Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
Leonard dan Eleanor 5


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama satu jam dua puluh lima menit, akhirnya Eleanor sampai juga di Sidney. Dia mencari sebuah hotel untuk menginap sementara waktu.


Eleanor berencana untuk singgah di Sidney beberapa hari saja, setelah itu dia akan pergi ke Singapura. Dia sudah merencanakan untuk kabur secara matang. Agar tidak terdeteksi oleh suami dan keluarganya. Oleh karena itu, dia selalu berpindah tempat.


Satu bulan telah berlalu, Leonard dan keluarganya disibukkan mencari keberadaan Eleanor yang pergi tanpa pamit. Bahkan kartu kredit dan debit yang diberikan oleh Leonard tidak dibawa Eleanor.


Jangan ditanya bagaimana marahnya tuan Gladston pada anak semata wayangnya itu. Awalnya tuan Gladston tidak tahu menahu akan rumah tangga anaknya yang sudah berjalan satu tahu. Setelah mendapatkan paket yang berisikan ulah bejat anaknya, kemarahan itu tidak terbendung lagi


Keluarga Winston juga tidak tahu kabar Eleanor. Sudah satu bulan Eleanor tidak memberi kabar. Jejak terakhir yang ditemukan, Eleanor berada di Sidney.


"Huekk... huekk..."


"Uhukk... uhukk..."


Leonard terbatuk setelah memuntahkan isi perutnya yang berupa cairan. Leonard tiba-tiba terbangun ketika merasakan mual yang hebat.


Badan Leonard bersandar pada dinding kamar mandi. Sudah dua hari ini, aktivitas paginya terganggu. Selain mual di pagi hari, Leonard juga tidak bisa menikmati makan dengan benar.


Setiap dihadapkan pada makanan yang terhidang di atas meja, dia selalu mual hingga berakhir lemas karena muntah.


"Apa yang terjadi denganku? Kenapa bisa seperti ini?" gumam Leonard lirih.


Sebagai dokter obgyn, dia tidak menyadari dengan apa yang terjadi dengan dirinya. Selama ini dia selalu bermain aman dengan pasangan kencannya. Jadi, dia tidak pernah berpikir jika ada perempuan karena ulahnya.


Ya, Leonard tidak mengingat apakah dia menggunakan pengaman atau tidak saat menggauli istrinya.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan?" ucap Leonard begitu tersadar dari lamunannya.


Dia baru ingat sekarang jika obat kuat yang diberikan oleh temannya, tidak hanya menambah ukuran dan kekuatan. Tapi juga menambah kualitas kecebongnya.


"Aku harus segera mencari Eleanor, jangan sampai dia pergi membawa penerus Gladston. Bisa-bisa aku dibuang oleh keluargaku jika dia hamil tanpa didampingi suami."


Leonard bergegas setelah tersadar jika bisa saja dia mengalami kehamilan simpatik. Rasa bersalahnya selama ini mungkin memicu kehamilan simpatik pada dirinya.


Pagi ini, Leonard menemui temannya yang juga spesialis obgyn.


"Bagaimana? Apa mungkin aku mengalami kehamilan simpatik?" cerca Leonard pada sahabatnya.


"Bisa jadi! Apa kamu tidak tahu obat yang aku berikan padamu waktu itu?"


"Aku baru sadar tadi, kalau obat lucknut itu tidak pantas dikonsumsi umum, apalagi aku. Tanpa itu saja dia sangat kuat, apalagi ditambah obat itu. Huhh!" ucap Leonard.


"Hahaha... makanya jadi lelaki itu jangan bo doh. Walaupun tidak cinta, seharusnya kamu menikmati tubuhnya. Syukur-syukur diberi keturunan, jadi orang tua tidak merasa dibohongi," saran sahabat Leonard.


Leonard merasa kesal karena ditertawakan oleh sang sahabat. Akan tetapi dia juga membenarkan ucapan sahabatnya.


Leonard meninggalkan ruangan itu begitu saja. Dia menuju ruang operasi karena sudah ada seorang pasien yang menunggunya.


Sementara itu, Eleanor yang tidak mau keberadaannya diketahui oleh orang lain. Eleanor bersembunyi di pulau terpencil di sebuah negara yang tidak jauh dari ibu kota negara tersebut.


"Aku kenapa, selalu terbayang wajah Leonard, seharusnya aku membencinya. Bukan malah selalu mengenang saat-saat bersama," gumam Eleanor pelan.

__ADS_1


Eleanor bekerja untuk di sebuah warung makan tak jauh dari tempatnya tinggal sekarang.


"Wahh, kalau pelayan disini bening begini, setiap hari aku rela nongkrong berjam-jam untuk menikmati wajah cantiknya!" kelakar salah satu pengunjung warung


"Benar sekali, semua pelanggan di sini pasti betah nongkrong lama. Eh, Neng! Si Eneng sudah ada calon belum?" tanya seorang pengunjung warung.


Eleanor yang tidak paham dengan ucapan penduduk asli di tempat itu, hanya menanggapi dengan senyuman.


"Senyumnya, alamak!"


*


*


*


Mampir yuk ke karya recehku yang lain



Blurb:


Mencintai wanita yang juga dicintai oleh sahabatnya, membuat Rio lebih memilih mundur dan mengubur perasaannya dalam-dalam.


Melihat wanita yang dicintainya bahagia dia pun ikut bahagia. Bahkan segala usaha dia lakukan agar sang wanita bahagia. Semua usahanya untuk membahagiakan dilakukan tanpa ada yang tahu. Cukup dirinya dan Tuhan saja yang tahu. Tanpa sedikitpun ingin memiliki sang pujaan hati. Dia memilih mundur asalkan sahabat dan pujaan hatinya bahagia.

__ADS_1


Setelah memastikan wanita pujaan hatinya bahagia, Rio pun memilih untuk mengabdikan hidupnya pada sang bunda. Setelah beberapa bulan tinggal bersama sang bunda, Rio dijodohkan dengan adik sahabatnya itu.


Apakah Rio menerima perjodohan itu atau memilih wanita lain? Yuk kawal Rio untuk menemukan dan menggapai cinta sejatinya?


__ADS_2