semua ini. Ini semua berawal dari kebohongan Kia dan keluarganya. Seandainya saja mereka tidak berlaku licik, aku akan mencoba menerima Kia sebagai istri. Akan tetapi, cara dia yang licik agar bisa aku nikahi membuatku kecewa. Kia telah hamil sebelum menikah denganku. Dalam hukum Islam, menikahi wanita dalam keadaan hamil tidak boleh digauli."
"Agar aku tidak khilaf dan melakukan dosa karena menggauli yang haram aku sentuh, maka aku menempatkan Kia di kamar terpisah. Akan tetapi aku tetap memberinya nafkah lahir setiap bulan padanya. Setiap bulan aku mengirim uang ke rekeningnya. Apakah yang aku lakukan salah? Apakah aku termasuk suami yang dzalim?" Brandon mengakhiri ceritanya dengan pertanyaan yang membuat Marchel merinding.
Kejujuran Brandon membuatnya tercengang. Laki-laki sebaik Brandon harus mengalami kejadian seperti ini, dihujat dan disalahkan keluarga Kia tanpa mereka tahu alasan Brandon yang sebenarnya.
"Bapak tidak bersalah. Bapak tenang saja, saya akan mendampingi jika pak Gunadi benar-benar mengajukan gugatan terhadap Pak Brandon," janji Marchel.
*
*
*
Mana nih kopi dan bunga yang bikin othor semangat nulis?
Lagi pengen malak kopi ma bunga ke readers semua ðŸ¤
__ADS_1