Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
16


__ADS_3

"Abang jahat! Hiks... hiks..." teriak Gita sambil terisak.


"Maaf, Abang khilaf!" sahut Brandon seraya memeluk Gita guna memberi ketenangan.


"Kalau Abang nggak cinta Gita kenapa Abang lakukan ini pada Gita?" tanya Gita sendu, matanya bengkak karena lelah menangis.


Sebelum terjadi penyatuan, Gita berulangkali memberontak dan melakukan penolakan. Akan tetapi tenaga Brandon lebih kuat. Laki-laki berusia matang itu seolah gelap mata karena dipenuhi oleh naf su. Sehingga penyatuan itu tidak bisa dihindari lagi.


Brandon tidak bisa mengontrol hasratnya saat Gita tiba-tiba duduk di pangkuan menimpa barang antik. Milik Brandon langsung terbangun begitu bersentuhan dengan sarangnya.


"Abang beneran minta maaf. Sebaiknya kamu membersihkan diri, setelah itu Abang akan mengantarkan kamu pulang," ujar Brandon dingin. Dalam hati kecil Brandon dia menyalahkan Gita yang tiba-tiba melompat di pangkuannya sehingga membangunkan singa lapar.


"Dasar tidak punya hati! Menyesal aku jatuh cinta padamu. Jika aku tahu sifat aslimu seperti ini, aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu. Tapi... jatuh cinta 'kan datang tanpa kita pinta. Ya Allah, ampuni hamba yang telah mencintai makhluk Mu melebihi cintaku pada Mu ya Rabb!" Gita terisak menahan sakit dan harus menelan kekecewaan bersamaan.


Sakit dan kecewa karena mahkotanya terenggut paksa oleh orang yang dikagumi dan dicintainya. Di mata Gita, Brandon tidak ubahnya seorang playboy yang tidak punya hati. Bagai serigala berbulu domba, bertingkah laku dan bertutur kata lembut, akan tetapi dia akan memangsa saat lawan lengah.


Gita berusaha berjalan walaupun tertatih karena merasakan intinya yang sakit. Dia akhirnya masuk ke kamar mandi dan menumpahkan air matanya. Dia menggosok tubuhnya kuat hingga kulitnya memerah. Dia merasa dirinya kotor dan menjijikkan.

__ADS_1


Gita keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih baik. Sebagai seorang calon dokter, Gita tahu apa yang harus dilakukannya untuk mengurangi rasa sakit pada intinya. Sehingga dia keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar.


Saat melihat jam yang tergantung di dinding, Gita pun memilih membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk. Dia tidak mau pulang ke rumah di tengah malam menjelang pagi. Pasti dia akan digerebek atau diusir warga.


"Ck, malah tidur lagi!" gerutu Brandon ketika dilihatnya Gita sudah tertidur di atas ranjangnya.


Brandon melirik sekilas jam yang masih melingkar di pergelangan tangannya.


"Sudah jam satu pagi. Pantas dia kembali tidur." gumamnya sembari meninggalkan kamar.


"Rend, maafin Gue. Gue udah rusak adik Lo. Gue juga tidak tahu kenapa Gue bisa lakuin itu ke adik Lo. Padahal selama ini Gue ngejagain dia, agar Lo nggak kecewa sama Gue. Ternyata Gue... Gue malah ngerusaknya!"


Brandon tergugu penuh penyesalan. Dia selama ini telah menganggap Gita sebagai adik sendiri. Akan tetapi naf su telah menguasai dirinya hingga adik yang seharusnya dijaga malah dirusaknya.


Satu Minggu telah berlalu...


Selama satu Minggu itu Gita tidak pernah sekalipun menghubungi Brandon. Setiap kali Brandon menghubunginya, dia memilih untuk abai. Sehingga selama seminggu penuh mereka tidak ada saling bertukar kabar.

__ADS_1


Gita akhirnya berangkat ke Melbourne setelah mendapat restu dari orang tuanya. Dia hanya memberitahu keluarganya saja. Dia tidak mengabari Ary karena kakak iparnya akan menikah dengan cinta pertamanya. Dia tidak mau merepotkan mantan kakak ipar kesayangan.


Brandon pun akhirnya memberanikan diri untuk mendatangi rumah Rendy yang ditempati oleh Gita.


"Bik, Gita ada?" tanya Brandon pada asisten rumah tangga yang bekerja rumah besar itu.


"Non Gita sudah berangkat ke luar negeri, Mas. Kemarin siang berangkatnya."


sahut sang art.


"Ke luar negeri?" ucap Brandon terkejut.


"Lho Mas Brandon tidak tahu? Non Gita 'kan mau kuliah di luar negeri. Sudah sebulan yang lalu lho mengurus surat-suratnya. Masak sih Mas Brandon nggak tahu? Biasanya 'kan Non Gita selalu sama jenengan." tanya bibik art keheranan.


"Dia tidak kasih tahu, Bik! Padahal seminggu yang lalu di menginap di ruko. Kok nggak ada cerita, ya?" ungkap Brandon.


Brandon merasa semakin bersalah. Dia berharap kepergian Gita bukan karena kejadian malam itu.

__ADS_1


"Bibik tahu alamatnya di luar negeri? Atau nomor yang bisa dihubungi selain no ponselnya?" desak Brandon.


"Nggak punya, Mas! Dia tidak nitip pesan apa-apa. Bahkan mejanya saja rapi, tidak ada satu kertas pun tertinggal. Semua bukunya dibawa, Mas. Sewaktu ditanya, katanya buku itu buat belajar. Sayang kalau ilmu ditinggal." cerita bibik sehingga semakin membuat Brandon semakin lesu.


__ADS_2